Krisis Berlapis Air India dari Rugi Rp 39 Triliun hingga Avtur Mahal
Kamis, 14 Mei 2026 | 05:42 WIB
Tekanan tambahan datang dari pelemahan nilai tukar rupee India yang telah terdepresiasi lebih dari 10% terhadap dolar AS, sehingga meningkatkan biaya operasional maskapai yang banyak bergantung pada transaksi berbasis dolar.
Analis aviasi Mahantesh Sabarad menyebut kondisi ini menjadi tantangan besar bagi proses pemulihan Air India, terutama karena biaya bahan bakar dan leasing pesawat juga ikut tertekan oleh fluktuasi mata uang.
Dari sisi lain, pemegang saham termasuk Tata Group dan Singapore Airlines yang memiliki 25,1% saham disebut perlu memperkuat dukungan pendanaan untuk menutup kerugian yang terus meningkat.
Namun, sejumlah analis menilai tekanan terhadap Air India dapat semakin berat dalam beberapa bulan ke depan, terutama jika hasil investigasi kecelakaan menunjukkan temuan yang berdampak pada reputasi maskapai.
Meski kewajiban finansial terkait kecelakaan diperkirakan sudah banyak tertangani, dampak reputasi dinilai masih dapat menjadi tantangan jangka panjang bagi pemulihan citra Air India di pasar global.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




