ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Krisis Berlapis Air India dari Rugi Rp 39 Triliun hingga Avtur Mahal

Kamis, 14 Mei 2026 | 05:42 WIB
MK
MK
Penulis: Martin Bagya Kertiyasa | Editor: MBK
Maskapai penerbangan Air India
Maskapai penerbangan Air India (AFP/Asiaone.com)

New Delhi, Beritasatu.com – Otoritas Investigasi Kecelakaan Pesawat India (Aircraft Accident Investigation Bureau/AAIB) diperkirakan akan merilis laporan akhir dalam waktu kurang dari satu bulan.

Laporan ini akan memberikan gambaran terkait jatuhnya pesawat Air India penerbangan AI-171 yang menewaskan 260 orang tak lama setelah lepas landas dari Ahmedabad pada 12 Juni 2025.

Di tengah penantian hasil investigasi tragedi tersebut, Air India menghadapi tekanan berat dari berbagai sisi, mulai dari krisis kepemimpinan, kerugian finansial yang membesar, penutupan sejumlah rute, hingga guncangan harga bahan bakar di Timur Tengah.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar terhadap keberlanjutan rencana transformasi maskapai sejak privatisasi.

ADVERTISEMENT

Air India saat ini menjadi entitas dengan kerugian terbesar di bawah Tata Group, yang mengambil alih maskapai tersebut dari pemerintah pada 2022. Laporan media lokal menyebutkan kerugian Air India untuk tahun yang berakhir Maret 2026 mencapai sekitar US$ 2,4 miliar atau sekitar Rp 39 triliun (asumsi kurs Rp 16.300 per dolar AS).

Mantan eksekutif industri menilai pengunduran diri CEO Campbell Wilson di tengah periode tersebut memperburuk kondisi internal perusahaan. Kekosongan kepemimpinan dinilai menghambat upaya penyehatan operasional di tengah tekanan yang semakin kompleks.

“Air India membutuhkan visi yang jelas saat ini. Rencana lima tahun pascaprivatisasi belum berjalan mulus, terdapat kesenjangan besar antara perencanaan dan implementasi,” ujar mantan eksekutif Air India Jitendra Bhargava dilansir dari Reuters.

Bhargava juga menilai Tata Group sebelumnya meremehkan tantangan warisan dari pengelolaan lama, sementara pembentukan tim baru berjalan lebih lambat dari yang diharapkan.

Di sisi operasional, Air India masih menghadapi berbagai insiden, termasuk penerbangan Delhi–Vancouver yang sempat harus kembali ke Delhi setelah hampir delapan jam terbang karena tidak memiliki izin masuk wilayah udara Kanada.

Regulator penerbangan India juga sebelumnya menemukan 51 pelanggaran keselamatan dalam audit tahunan, termasuk tujuh pelanggaran kategori berat.

Selain itu, keterlambatan pengiriman pesawat baru akibat gangguan rantai pasok global turut menghambat rencana modernisasi armada. Sejumlah rute internasional juga dikurangi, termasuk Delhi–Washington dan Mumbai–San Francisco, yang berdampak pada penurunan pendapatan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Hasil Investigasi Kecelakaan Air India Bakal Dirilis Bulan Depan

Hasil Investigasi Kecelakaan Air India Bakal Dirilis Bulan Depan

INTERNASIONAL
Pilot Air India Meninggal di Bali Kena Serangan Jantung

Pilot Air India Meninggal di Bali Kena Serangan Jantung

BALI
Salah Terbangkan Pesawat, Air India Terpaksa Putar Balik

Salah Terbangkan Pesawat, Air India Terpaksa Putar Balik

INTERNASIONAL
Evakuasi Ribuan Warga, Maskapai India Mulai Buka Penerbangan

Evakuasi Ribuan Warga, Maskapai India Mulai Buka Penerbangan

INTERNASIONAL
Air India Iming-imingi Keluarga Korban Rp 384 juta agar Tak Digugat

Air India Iming-imingi Keluarga Korban Rp 384 juta agar Tak Digugat

INTERNASIONAL
Tak Ingin Pesawat Jatuh Lagi, Air India Kandangkan Boeing 787-8

Tak Ingin Pesawat Jatuh Lagi, Air India Kandangkan Boeing 787-8

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon