ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Memahami Virus Nipah yang Kembali Jadi Perhatian Kesehatan Global

Jumat, 30 Januari 2026 | 13:37 WIB
RA
RA
Penulis: Rizky Pradita Ananda | Editor: RP
Para petugas di Benggala, India harus mengenakan alat pelindung diri khusus saat menangani jenazah pasien terinfeksi virus Nipah.
Para petugas di Benggala, India harus mengenakan alat pelindung diri khusus saat menangani jenazah pasien terinfeksi virus Nipah. (Yonhap)

Jakarta, Beritasatu.com – Kehadiran virus Nipah tengah menjadi sorotan dunia kesehatan global. Kemunculannya mengakibatkan kekhawatiran apakah virus Nipah akan membuat dunia kembali berhenti sejenak karena pandemi seperti pandemi Covid-19.  Meski belum berkembang menjadi pandemi luas, karakteristik virus ini menjadikannya ancaman serius yang tidak bisa dipandang sebelah mata. 

Pemahaman mengenai virus Nipah menjadi hal penting sebagai langkah preventif agar masyarakat bisa tahu dan memahami risiko, jalur penularan, dan gejala sejak dini. Tak berbeda dengan Covid-19, virus Nipah dikenal memiliki tingkat kematian tinggi dan kemampuan menular lintas spesies. 

Reservoir alami virus ini adalah kelelawar buah dari keluarga pteropodidae, meski virus juga bisa menular ke hewan lain, seperti babi, yang kemudian menjadi perantara infeksi manusia. 

ADVERTISEMENT

Virus ini bukan virus baru, Nipah telah pertama kali terdeteksi pada 1998–1999 di Malaysia dan Singapura, terkait wabah besar di peternakan babi. Sejak itu, kasus Nipah dilaporkan berulang, terutama di Bangladesh dan beberapa wilayah India. Simak paparannya seputar virus Nipah, dihimpun dari berbagai sumber, Jumat (30/1/2026). 

Definisi Virus Nipah

Mengutip laman resmi Centers for Disease Control and Prevention (CDC), virus Nipah adalah virus zoonotik yang termasuk dalam keluarga Paramyxoviridae, genus Henipavirus. Virus ini mampu menular dari hewan ke manusia, serta dalam kondisi tertentu dapat menyebar antarmanusia.

Awal Kemunculan Virus Nipah

Virus Nipah pertama kali terdeteksi antara 1998 hingga 1999, dengan wabah terbesar terjadi di negara bagian Perak, Malaysia. Dari wilayah ini, virus kemudian menyebar ke Singapura melalui perdagangan dan pergerakan hewan ternak, khususnya babi. Virus Nipah tergolong endemik di beberapa wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara. Kasus infeksi telah dilaporkan di Bangladesh, India (terutama wilayah timur dan selatan), Malaysia, dan Singapura.

Pada wabah awal tersebut, tercatat sebanyak 265 kasus infeksi dengan 108 kematian, menunjukkan tingkat fatalitas yang sangat tinggi. Gejala utama yang muncul adalah demam tinggi dan ensefalitis, atau radang otak akut. Investigasi epidemiologis memastikan bahwa kelelawar buah merupakan pembawa alami virus Nipah.

Penularan awal terjadi ketika buah yang telah terkontaminasi air liur kelelawar jatuh ke area peternakan babi. Virus kemudian menyebar di antara babi sebelum menular ke manusia. Pada periode tersebut, wabah tidak meluas hingga Thailand.

Gejala Virus Nipah

Gejala infeksi virus Nipah dilaporkan sangat beragam dan dapat berkembang dengan cepat. Pada tahap awal, orang yang terinfeksi bisa saja tidak menunjukkan gejala, sementara yang lain mengalami gangguan pernapasan akut atau ensefalitis yang berpotensi fatal.

Gejala awalnya mirip dengan sakit flu biasa, meliputi demam tinggi, sakit kepala hebat, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan. Seiring perkembangan penyakit, pasien dapat mengalami pusing, kantuk berlebihan, perubahan tingkat kesadaran, serta gangguan neurologis yang menandakan terjadinya ensefalitis akut.

Para petugas harus mengenakan alat pelindung diri khusus saat menangani jenazah pasien terinfeksi virus Nipah. - (Yonhap/-)
Para petugas kesehatan di Benggala Barat, India harus mengenakan alat pelindung diri khusus saat menangani jenazah pasien terinfeksi virus Nipah. - (Yonhap/-)

Dalam kasus berat, virus Nipah dapat menyebabkan pneumonia atipikal dan gangguan pernapasan serius, termasuk sindrom gangguan pernapasan akut. Kondisi pasien bisa memburuk dengan cepat hingga koma dalam 24 hingga 48 jam setelah gejala berat muncul.

