Pilot Air India Meninggal di Bali Kena Serangan Jantung
Kamis, 30 April 2026 | 12:45 WIB
Denpasar, Beritasatu.com – Seorang kopilot maskapai Air India dilaporkan meninggal dunia akibat serangan jantung saat menjalani waktu istirahat di Bali usai menyelesaikan penerbangan internasional dari New Delhi.
Melansir Times Now News, Pilot yang diperkirakan berusia awal 40-an itu disebut dalam kondisi sehat secara medis dan baru saja lolos pemeriksaan kesehatan wajib penerbangan.
Namun, ia mengalami henti jantung mendadak saat layover, memicu perhatian terhadap risiko kardiovaskular tersembunyi.
Insiden ini kembali menyoroti bahwa serangan jantung dapat terjadi tanpa gejala yang jelas, bahkan pada individu yang terlihat bugar. Sejumlah faktor seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, resistensi insulin, serta stres kronis dapat berkembang tanpa disadari dan merusak sistem kardiovaskular.
Kasus ini juga menambah kekhawatiran terhadap kesehatan pilot, setelah sebelumnya terjadi insiden serupa pada pilot muda dari maskapai lain seperti IndiGo dan Qatar Airways.
Para ahli menilai profesi pilot memiliki tingkat tekanan tinggi. Jam kerja panjang, pola tidur tidak teratur, perubahan zona waktu, serta gangguan ritme sirkadian dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.
Meski pilot menjalani pemeriksaan kesehatan rutin seperti elektrokardiogram (EKG), pengecekan tekanan darah, dan riwayat medis, sejumlah pakar menilai pemeriksaan tersebut belum cukup untuk mendeteksi kondisi jantung tahap awal atau tanpa gejala.
Pemeriksaan lanjutan seperti stress test, skor kalsium koroner, atau analisis profil lipid mendalam dinilai penting untuk mendeteksi risiko lebih dini, terutama bagi profesi dengan tingkat tanggung jawab tinggi.
Dokter juga mengingatkan adanya tanda awal yang kerap diabaikan, seperti kelelahan tanpa sebab, sesak napas, nyeri atau tekanan di dada, pusing, hingga detak jantung tidak teratur.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya pencegahan melalui gaya hidup sehat, termasuk olahraga teratur, pola makan seimbang, manajemen stres, serta tidur yang cukup.
Selain itu, para ahli mendorong penerapan skrining kesehatan yang lebih komprehensif, khususnya bagi pekerja di sektor dengan tekanan tinggi, guna mendeteksi risiko tersembunyi lebih awal dan mencegah kejadian fatal.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Revitalisasi Alun-alun Kota Serang Ditargetkan Rampung Desember 2026




