ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

BRICS Desak Sistem Keuangan Global yang Lebih Adil dan Aman

Rabu, 22 Juni 2022 | 18:19 WIB
SL
SL
Penulis: Surya Lesmana | Editor: LES
Para pemimpin negara ekonomi pesar di dunia, yaitu Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan (Afsel) di KTT BRICS.
Para pemimpin negara ekonomi pesar di dunia, yaitu Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan (Afsel) di KTT BRICS. (Twitter.com)

Beijing, Beritasatu.com - KTT BRICS ke-14 yang digelar pada hari Kamis (23/6/2022) di Beijing, Tiongkok. bakal menyuarakan harapan agar mekanisme BRICS dapat memainkan peran yang lebih besar dalam mempromosikan keadilan dan keamanan dalam tatanan keuangan dan perdagangan global.

BRICS adalah akronim dari lima negara yang ekonominya pesat di dunia, yaitu Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan (Afsel). Mekanisme BRICS bertujuan untuk mempromosikan perdamaian, keamanan, pembangunan dan kerja sama.

Dalam rilis yang dikutip dari media Tiongkok, Global Times, Rabu (22/6/2022) disebutkan, saat ini, sanksi Barat terhadap Rusia telah memicu berbagai krisis yang dihadapi oleh ekonomi global, dan memberikan pukulan berat bagi tatanan ekonomi dan keuangan internasional yang diandalkan oleh negara berkembang untuk bertahan hidup.

Baca Juga: Megawati: PDIP Dukung Upaya BRICS Bentuk New Development Bank

ADVERTISEMENT

Sampai batas tertentu, sanksi-sanksi tersebut telah menyadarkan negara-negara BRICS akan urgensi untuk memperkuat kerja sama dan solidaritas mereka. Sebagai ekonomi pasar berkembang utama dengan pengaruh global, negara-negara BRICS sekarang memiliki keinginan yang sama untuk mendorong reformasi besar yang menangani sistem pembayaran global.

Tak satu pun dari negara-negara BRICS telah bergabung dengan negara Barat dan sekkutunya menjatuhkan sanksi ekonomi Barat terhadap Rusia. Alasan mengapa negara-negara BRICS selain Rusia semuanya menolak untuk bergabung dengan sanksi tersebut adalah karena mereka memiliki antipati yang sama terhadap sanksi sepihak yang dijatuhkan oleh Barat.

"Sekarang sangat jelas bahwa kekuatan Barat melindungi kepentingan diri mereka sendiri yang hegemonik melalui sanksi, tanpa memperhatikan kepentingan negara berkembang. Di balik sanksi adalah hegemoni dolar".

Selama beberapa dekade, dolar telah menjadi mata uang cadangan terpenting di dunia dan mata uang yang paling banyak digunakan untuk penyelesaian ekonomi dan perdagangan global. Peran besar dolar dalam sistem pembayaran global tidak hanya menawarkan AS keuntungan finansial yang besar dalam tatanan ekonomi dunia, tetapi juga memungkinkannya untuk menggunakannya secara efektif sebagai senjata untuk menghukum musuh-musuhnya. Akibatnya, interaksi BRICS dalam hal keuangan, perdagangan, investasi, dan bidang lainnya sering kali terpengaruh hingga tingkat yang berbeda-beda.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Dubes Rusia Tegaskan BRICS Bukan Perlawanan terhadap Barat

Dubes Rusia Tegaskan BRICS Bukan Perlawanan terhadap Barat

INTERNASIONAL
Senator Kanada Sebut Peran Global Indonesia Makin Kuat di Era Prabowo

Senator Kanada Sebut Peran Global Indonesia Makin Kuat di Era Prabowo

INTERNASIONAL
Prabowo Apresiasi Putin Dukung Indonesia Gabung BRICS

Prabowo Apresiasi Putin Dukung Indonesia Gabung BRICS

INTERNASIONAL
Presiden Prabowo dan Presiden Putin Perkuat Arah Baru Kemitraan Strategis Indonesia–Rusia

Presiden Prabowo dan Presiden Putin Perkuat Arah Baru Kemitraan Strategis Indonesia–Rusia

MULTIMEDIA
Bertemu Putin, Prabowo Ungkap Kemajuan Hubungan RI-Rusia

Bertemu Putin, Prabowo Ungkap Kemajuan Hubungan RI-Rusia

INTERNASIONAL
Temui Putin di Moskwa, Prabowo Bahas Ekonomi hingga Geopolitik

Temui Putin di Moskwa, Prabowo Bahas Ekonomi hingga Geopolitik

INTERNASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon