Kasus Epstein, Hillary Clinton Disidik DPR AS 6 Jam
Jumat, 27 Februari 2026 | 09:34 WIB
Washington DC, Beritasatu.com - Drama politik panas pecah di kampung halaman keluarga Clinton. Mantan Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton, akhirnya duduk di kursi pemeriksaan komite pengawas DPR AS terkait pusaran kasus Jeffrey Epstein dan kaki tangannya, Ghislaine Maxwell.
Dalam pernyataan pembuka yang ia unggah ke media sosial, Hillary menegaskan tak tahu-menahu soal kejahatan keduanya. “Saya tidak memiliki pengetahuan tentang aktivitas kriminal mereka. Saya tidak ingat pernah bertemu Tuan Epstein,” tegasnya. seperti dilansir dari AP.
Pemeriksaan tertutup itu berlangsung lebih dari 6 jam. Hillary mengaku menjawab setiap pertanyaan yang diajukan panel. Sidang deposisi digelar di Chappaqua, wilayah tenang di utara New York yang mendadak jadi sorotan nasional.
Tekanan terhadap keluarga Clinton datang dari komite pengawas DPR yang dikuasai Partai Republik, dipimpin anggota Kongres James Comer. Mereka mengusut jaringan Epstein yang tewas bunuh diri di sel penjara New York pada 2019 saat menunggu persidangan kasus perdagangan seks anak di bawah umur.
Tak hanya Hillary, mantan Presiden AS Bill Clinton juga dijadwalkan memberikan kesaksian. Ini menjadi momen langka, untuk pertama kalinya seorang mantan presiden dipaksa bersaksi di hadapan Kongres.
Meski tak pernah didakwa, nama Bill Clinton kerap muncul dalam foto dan dokumen awal kasus yang dirilis Departemen Kehakiman. Sejumlah potret dirinya bersama perempuan—wajah disamarkan—tercantum dalam berkas yang dipublikasikan Januari lalu.
Hillary mengakui suaminya pernah terbang bersama Epstein dalam perjalanan amal, tetapi ia menegaskan tak pernah bertemu langsung dengan sang taipan kontroversial. Ia juga membenarkan pernah berinteraksi dengan Maxwell dalam sejumlah forum yang digelar yayasan keluarga Clinton. Bahkan, Maxwell hadir dalam pernikahan putri mereka, Chelsea, pada 2010 sebagai tamu undangan pihak lain.
Pada sisi lain, Hillary menuding investigasi yang dipimpin Comer bersifat sepihak dan bermuatan politik. Ia menilai penyelidikan itu gagal menyeret tokoh-tokoh Republik, termasuk Presiden Donald Trump, ke meja pemeriksaan.
“Ini kegagalan institusional yang dirancang untuk melindungi satu partai politik dan satu pejabat publik,” serangnya.
Ketegangan makin terasa ketika proses deposisi sempat dihentikan. Anggota DPR dari Partai Republik, Lauren Boebert, diduga membocorkan foto Hillary dari ruang pemeriksaan ke seorang influencer konservatif, melanggar aturan komite.
Dari kubu Demokrat, desakan transparansi menguat. Anggota DPR Robert Garcia meminta rekaman video dan transkrip lengkap segera dibuka ke publik. Ia bahkan mendesak Trump ikut bersaksi, menilai kemunculan Bill Clinton menciptakan preseden yang sama bagi presiden aktif.
Sementara itu, Pemimpin Mayoritas Demokrat di Senat, Chuck Schumer, menyatakan pihaknya akan menelaah versi tanpa sensor dokumen Epstein di kantor Departemen Kehakiman. “Kami akan tarik setiap benang sampai tabir besar ini terbuka,” tegasnya.
Kasus Epstein kini bukan sekadar perkara hukum, melainkan arena perang politik dua kubu besar Amerika. Di tengah pusaran konspirasi dan tudingan saling serang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