Pola Penyebaran Virus Nipah di Asia

Sejak 2002, terus muncul laporan terkait wabah virus Nipah dalam skala lebih kecil, terutama di kawasan Asia Selatan seperti Bangladesh dan India. Berbeda dengan wabah awal di Malaysia, penularan di Bangladesh sering terjadi langsung dari kelelawar ke manusia, misalnya melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi.

Pola ini memperlihatkan, wilayah dengan populasi kelelawar buah yang besar, praktik konsumsi makanan segar tanpa pengolahan, serta industri peternakan tertentu memiliki risiko lebih tinggi alias lebih rentan terhadap penyebaran virus Nipah.

Ilustrasi virus Nipah. - (Economic Times/-)
Ilustrasi virus Nipah. - (Economic Times/-)

Metode Penularan Virus Nipah

Berdasarkan fakta epidemiologis, virus Nipah dapat menyebar melalui sejumlah jalur utama:

  • Penularan dari hewan ke manusia

Penularan paling umum terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi, terutama kelelawar buah. Virus dapat masuk ke tubuh manusia melalui konsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi air liur, urine, atau kotoran kelelawar. Contoh yang sering dilaporkan adalah konsumsi getah buah mentah atau buah yang jatuh dan telah dijilat oleh kelelawar. Hewan ternak seperti babi dapat terinfeksi setelah terpapar virus dari kelelawar, lalu menularkannya ke manusia melalui kontak dekat.

Cegah penyebaran virus Nipah. - (Antara Foto/Noropujadi/Rany)
Cegah penyebaran virus Nipah. - (Antara Foto/Noropujadi/Rany)
  • Penularan antarmanusia

Virus Nipah juga dapat menular dari manusia ke manusia, terutama melalui kontak erat dengan penderita. Penularan terjadi melalui cairan tubuh, seperti air liur, lendir pernapasan, atau sekresi lainnya. Kasus penularan antarmanusia sering dilaporkan pada anggota keluarga atau tenaga medis yang merawat pasien tanpa mengenakan alat perlindungan diri yang memadai.

  • Melalui makanan atau minuman terkontaminasi

Konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi cairan hewan pembawa virus juga menjadi jalur penularan signifikan, khususnya di wilayah endemik seperti Bangladesh.

Kelompok Berisiko Tinggi Terinfeksi

Beberapa kelompok dinilai lebih rentan karena faktor pekerjaan, lingkungan, maupun pola interaksi sehari-hari:

  • Peternak dan Pekerja di Peternakan

Orang-orang yang bekerja di peternakan, khususnya dekat dengan habitat kelelawar buah, memiliki risiko lebih tinggi. Kontak langsung dengan hewan ternak yang terinfeksi atau lingkungan yang terkontaminasi cairan kelelawar dapat menjadi jalur penularan utama.

  • Pengumpul Nira dan Buah

Individu yang mengonsumsi atau mengumpulkan nira aren, jus segar, atau buah yang mungkin disentuh kelelawar berada pada risiko tinggi. Virus Nipah dapat bertahan di bahan makanan yang terpapar cairan tubuh kelelawar, sehingga konsumsi tanpa pemanasan atau kebersihan yang memadai dapat memicu infeksi.

  • Tenaga Kesehatan dan Perawat Pasien

Petugas medis dan perawat yang merawat pasien dengan infeksi Nipah sangat rentan tertular, terutama saat melakukan kontak dengan darah, air liur, atau lendir pernapasan pasien. CDC Amerika Serikat menegaskan tenaga kesehatan termasuk dalam kelompok berisiko tinggi jika prosedur pencegahan infeksi tidak dijalankan optimal.

  • Tenaga Laboratorium

Staf laboratorium yang menangani spesimen pasien Nipah berpotensi terpapar virus bila terjadi kontak tidak sengaja dan perlindungan biologis tidak memadai. Penerapan protokol biosafety ketat sangat penting di laboratorium.

  • Keluarga dan Kontak Dekat Pasien

Anggota keluarga atau siapa pun yang tinggal serumah dan merawat pasien tanpa perlindungan tepat dapat tertular melalui kontak fisik erat. Risiko ini meningkat selama masa infeksi aktif, terutama jika pemahaman antara pasien dan perawat pasien terkait pencegahan penularan rendah.

Daftar Negara di Asia yang Meningkatkan Pengawasan Penyebaran Virus Nipah 

Balai Besar Karantina Kesehatan (BBKK) Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, memperketat pengawasan terhadap seluruh pelaku perjalanan udara. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran virus Nipah yang tengah merebak di India.

