ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

CIFP 2025 Bahas Kesiapan Indonesia Hadapi "Next World Order"

Rabu, 3 Desember 2025 | 11:20 WIB
YM
YM
Penulis: Yurike Metriani | Editor: YM
 Pendiri dan Ketua FPCI Dino Patti Djalal.
Pendiri dan Ketua FPCI Dino Patti Djalal. (FPCI/Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com – Foreign Policy Community of Indonesia telah menyelenggarakan Conference on Indonesian Foreign Policy 2025 (CIFP 2025) ke-9 pada Sabtu, (29/11/2025) dengan tema besar “Preparing for the Next World Order: Indonesia, the Global South, and the West”, at the Kasablanka Hall, Mall Kota Kasablanka Jakarta. Tema ini ditujukan untuk menyoroti transisi global dari tatanan dunia Barat menuju struktur baru yang penuh ketidakpastian, persaingan kekuatan besar, dan meningkatnya peran negara-negara kekuatan menengah seperti Indonesia. Konferensi ini dihadiri oleh lebih dari 6.200 pendaftar publik, lebih dari 100 mitra, dan lebih dari 70 jurnalis.

Konferensi tahunan yang dibuka oleh Pendiri dan Ketua FPCI Dino Patti Djalal, menekankan bahwa tatanan dunia berikutnya didasarkan pada 3 alasan utama, yaitu:

“Pertama, dalam tatanan dunia berikutnya, supremasi barat telah berakhir. Bukan karena mereka merosot, tetapi karena negara-negara lain yang sedang bangkit. Kedua, momen unipolar Amerika telah berakhir karena distribusi kekuatan yang baru. Apa pun yang dilakukan Amerika Serikat, ia tidak akan pernah bisa mendapatkan kembali unipolaritas yang mereka nikmati sesaat setelah 1991. Ketiga, tatanan dunia berikutnya akan ditandai dengan kebangkitan negara middle power. Kami di FPCI benar percaya bahwa kekuatan-kekuatan menengah akan memainkan peran yang menentukan dalam membentuk tatanan dunia berikutnya," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Dino juga menambahkan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton di dunia yang terus berubah dengan cepat. Mengingat Indonesia selalu menjadi satu-satunya negara yang mengambil inisiatif di panggung global, Indonesia adalah salah satu negara yang paling aktif.

“​​Saya ingin mengingatkan Anda bahwa sejarah diplomasi Indonesia sedang mengambil peran pionir di dunia yang terus berubah. Tradisi politik luar negeri kita bukan hanya tentang apa yang menguntungkan bagi Indonesia. Tetapi juga bagaimana kita dapat memperbaiki kawasan dan dunia. Inilah mengapa Bandung, Gerakan Non-Blok, ASEAN, dan UNCLOS. Tradisi ini tidak boleh hilang dari para diplomat kita. Mereka harus menunjukkan bahwa kekuatan diplomasi kita bertumpu pada kekuatan gagasan dan cita-cita kita. Lembaga politik luar negeri kita harus selalu kompetitif secara intelektual, dan memiliki keberanian untuk mengambil sikap dan risiko demi dunia yang lebih baik," lanjutnya.

CIFP 2025, pada hakikatnya, berfungsi sebagai wadah diskusi isu-isu internasional utama bagi para penggemar, aktivis, pemikir, dan praktisi hubungan internasional. Menurut Museum Rekor Indonesia, CIFP merupakan konferensi hubungan internasional tahunan terbesar di dunia. Konferensi ini menjadi tolok ukur bagi narasi dan debat publik mengenai isu-isu internasional yang berdampak pada kepentingan Indonesia, sekaligus menjadi wadah untuk menguji gagasan-gagasan baru tentang kebijakan luar negeri Indonesia. Selain itu, CIFP juga berfungsi sebagai wadah strategis bagi para tokoh kebijakan luar negeri Indonesia, yang menawarkan ruang utama bagi semua orang untuk mengambil pernyataan penting, merangkum arah kebijakan luar negeri Indonesia, dan memahami posisi Indonesia dalam berbagai isu internasional.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon