PBB Sebut 12 Juta Orang di Sudan Hadapi Kelaparan Akut
Jumat, 5 Agustus 2022 | 07:28 WIB
Khartoum, Beritasatu.com- PBB menyatakan yampir 12 juta orang di Sudan menghadapi kelaparan akut di tengah kekurangan dana yang mengerikan. Seperti dilaporkan AP, Rabu (3/8/2022), Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melukiskan gambaran suram tersebut untuk situasi kemanusiaan Sudan.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan menyatakan bahwa 11,7 juta orang menghadapi kelaparan akut antara Juni dan September, meningkat hampir 2 juta, dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Krisis pangan yang semakin dalam di Sudan terutama disebabkan oleh ekonomi yang rapuh di daerah itu, musim kemarau yang berkepanjangan, berkurangnya area yang ditanami dan curah hujan yang tidak menentu," kata Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB.
Penilaian gelap itu muncul saat negara Afrika Timur itu terjerumus ke dalam kekacauan sejak kudeta militer pada Oktober. Penilaian ini mengubah transisi singkat negara itu ke demokrasi setelah hampir tiga dekade penindasan dan isolasi internasional di bawah pemimpin otokrat Omar al-Bashir.
Pemberontakan rakyat memaksa militer menggulingkan al-Bashir dan pemerintah sekutu Islamnya pada April 2019.
Pengambilalihan oleh militer juga menggagalkan upaya yang didukung internasional untuk merombak ekonomi yang hancur dan menghentikan miliaran bantuan dari Barat dan lembaga keuangan global.
"Sebagian besar dari orang-orang yang menderita kelaparan akut berada di ibu kota, Khartoum, wilayah Darfur dan provinsi Kassala dan Nil Putih, yang paling parah dilanda konflik dan penurunan ekonomi," kata OCHA.
Dikatakan, sekitar 4 juta anak di bawah usia 5 tahun dan wanita hamil dan menyusui diperkirakan kekurangan gizi akut dan membutuhkan nutrisi penyelamat hidup kemanusiaan. Angka tersebut termasuk 618.950 anak balita dengan gizi buruk akut, di antaranya sekitar 93.000 orang menderita komplikasi medis dan membutuhkan perawatan khusus.
Program Pangan Dunia (WFP) menyatakan terpaksa memotong jatah untuk pengungsi di seluruh Sudan karena kekurangan dana yang parah. Mulai Juli, lebih dari 550.000 pengungsi hanya akan menerima setengah dari keranjang makanan standar, baik dalam bentuk makanan atau bantuan tunai.
WFP memperingatkan bahwa pemotongan tersebut dapat memperburuk risiko perlindungan karena pengungsi dapat menggunakan mekanisme penanggulangan negatif, termasuk putus sekolah, pekerja anak, pernikahan dini dan kekerasan seksual dan berbasis gender.
PBB menyatakan tanggapan kemanusiaannya untuk Sudan pada tahun 2022 hanya menerima US$ 414,1 juta (Rp 6,1 triliun), dari total kebutuhan US$1,94 miliar (Rp 28,9 triliun).
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




