ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Gelombang Protes Kenya Tewaskan 31 Orang, Apa Penyebabnya?

Jumat, 11 Juli 2025 | 13:45 WIB
MF
MF
Penulis: Muhammad Firman | Editor: MF
Bentrokan antara polisi dan massa di Kenya menewaskan 31 orang.
Bentrokan antara polisi dan massa di Kenya menewaskan 31 orang. (AP Photo/Andrew Kasuku)

Jakarta, Beritasatu.com - Sedikitnya 31 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 500 orang ditangkap dalam aksi protes antipemerintah yang berlangsung di berbagai wilayah Kenya sejak Senin (7/7/2025).

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Kenya (KNCHR) mengungkapkan bahwa demonstrasi besar-besaran tersebut juga mengakibatkan lebih dari 100 orang luka-luka dan dua kasus penghilangan paksa.

Bentrokan antara massa dan aparat keamanan pecah di sejumlah titik, termasuk di ibu kota Nairobi dan kota Eldoret. Lantas, apa yang sebenarnya jadi penyebab kejadian ini?

Apa yang Melatarbelakangi Kerusuhan di Kenya?

Dilansir dari laporan Reuters, unjuk rasa yang dipicu oleh peringatan 35 tahun gerakan pro-demokrasi Saba Saba itu awalnya berlangsung damai.

ADVERTISEMENT

Namun, situasi berubah menjadi rusuh saat aparat mulai membubarkan massa menggunakan gas air mata, meriam air, dan bahkan tembakan peluru tajam.

Protes ini menjadi simbol perlawanan publik, terutama generasi muda Kenya, terhadap pemerintahan Presiden William Ruto.

Pemicu utamanya adalah kemarahan yang telah lama terpendam atas kenaikan pajak, dugaan korupsi di dalam pemerintahan, serta praktik brutal aparat keamanan.

Kematian tragis blogger politik Albert Ojwang dalam tahanan polisi bulan lalu juga menjadi pemantik kemarahan baru, menghidupkan kembali semangat perlawanan rakyat Kenya.

Penanganan Keamanan yang Disorot

Polisi Kenya menyatakan bahwa 11 orang tewas dalam protes terbaru ini. Namun, data dari KNCHR menyebut angka korban jiwa lebih tinggi.

Aparat juga disebut melakukan tindakan kekerasan, termasuk penembakan langsung terhadap demonstran di Nairobi serta pemukulan terhadap warga sipil yang terekam dalam video dan viral di media sosial.

Di beberapa wilayah lain, seperti Kiambu dan Kangemi, warga sipil dilaporkan menjadi korban kekerasan berlebihan oleh aparat.

Bahkan, markas KNCHR pun diserbu oleh kelompok tak dikenal yang diduga "preman bayaran" untuk membungkam suara oposisi menjelang demonstrasi.

Tuntutan Rakyat Kenya

Aksi demonstrasi ini bukan hanya bentuk perlawanan terhadap pajak tinggi, tetapi telah berkembang menjadi gerakan sosial yang menuntut reformasi menyeluruh.

Generasi muda Kenya yang memotori aksi ini menyuarakan ketidakpuasan terhadap sistem yang mereka nilai korup dan represif.

Seruan untuk pengunduran diri Presiden Ruto semakin nyaring terdengar di tengah meningkatnya jumlah korban jiwa dan tindakan represif dari aparat.

Situasi di Kenya menunjukkan bahwa kemarahan rakyat tidak bisa terus-menerus ditekan tanpa konsekuensi. Kombinasi faktor sosial, ekonomi, dan politik telah menciptakan bom waktu yang akhirnya meledak melalui demonstrasi besar-besaran ini.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Biarawati Katolik Asal Kenya Dideportasi dari Indonesia

Biarawati Katolik Asal Kenya Dideportasi dari Indonesia

SUMATERA UTARA

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon