ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Sinematografer Australia Tertarik Garap Proyek Film Bawah Laut di Bali

Rabu, 29 Mei 2024 | 09:17 WIB
TR
R
Penulis: Thomas Rizal | Editor: RZL
Sinematografer Blueback (2024) asal Australia, Rick Rifici, seusai konferensi pers Festival Sinema Australia dan Indonesia (FSAI) 2024, Selasa (28/5/2024).
Sinematografer Blueback (2024) asal Australia, Rick Rifici, seusai konferensi pers Festival Sinema Australia dan Indonesia (FSAI) 2024, Selasa (28/5/2024). (Beritasatu.com/Thomas Rizal)

Jakarta, Beritasatu.com - Sinematografer asal Australia, Rick Rifici mengungkapkan ketertarikannya untuk menggarap proyek film berlatar bawah laut (underwater) di Bali. Rifici sebelumnya dikenal sebagai sinematografer spesialis bawah laut, seperti dalam karyanya, Blueback (2022) yang ditayangkan di Festival Sinema Australia dan Indonesia (FSAI) 2024.

"Saya sudah tinggal 12 tahun di Bali, jadi tentu saja saya ingin membuat film yang berlatar bawah laut di Bali," kata Rifici, ditemui seusai pemutaran perdana Blueback di kawasan Senayan, Selasa (28/5/2024).

"Saya sudah berkeliling dunia, dan Indonesia memang memiliki banyak wisata bawah laut yang indah. Saya memang menyiapkan rencana untuk membuat film bawah laut di Bali," tambahnya.

ADVERTISEMENT

Dalam pembuatan film Blueback, Rifici dan timnya memanfaatkan perairan di Australia Barat. Ia mengaku kondisi alam dan cuaca yang tak dapat diprediksi menjadi tantangan utama dalam membuat film berdurasi 103 menit itu.

"Sebagai sinematografer, saya berkonsultasi dengan sutradara Robert Connolly tentang bagaimana gambar ingin diambil. Kami perlu melihat naskah, sketsa gambar, hingga akhirnya bisa mengambil yang kami inginkan. Tentu kondisi alam dan cuaca yang tak dapat diprediksi membuat pengambilan gambar perlu waktu yang panjang," ungkapnya.

Rick Rifici mengaku dalam waktu dekat akan kembali membuat film bawah laut. Ia sendiri siap mengeksplorasi genre film lainnya di masa mendatang.

"Proyek terdekat, kami akan mulai melakukan proses produksi pada pertengahan Juli. Yang satu ini masih serupa dengan Blueback. Ke depannya tentu saya tertarik menggarap proyek film dengan genre lainnya," ungkapnya.

Rencananya, Rick Rifici akan membagikan pengalaman dan ilmunya kepada para penonton FSAI 2024 dalam masterclass FSAI 2024. Selain Rifici, pakar film dari Australia lainnya yang akan menjadi pembicara, yakni Martin Potter (dosen screen and design School of Communication and Creative Arts Universitas Deakin), Steve Jaggi (CEO Jaggi Entertainment), dan Louise Curham (pembuat film dan dosen di School of Media, Creative Arts and Social Inquiry Universitas Curtin).

Tahun ini merupakan kali kesembilan FSAI digelar di Indonesia, sekaligus memperingati 75 tahun hubungan bilateral Indonesia dan Australia. FSAI 2024 digelar dari 31 Mei hingga 23 Juni 2024 di 10 kota, yakni Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Padang, Surabaya, Mataram, Makassar, Manado, Samarinda, dan Balikpapan.

Petualangan Sherina 2 akan menjadi film Indonesia yang diputar di FSAI 2024. Sementara lima film Australia yang akan diputar, yakni Blueback, Scarygirl, I am Woman, Talk to Me, dan Love is in the Air.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon