RS di India Penuh, Harga Tabung Oksigen Meningkat 10 Kali Lipat
Senin, 26 April 2021 | 08:25 WIB
New Delhi, Beritasatu.com – Hampir kebanyakan rumah sakit di New Delhi dan sejumlah kota lainnya di India telah kehabisan ruangan dan tempat tidur untuk pasien Covid-19. Karenanya pasien banyak yang dirawat di rumahnya masing-masing.
Namun itu menimbulkan masalah baru, karena keluarga pasien mengalami kesulitan mencari tabung oksigen, yang harganya kini meningkat hingga 10 kali lipat.
Warga Delhi Anshu Priya, pada Minggu (25/4/2021) waktu setempat mengaku, ia menghabiskan waktunya mencari tabung oksigen untuk ayah mertuanya yang menderita Covid-19. Hal itu ia lakukan, karena ia tak bisa mendapatkan rumah sakit untuk merawat mertuanya itu baik di Delhi ataupun daerah pinggiran di Noida.
Ia mencari tabung oksigen di toko-toko namun sia-sia. Pencarian itu memaksanya beralih ke pasar gelap. Di sana untuk mendapatkan sebuah tabung oksigen, ia harus mengeluarkan uang 50.000 rupee atau sebesar US$ 670 atau sekitar Rp 9,7 juta.
Padahal harga normal tabung oksigen hanya 6.000 atau sekitar Rp 1,1 juta saja.
Kini Anshu dalam kekhawatiran. Setelah ayah mertuanya, kini ibu mertuanya juga mulai mengalami sesak napas dan butuh bantuan oksigen. Anshu mengaku, ia sudah tak mampu membeli tabung oksigen lagi di pasar gelap.
BBC membuat laporan ke sejumlah pemasok tabung oksigen, dan diketahui saat ini rata-rata harganya mencapai 10 kali lipat dari harga normal.
Kondisi RS penuh juga terjadi di Allahabad, dan Indore. Pihak keluarga terpaksa membayar perawat dan konsultasi dokter untuk menjaga anggota keluarganya yang terpapar Covid-19 agar tetap bisa bernapas.
Kasus harian Covid-19 di India mencapai hingga 300.000 kasus.
Perjuangan keluarga merawat anggotanya yang terpapar Covid-19 tak mudah, mereka mengalami kesulitan untuk mendapatkan tes darah hingga CT scan atau x-ray.
Laboratorium dibanjiri sampel tes darah, dan butuh waktu hingga tiga hari untuk mengembalikan hasil tes. Hal ini mempersulit perawatan dokter untuk menilai perkembangan penyakit. CT scan juga digunakan oleh dokter untuk menilai kondisi pasien, tetapi butuh waktu berhari-hari untuk membuat janji.
Dokter mengatakan, bahwa penundaan ini membahayakan banyak pasien. Tes RT-PCR juga memakan waktu berhari-hari. Akibatnya, beberapa pasien sakit yang menemukan tempat tidur tetapi tidak dapat dirawat karena mereka tidak memiliki laporan Covid-19 yang positif.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




