Berkaca Ledakan SMAN 72, Game Anak di Surabaya Mulai Diawasi Ketat
Jumat, 28 November 2025 | 20:16 WIB
Surabaya, Beritasatu.com - Pascatragedi bom di SMAN 72 Jakarta, pemerintah semakin intens melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah untuk mencegah radikalisme di kalangan pelajar termasuk di Surabaya.
Ancaman yang mengkhawatirkan adalah infiltrasi kelompok ekstrem melalui ruang digital seperti game online yang menyasar anak-anak dan remaja.
Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Kota Surabaya bekerja sama dengan Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri untuk membatasi paparan konten dan game berbahaya di kalangan pelajar.
Langkah ini ditandai dengan Deklarasi Anak Surabaya Digital Aman dan penandatanganan Tri Darma Digital, yang digelar serentak di SMPN 19 Surabaya.
Acara tersebut dihadiri Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Kasatgaswil Jawa Timur Densus 88, Kombes Pol Samsul Priasmoro, serta jajaran BNN, Kepolisian, Komnas Perlindungan Anak, dan berbagai pihak yang fokus pada pengawasan konten digital bagi anak.
Eri Cahyadi menegaskan, teknologi digital adalah peluang sekaligus tantangan yang harus disikapi dengan bijak.
“Gunakanlah teknologi dengan santun dan hati-hati, sebab setiap unggahan dan komentar mencerminkan karakter diri kalian,” ujar Wali Kota Eri Cahyadi dalam keterangan resminya, Jumat (28/11/2025).
Eri Cahyadi memastikan, komitmen Pemkot Surabaya untuk melindungi pelajar dari paparan berbahaya seperti konten kekerasan, pornografi, hoaks, radikalisme, perjudian, hingga perundungan daring (cyberbullying).
Ia menegaskan, pencegahan radikalisme harus berjalan beriringan dengan pemberantasan bullying di sekolah.
Dalam arahannya, Eri Cahyadi meminta pelajar untuk berani melawan segala bentuk perundungan.
“Mulai hari ini, kalian semua harus bersatu. Tidak ada lagi yang boleh mem-bully. Jika melihat perundungan, laporkan kepada guru BK. Itulah esensi sejati persahabatan,” tegasnya.
Tidak hanya radikalisme dan bullying, Eri Cahyadi juga menyoroti, bahaya game dan konten digital berkekerasan yang dapat memengaruhi imajinasi serta membentuk kepribadian yang keras. Ia mendorong pelajar untuk memilih permainan edukatif.
“Kita harus berani melawan konten negatif dan game kekerasan. Pilih game yang mendidik, seperti menyusun strategi atau membangun,” ujarnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