BBKK menyiagakan thermal scanner di sejumlah titik kedatangan penumpang dan memperketat pemeriksaan kesehatan bagi penumpang yang tiba maupun berangkat melalui bandara. Kepala BBKK Soekarno-Hatta Naning Nugrahini mengatakan,  seluruh penumpang wajib mengisi deklarasi kesehatan melalui aplikasi All Indonesia. Data ini digunakan untuk memetakan risiko kesehatan penumpang.

“Saat ini, dengan adanya peningkatan kasus di India, Nepal, dan Thailand, langkah pertama yang kami lakukan adalah optimalisasi penggunaan aplikasi All Indonesia, khususnya pada fitur deklarasi kesehatan,” kata Naning, Kamis (29/1/2026). 

Melalui deklarasi kesehatan, petugas dapat memetakan risiko kesehatan penumpang sejak pertama tiba di bandara. Penumpang yang menunjukkan tanda atau gejala tertentu akan diarahkan ke pos kesehatan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Belum Masuk Indonesia

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus menegaskan, virus Nipah yang muncul dan tengah merebak di India sejauh ini belum ada terkonfirmasi kasus positifnya di Indonesia. Meski tingkat kematiannya tinggi, jumlah kasus Nipah di dunia masih terbatas. Ia meminta masyarakat tetap waspada, namun tidak panik berlebihan. 

“Belum sampai Indonesia. Di Thailand sudah bagus, dilakukan screening. Jadi, di Thailand karena kasusnya di India berada di satu wilayah. Di India pun baru dua kasus, jadi di India sudah langsung melakukan lockdown,” ungkap Benjamin. 

Indonesia saat ini telah melakukan deteksi dan skrining awal di pintu masuk internasional, terutama bandara, untuk mengantisipasi potensi masuknya virus Nipah.

Langkah-langkah ini menunjukkan Indonesia telah ancang-ancang dalam menghadapi ancaman virus Nipah dan memastikan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama.

Sementara itu, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan penyebaran virus Nipah yang terindikasi di India, salah satunya dapat diantisipasi dengan tidak memakan buah yang sudah terbuka. Ia mengatakan, penularan paling banyak terindikasi dari babi ke manusia. Ia menjelaskan virus Nipah berasal dari kelelawar yang masuk ke dalam buah, lalu buah tersebut dimakan oleh babi. 

Menkes Budi mengimbau masyarakat untuk tak mengonsumsi buah dengan kondisi yang telah terbuka, karena ada peluang buah tersebut bisa jadi telah dimakan atau digigit oleh hewan seperti kelelawar.

​"Penyakit ini penularannya lewat buah yang sudah dimakan atau digigit kelelawar, karena ludahnya masuk ke sana. Jadi apa yang mesti dilakukan? Untuk orang-orang Indonesia, ya kalau bisa jangan makan buah yang terbuka. Kalau makan jeruk, ya jeruk yang tertutup lalu dikupas sendiri jadi kita bisa lihat, atau lebih baik lagi makan nasi dan daging yang dimasak," jelas Menkes Budi saat ditemui di Rumah Sakit Kardiologi Emirates-Indonesia (KEI), Kamis (29/1/2026).

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Ahli UGM Ungkap Bahaya Virus Nipah dan Risiko dari Nira

Ahli UGM Ungkap Bahaya Virus Nipah dan Risiko dari Nira

JAWA TENGAH
Bukan Laju Penyebarannya, Ini yang Membuat Virus Nipah Berbahaya!

Bukan Laju Penyebarannya, Ini yang Membuat Virus Nipah Berbahaya!

LIFESTYLE
4 Penyakit Infeksi Paru-paru Ini Wajib Diwaspadai, Bisa Picu Kematian

4 Penyakit Infeksi Paru-paru Ini Wajib Diwaspadai, Bisa Picu Kematian

LIFESTYLE
Bukan Bahasa India, Ternyata Ini Asal Nama Virus Nipah

Bukan Bahasa India, Ternyata Ini Asal Nama Virus Nipah

LIFESTYLE
Pemkot Yogyakarta Perketat Surveilans Cegah Masuknya Virus Nipah

Pemkot Yogyakarta Perketat Surveilans Cegah Masuknya Virus Nipah

JAWA TENGAH
WHO Laporkan 1 Kasus Kematian Akibat Virus Nipah di Bangladesh

WHO Laporkan 1 Kasus Kematian Akibat Virus Nipah di Bangladesh

LIFESTYLE

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon