Iran Deklarasi Menang Perang atas AS: Musuh Derita Kekalahan Telak!
Rabu, 8 April 2026 | 15:16 WIB
Teheran, Beritasatu.com - Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) menyatakan Iran telah meraih kemenangan besar atas perang melawan Amerika Serikat (AS) dalam 40 hari terakhir. SNSC mengeklaim Iran berhasil memaksa AS menerima segala syarat yang mereka ajukan untuk gencatan senjatan demi mengakhiri perang.
“Musuh telah menderita kekalahan yang tak terbantahkan, bersejarah, dan telak dalam perang pengecut, ilegal, dan kriminalnya terhadap bangsa Iran,” bunyi pernyataan resmi SNSC yang dirilis kantor berita Tasnim, Rabu (8/4/2026).
Dalam pernyataannya, SNSC menyatakan keberhasilan tersebut berkat darah suci dan tak berdosa dari Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Sayed Ali Khamenei yang sudah gugur serta Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam dan Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Iran Ayatullah Mojtaba Khamenei.
SNSC memuji perjuangan dan keberanian pejuangnya yang terjun langsung di medan perang sejak hari pertama dan menciptakan sejarah epik untuk bangsanya.
“Iran meraih kemenangan besar dan memaksa Amerika yang kriminal untuk menerima rencana 10 poinnya,” kata SNSC.

Ada 10 poin utama dalam proposal yang diajukan Iran untuk mengakhiri perang dengan AS. Proposal itu disebut mencakup aspek militer, ekonomi, dan strategis sebagai kerangka menyeluruh untuk mengakhiri konflik.
SNSC mengeklaim AS sudah berkomitmen menerima 10 poin yang diajukan Iran dalam proposal perdamaian itu.
Berikut 10 poin diajukan Iran untuk mengakhiri perang dengan AS:
1. Pengendalian lalu lintas Selat Hormuz yang dikoordinasikan dengan angkatan bersenjata Iran.
2. Pengakhiran perang terhadap seluruh elemen poros perlawanan Iran, termasuk terhadap Hizbullah di Lebanon. Penarikan pasukan tempur AS dari pangkalan di kawasan.
3. Pembentukan protokol transit aman di Selat Hormuz dengan peran dominan Iran.
4. Pembayaran kompensasi penuh atas kerugian Iran.
5. Pencabutan seluruh sanksi primer dan sekunder terhadap Iran.
6. Penghapusan resolusi internasional yang membatasi Iran.
7. Pembebasan aset dan properti Iran yang dibekukan di luar negeri.
8. Pengakuan program pengayaan uranium Iran.
9. Ratifikasi kesepakatan melalui resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengikat.
10. Proposal tersebut disalurkan melalui mediator internasional di tengah meningkatnya tekanan global untuk meredakan eskalasi konflik.
“Kami mengucapkan selamat kepada seluruh rakyat Iran atas kemenangan ini, dan menekankan bahwa hingga perincian kemenangan ini diselesaikan, masih diperlukan ketekunan dan kehati-hatian dari pihak pemerintah serta untuk menjaga persatuan dan solidaritas rakyat Iran,” kata SNSC.
“Iran bersama dengan para pejuang perlawanan yang gagah berani di Lebanon, Irak, Yaman, dan Palestina yang diduduki, telah memberikan pukulan telak kepada musuh dalam 40 hari terakhir yang tidak akan pernah dilupakan oleh ingatan sejarah dunia,” tambahnya.
SNSC menyebut Iran dan poros perlawanannya melawan musuh-musuh kemanusiaan yang paling biadab, telah memberi mereka pelajaran yang tak terlupakan setelah pertempuran bersejarah dan telah menghancurkan kekuatan, fasilitas, infrastruktur, dan semua kapasitas politik, ekonomi, teknologi, dan militer mereka sedemikian rupa sehingga musuh kini jatuh dalam keputusasaan dan tidak melihat jalan lain selain menyerah kepada kehendak bangsa Iran yang agung dan poros perlawanan yang mulia.
