ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Greenland di Pusaran Geopolitik, Mengapa AS Begitu Tertarik?

Kamis, 8 Januari 2026 | 15:58 WIB
KU
TE
Penulis: Khansa Aprita Utami | Editor: TCE
Kota Maniitsoq, Grønland.
Kota Maniitsoq, Grønland. (Unsplash/Visit Greendland)

Jakarta, Beritasatu.com - Ketegangan geopolitik dunia kembali meningkat setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan operasi militer terhadap Venezuela yang berujung pada penangkapan mantan Presiden Nicolas Maduro.

Meski perhatian global sempat tertuju pada Amerika Latin, fokus kebijakan luar negeri Washington ternyata tidak berhenti di kawasan tersebut. Amerika Serikat justru kembali menyoroti wilayah lain yang dinilai memiliki nilai strategis jangka panjang, yakni Greenland.

Pulau terbesar di dunia itu kembali mencuat dalam peta persaingan kekuatan global, terutama dalam konteks keamanan, penguasaan sumber daya alam, serta pengaruh politik di Kawasan Arktik.

ADVERTISEMENT

Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang berulang kali mengungkapkan keinginannya agar negaranya mengambil alih Greenland pun memicu reaksi keras dari pemerintah Denmark, otoritas Greenland, hingga negara-negara Eropa.

Meski menuai penolakan luas, isu Greenland tidak lagi dipandang sebagai wacana politik sesaat. Sebaliknya, perhatian terhadap pulau tersebut mencerminkan dinamika geopolitik jangka panjang yang semakin kompleks di kawasan Arktik.

Fakta Greenland yang Membuatnya Diincar AS

1. Posisi geografis Greenland yang sangat strategis

Secara geografis, Greenland terletak di kawasan Arktik yang memiliki nilai strategis tinggi bagi keamanan global. Wilayah ini berada di jalur terpendek antara Amerika Utara dan Rusia, menjadikannya titik krusial dalam sistem pertahanan serta peringatan dini terhadap potensi serangan lintas benua.

Selain itu, mencairnya lapisan es akibat perubahan iklim membuka jalur pelayaran baru di kawasan kutub. Jalur ini berpotensi mengubah peta perdagangan internasional dan memperpendek waktu tempuh distribusi barang antarbenua, sehingga semakin meningkatkan nilai strategis Greenland di mata kekuatan besar dunia.

2. Peran penting Greenland dalam pertahanan AS dan NATO

Sejak era Perang Dunia II, Greenland telah menjadi bagian integral dari arsitektur keamanan kawasan utara. Amerika Serikat mengoperasikan fasilitas militer strategis di wilayah ini, yaitu Pituffik Space Base. Pangkalan tersebut berfungsi sebagai pusat pemantauan sistem peringatan dini terhadap ancaman rudal balistik dan aktivitas strategis lintas kawasan.

Keberadaan pangkalan militer tersebut tidak hanya memperkuat sistem pertahanan Amerika Serikat, tetapi juga menjadi elemen penting dalam strategi pertahanan kolektif NATO di kawasan Arktik. Dalam konteks meningkatnya rivalitas global, peran Greenland dalam menjaga stabilitas keamanan kawasan semakin krusial.

3. Kekayaan mineral strategis yang bernilai tinggi

Selain faktor militer, Greenland juga memiliki daya tarik besar dari sisi sumber daya alam. Pulau ini menyimpan cadangan mineral strategis dalam jumlah signifikan, termasuk mineral tanah jarang yang sangat dibutuhkan untuk berbagai industri teknologi modern.

Mineral tersebut berperan penting dalam pengembangan kendaraan listrik, energi terbarukan, perangkat elektronik, hingga sistem pertahanan canggih. Tidak hanya itu, Greenland juga memiliki potensi sumber daya lain, seperti uranium, nikel, tembaga, seng, dan bijih besi yang hingga kini belum sepenuhnya dieksplorasi secara komersial.

4. Dampak perubahan iklim terhadap akses sumber daya

Sekitar 80% wilayah Greenland masih tertutup oleh lapisan es tebal. Namun, pemanasan global secara perlahan menyebabkan es mencair dan membuka akses ke wilayah-wilayah yang sebelumnya tidak terjangkau.

Kondisi ini meningkatkan nilai strategis Greenland sebagai sumber bahan baku jangka panjang, terutama di tengah meningkatnya persaingan global dalam mengamankan pasokan sumber daya alam. Perubahan iklim secara tidak langsung menjadikan Greenland semakin relevan dalam peta geopolitik dunia.

