Rusia Tuduh Barat Sebar Kebohongan soal Krisis Pangan Global
Kamis, 23 Juni 2022 | 08:32 WIB
Moskwa, Beritasatu.com- Rusia menuduh Barat menyebarkan kebohongan tentang penyebab krisis pangan dunia. Seperti dilaporkan Reuters, Rabu (22/6/2022), menurut Moskow, krisis tersebut dipicu oleh sanksi yang dijatuhkan pada Rusia oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa karena invasi ke Ukraina.
Selain kematian dan kehancuran yang ditaburkan oleh invasi Rusia, perang dan upaya Barat untuk melumpuhkan ekonomi Rusia sebagai hukuman telah membuat harga gandum, minyak goreng, pupuk dan energi melonjak, melukai pertumbuhan global.
Juru bicara kementerian luar negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan kepada wartawan di Moskwa bahwa dia kecewa dengan pernyataan Barat yang berulang-ulang bahwa Rusia harus disalahkan atas krisis pangan global.
Baca Juga: Rusia Tolak Disalahkan Atas Krisis Pangan Global
"Itu bohong, tuduhan seperti itu benar-benar bohong. Jadi Barat dapat memasok semua senjata ini ke Ukraina tetapi untuk beberapa alasan tidak ada yang bisa diambil dari Ukraina?" kata Zakharova.
Amerika Serikat dan anggota Uni Eropa, yang memasok senjata ke Ukraina, menuduh Rusia memicu krisis pangan dengan mencegah ekspor biji-bijian dari Ukraina - yang menyumbang sekitar sepersepuluh dari ekspor gandum global.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan pada 9 Juni bahwa jutaan orang bisa kelaparan karena blokade Rusia di pelabuhan Laut Hitam Ukraina yang katanya telah membuat dunia "di ambang krisis pangan yang mengerikan".
Baca Juga: UE Usul Dana Pembangunan Afrika Dialihkan ke Krisis Pangan
Rusia dan Ukraina adalah dua produsen komoditas pertanian terpenting di dunia. Rusia adalah pengekspor gandum terbesar di dunia setelah Uni Eropa sementara Ukraina adalah pengekspor biji bunga matahari terbesar di dunia.
Rusia dan Ukraina memainkan peran besar di pasar jelai, jagung, dan lobak, sementara Rusia adalah salah satu pengekspor pupuk utama dunia.
Sanksi Barat, kata Zakharova, telah mendorong pasar pertanian ke tepi jurang dengan mengganggu sistem pembayaran, pengiriman, asuransi yang telah mencegah banyak ekspor makanan dan pupuk Rusia.
Baca Juga: UNHCR: Krisis Pangan Dorong Perpindahan Global Lebih Tinggi
"Ini tidak logis - di satu sisi Uni Eropa menyatakan ancaman terhadap keamanan pangan global sedang dibuat tetapi pada saat yang sama mereka memblokir rute pengiriman barang ke diri mereka sendiri di benua mereka sendiri," kata Zakharova.
Presiden Vladimir Putin dan pejabat Rusia tidak menggunakan kata "perang" atau "invasi". Mereka menyebut aksi tersebut sebagai "operasi militer khusus" yang bertujuan untuk mencegah penganiayaan terhadap penutur bahasa Rusia di Ukraina timur.
Putin juga menyebut perang itu sebagai pemberontakan melawan Amerika Serikat, yang menurutnya telah mempermalukan Rusia sejak jatuhnya Uni Soviet pada 1991 dengan mendorong perluasan aliansi militer NATO ke arah barat.
Baca Juga: Jokowi: Semua Harus Siap Hadapi Ancaman Krisis Pangan
Ukraina menyatakan sedang berjuang untuk bertahan hidup melawan perampasan tanah oleh Rusia dan akan berjuang sampai akhir untuk membebaskan wilayahnya dari kendali Rusia. Kyiv menolak klaim bahwa penutur bahasa Rusia telah dianiaya.
Menurut data PBB, Eritrea, Armenia, Mongolia, Azerbaijan, Georgia, Somalia, Belarus, Turki, Madagaskar, Lebanon, Mesir, dan Pakistan bergantung pada Rusia atau Ukraina untuk lebih dari 70 persen impor gandum mereka pada tahun 2021.
Mongolia, Kazakhstan, Moldova, Serbia, Honduras, dan Ghana bergantung pada Rusia untuk 50 persen atau lebih impor pupuk mereka pada tahun 2021.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