“Pada hari pertama musuh-musuh kriminal Iran memulai perang kejam ini, mereka mengira akan mencapai dominasi militer penuh atas Iran dalam waktu singkat dan, dengan menciptakan ketidakstabilan politik dan sosial, akan membuat Iran menyerah. Mereka mengira serangan rudal dan drone Iran akan segera mereda dan mereka tidak percaya bahwa Iran dapat memberikan respons sekuat itu di luar perbatasannya dan di seluruh wilayah,” katanya.

Menurut SNSC, zionisme global telah meyakinkan Presiden Amerika Donald Trump bahwa perang ini akan menghancurkan Iran dan dengan melenyapkan benteng terakhir kemanusiaan ini, mereka dapat dengan mudah melakukan kejahatan apa pun terhadap siapa pun yang mereka inginkan.
“Mereka bermimpi memecah belah Iran tercinta, menjarah minyak dan kekayaannya, dan pada akhirnya meninggalkan rakyat Iran di tengah kekacauan, ketidakstabilan, dan ketidakamanan selama bertahun-tahun yang akan datang,” ujar SNSC.
Para pejuang Islam yang gagah berani dan sekutu mereka dalam poros perlawanan, lanjut SNSC, meskipun hatinya terluka dan hancur berkeping-keping oleh kemartiran Ali Khamenei, mereka berserah diri kepada Allah Yang Maha Kuasa untuk memberi pelajaran bersejarah kepada para musuh selamanya.
“Membalas dendam atas semua kejahatan masa lalu mereka, dan menciptakan kondisi di mana musuh akan selamanya melupakan gagasan agresi terhadap Iran tercinta, dan sepenuhnya merasakan rasa penghinaan dalam konfrontasi mereka melawan bangsa Iran yang agung,” katanya.
Dengan strategi yang mengandalkan persatuan politik dan sosial yang belum pernah terjadi sebelumnya, Iran dan gerakan perlawanan disebut memulai salah satu pertempuran gabungan terberat dalam sejarah dengan AS dan rezim Israel.
“Mereka mencapai semua tujuan yang telah mereka rencanakan untuk pertempuran ini. Iran dan gerakan perlawanannya hampir sepenuhnya menghancurkan mesin militer Amerika di kawasan, memberikan pukulan telak dan mendalam terhadap infrastruktur dan fasilitas besar yang telah dibangun dan dikerahkan musuh di kawasan itu selama bertahun-tahun untuk perang, menimbulkan korban jiwa yang besar pada tentara Amerika dalam skala regional,” sebut Dewan Keamanan Nasional Iran.
Iran mengeklaim telah memberikan pukulan telak dan menghancurkan pasukan, infrastruktur, fasilitas, dan aset AS dalam wilayah pendudukan, dan memberikan tekanan sedemikian rupa di semua lini, sehingga tidak ada satu pun tujuan utama musuh yang tercapai.
“Musuh menyadari sekitar 10 hari setelah dimulainya perang, mereka tidak akan mampu memenangkan perang ini dengan cara apa pun, dan karena alasan ini, mereka mulai mencoba berkomunikasi dengan Iran melalui berbagai saluran dan metode serta meminta gencatan senjata,” kata SNSC.
Menurutnya, musuh telah memohon selama lebih dari 1 bulan agar Iran menghentikan gempuran tembakannya, tetapi para pejabat Iran sejak awal telah memutuskan tidak akan mengakhiri pertepuran sampai tujuannya tercapai. Perang masih terus berlanjut hingga hari ini.
“Iran juga telah beberapa kali menolak tenggat waktu yang diajukan oleh presiden AS dan terus menekankan bahwa mereka tidak menganggap penting tenggat waktu apa pun dari musuh,” ujarnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