5. Aktivitas Rusia dan China di Kawasan Arktik

Ketertarikan Amerika Serikat terhadap Greenland juga tidak dapat dilepaskan dari meningkatnya aktivitas Rusia dan China di kawasan Arktik. Kedua negara tersebut secara aktif memperluas kehadiran mereka melalui pembangunan infrastruktur, penelitian strategis, hingga peningkatan aktivitas militer.

Perkembangan ini memicu kekhawatiran negara-negara NATO terkait potensi perubahan keseimbangan kekuatan di kawasan utara. Dalam konteks tersebut, Greenland dipandang sebagai salah satu titik kunci untuk menjaga stabilitas dan pengaruh strategis di Arktik.

6. Upaya Amerika Serikat memperkuat pengaruh strategis

Minat Amerika Serikat terhadap Greenland bukanlah fenomena baru. Sejak abad ke-19, Washington telah menunjukkan ketertarikan untuk memperluas pengaruhnya di wilayah tersebut.

Namun, dalam konteks geopolitik saat ini, pendekatan AS lebih difokuskan pada penguatan kepentingan keamanan nasional, stabilitas kawasan Arktik, serta pengamanan rantai pasok sumber daya strategis.

Isu Greenland pun menjadi bagian dari strategi jangka panjang Amerika Serikat dalam menghadapi dinamika persaingan global yang semakin intens.

7. Dukungan internasional terhadap kedaulatan Greenland

Di tengah menguatnya wacana pengambilalihan wilayah, komunitas internasional menyatakan dukungan tegas terhadap kedaulatan Greenland dan Denmark. Sebagai wilayah otonom dalam Kerajaan Denmark, Greenland memiliki hak untuk menentukan masa depannya sendiri sesuai dengan prinsip hukum internasional.

Pemerintah Denmark menegaskan bahwa segala keputusan terkait Greenland harus didasarkan pada kehendak rakyat Greenland. Sikap ini mendapat dukungan terbuka dari sejumlah negara Eropa, termasuk Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, dan Inggris.

Uni Eropa juga menyatakan dukungan politik terhadap Denmark dan Greenland, sekaligus menolak segala bentuk tekanan sepihak yang bertentangan dengan hukum internasional.

Sementara itu, negara-negara NATO menekankan pentingnya menjaga keamanan Arktik melalui kerja sama kolektif, tanpa mengabaikan kedaulatan wilayah dan hak masyarakat setempat.

Greenland menjadi incaran geopolitik global karena kombinasi berbagai faktor strategis, mulai dari posisi geografis, kepentingan militer, kekayaan sumber daya alam, hingga rivalitas kekuatan besar di Kawasan Arktik. Meski demikian, dukungan internasional yang kuat menunjukkan masa depan Greenland tidak dapat ditentukan melalui tekanan sepihak.

Prinsip penentuan nasib sendiri serta penghormatan terhadap hukum internasional tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas geopolitik di Kawasan Arktik, sekaligus memastikan Greenland tetap berdaulat atas masa depannya sendiri.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

AS Gelar Perundingan Rahasia dengan Denmark dan Greenland, Bahas Apa?

AS Gelar Perundingan Rahasia dengan Denmark dan Greenland, Bahas Apa?

INTERNASIONAL
Trump Kembali Unggah Konten AI Nyeleneh Soal Greenland hingga Iran

Trump Kembali Unggah Konten AI Nyeleneh Soal Greenland hingga Iran

INTERNASIONAL
Aplikasi Boikot Produk AS Ramai Digunakan di Tengah Isu Greenland

Aplikasi Boikot Produk AS Ramai Digunakan di Tengah Isu Greenland

INTERNASIONAL
Luas Greenland 3 Kali Pulau Kalimantan, Populasinya hanya 57.000 Jiwa

Luas Greenland 3 Kali Pulau Kalimantan, Populasinya hanya 57.000 Jiwa

INTERNASIONAL
Ancaman Trump ke Greenland, Sejauh Mana Eropa Bisa Melawan?

Ancaman Trump ke Greenland, Sejauh Mana Eropa Bisa Melawan?

INTERNASIONAL
Pemadaman Listrik di Greenland Picu Spekulasi Soal Ambisi Trump

Pemadaman Listrik di Greenland Picu Spekulasi Soal Ambisi Trump

INTERNASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon