ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Dari Kopi ke Obrolan, Warkop Jadi Nadi Budaya Surabaya

Sabtu, 18 April 2026 | 17:39 WIB
S
AA
S
Penulis: Sukarjito, Achmad Ali
Editor: JTO
Suasana warkop di Surabaya yang menjadi tempat berkumpul warga dari berbagai kalangan.
Suasana warkop di Surabaya yang menjadi tempat berkumpul warga dari berbagai kalangan. (Istimewa/Istimewa)

Surabaya, Beritasatu.com - Pada sudut-sudut kota Surabaya, Jawa Timur, aroma kopi hitam berpadu dengan kepulan asap rokok dan obrolan santai menjadi pemandangan sehari-hari. Warung kopi, yang akrab disebut warkop, bukan sekadar tempat minum, melainkan ruang sosial yang hidup dan terus berevolusi di tengah dinamika kota.

Fenomena warkop di Surabaya tak bisa dilepaskan dari kultur arek yang egaliter dan terbuka. Dari pagi hingga larut malam, warkop menjadi lokasi temu lintas kalangan, yakni pekerja, mahasiswa, sopir, tukang ojek, pelaku usaha, hingga pejabat. Semua duduk sejajar, berbagi cerita tanpa sekat.

“Warkop itu bukan soal kopinya, tetapi soal ketemunya,” ujar Didik, warga Kalibutuh, Surabaya, saat ditemui Beritasatu.com, Jumat (17/4/2026) malam.

Berbeda dengan kafe modern, warkop menawarkan kesederhanaan yang justru menjadi daya tarik utama. Secangkir kopi tubruk yang berkode cingkir cilik dengan harga terjangkau sudah cukup menjadi “tiket masuk” untuk menikmati suasana hangat penuh keakraban.

ADVERTISEMENT

Pada banyak kawasan, di balik kesederhanaannya, warkop justru menghadirkan kehangatan kuliner yang sulit ditemukan di tempat lain. Tanpa pendingin ruangan dan dekorasi mewah, interaksi terasa lebih jujur dan cair.

Namun, daya hidup warkop tidak berdiri sendiri. Ia bersanding erat dengan kuliner khas yang menjadi identitas kota, seperti soto ayam dan bakso.

Fenomena ini semakin kuat karena warkop hampir selalu berdampingan dengan kuliner rakyat seperti soto ayam dan bakso. Kombinasi ini menjadi paket lengkap bagi warga.

Pagi hari, soto ayam menjadi pilihan utama. Kuah hangat dan rasa ringan cocok mengawali aktivitas sebelum kembali menyeruput kopi di warkop.

“Kalau pagi ya soto dahulu, baru kopi. Biar badan anget, pikiran juga jalan,” kata Sumarmo, pelanggan setia warkop di kawasan Kedungdoro, Surabaya.

Sementara itu, bakso menjadi primadona saat sore hingga malam. Sepulang kerja, banyak warga memilih duduk santai di warkop sambil menikmati semangkuk bakso panas.

Ngopi tanpa bakso itu kayak nonton bola tanpa gol, kurang greget,” ujar Bonang salah satu penikmat warkop lainnya sambil tertawa.

Menurut data Badan Pusat Statistik Kota Surabaya, sektor usaha makan dan minum di Surabaya terus mengalami pertumbuhan, didorong oleh aktivitas ekonomi masyarakat dan berkembangnya usaha mikro, seperti warkop.

Warkop menjadi bagian penting dari ekosistem tersebut. Dengan modal relatif kecil, usaha ini mampu bertahan bahkan berkembang di tengah persaingan kafe modern.

Menariknya, banyak warkop kini mulai beradaptasi. Fasilitas wi-fi hingga colokan listrik ditambahkan untuk menarik generasi muda tanpa menghilangkan nuansa tradisional.

“Sekarang warkop sudah naik kelas, tetapi jangan sampai hilang rasa arek-nya,” celetuk Aris, mahasiswa yang kerap mengerjakan tugas di warkop.

Meski berubah, satu hal tetap sama, yakni warkop adalah tempat semua orang setara. Tidak ada batas status sosial, semua duduk di kursi yang sama, menikmati kopi yang sama.

Kehadiran soto ayam dan bakso di sekitarnya memperkuat ikatan itu. Kuliner dan obrolan menjadi satu kesatuan yang sulit dipisahkan.

“Di sini itu enaknya, makan bisa, ngobrol bisa, ketawa juga gratis,” ujar Tridianto seorang pelanggan lainnya sambil bercanda.

Pada akhirnya, warkop di Surabaya bukan hanya soal kopi, tetapi tentang kehidupan yang berjalan apa adanya, hangat, sederhana, dan penuh tawa di setiap sudut meja.

Obrolan Tanpa Sekat

Warung kopi (warkop) di Surabaya kini tak sekadar menjadi tempat melepas dahaga. Di ruang sederhana ini, politik justru tampil lebih jujur, tanpa protokol, tanpa sekat kekuasaan.

Di meja kayu penuh noda kopi, isu-isu besar negara dibahas dengan bahasa sehari-hari. Warkop menjelma ruang diskusi terbuka, tempat rakyat menyuarakan pendapat secara spontan dan apa adanya.

Fenomena ini menarik perhatian para politisi. Bukan tanpa alasan, warkop menghadirkan denyut suara publik yang mentah dan sering kali lebih tajam dibanding forum resmi. Di tempat inilah legitimasi diuji, bukan melalui pidato, melainkan lewat kemampuan mendengar.

Tercatat politisi sekelas Mahfud MD singgah di sebuah warkop kawasan Ngagel menjadi contoh nyata. Tanpa panggung formal, ia duduk sejajar dengan warga, memesan kopi hitam dan pisang goreng.

Kehadiran tersebut langsung memantik kerumunan. Mahasiswa, pengemudi ojek daring, hingga pelaku usaha kecil berkumpul. Mereka tidak datang untuk seremoni, melainkan menyampaikan keresahan secara langsung.

Suasana pun berubah menjadi dialog terbuka. Pertanyaan dilontarkan tanpa filter, kritik disampaikan secara lugas. Diskusi terkadang memanas, tetapi tetap berlangsung cair dan egaliter.

Dalam kondisi seperti itu, politik kehilangan jarak elitisnya. Program-program besar diuji dengan logika sederhana, apakah berdampak nyata bagi masyarakat, realistis, atau hanya janji kampanye.

"Obrolan warkop terkadang menyuarakan nurani warga tanpa sekat. Ada kejujuran alami di sana," ujar pakar komunikasi publik Universitas Airlangga (Unair) Suko Widodo, Kamis (16/4/2026) malam.

Respons spontan dari pengunjung kerap menjadi cermin paling jujur bagi para pengambil kebijakan. Kritik yang muncul di warkop sering kali lebih tajam dibanding forum resmi.

Fenomena ini menunjukkan transformasi warkop sebagai ruang demokrasi akar rumput. Di tengah hiruk-pikuk kota, warkop menjadi simpul penting tempat politik bertemu realitas.

Di sinilah, secangkir kopi bisa lebih tajam dari mimbar, dan obrolan santai mampu menggoyang narasi besar kekuasaan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon