ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Cek Bentuk Bokong, Bisa Jadi Tanda Gangguan Gula Darah

Senin, 16 Februari 2026 | 08:43 WIB
WT
WT
Penulis: Wahyu Sahala Tua | Editor: WS
Studi MRI mengungkap bentuk otot bokong (gluteus maximus) dapat mendeteksi risiko diabetes tipe 2 karena perannya sebagai indikator utama kesehatan metabolik.
Studi MRI mengungkap bentuk otot bokong (gluteus maximus) dapat mendeteksi risiko diabetes tipe 2 karena perannya sebagai indikator utama kesehatan metabolik. (Google)

Jakarta, Beritasatu.com - Siapa sangka bahwa bentuk bokong seseorang dapat memberikan petunjuk awal mengenai kondisi kesehatan metaboliknya? Sebuah studi pencitraan terbaru mengungkapkan bahwa otot gluteus maximus, otot terbesar yang membentuk bokong manusia, dapat mengungkapkan risiko seseorang terkena diabetes tipe 2 jauh sebelum gejala-gejala medis umum muncul ke permukaan.

Penelitian yang dipresentasikan dalam pertemuan tahunan Radiological Society of North America ini berhasil mengidentifikasi adanya perubahan struktural pada otot bokong yang berkaitan erat dengan diabetes. Para peneliti menemukan bahwa otot ini bukan sekadar bantalan saat kita duduk, melainkan indikator penting bagi keseimbangan gula darah dalam tubuh.

Metode yang digunakan dalam studi ini tergolong sangat canggih, yakni teknik MRI yang disebut 3D statistical shape analysis. Teknologi ini memungkinkan ilmuwan membuat model detail struktur otot, bukan sekadar mengukur volume atau kadar lemak secara kasar. Dengan data dari 61.000 pemeriksaan MRI, tim peneliti memetakan bagaimana gaya hidup dan kondisi kesehatan memengaruhi bentuk otot tersebut.

Menariknya, perubahan bentuk otot pada pasien diabetes menunjukkan pola yang berbeda antara pria dan wanita. Dikuktip Everyday Health, Senin (16/2/2026), Dr  Marjola Thanaj, peneliti utama dari University of Westminster, menjelaskan bahwa perbedaan ini menunjukkan bagaimana penyakit diabetes menyerang jaringan otot manusia secara spesifik berdasarkan jenis kelamin.

ADVERTISEMENT

Pada pria yang mengidap diabetes, pemetaan 3D menunjukkan adanya "cekungan" atau area tipis yang spesifik pada otot gluteus maximus. Penipisan area tertentu ini merupakan tanda awal dari atrofi otot atau penyusutan jaringan. 

“Hal ini sering kali menjadi sinyal bahwa metabolisme tubuh mulai mengalami gangguan serius dalam mengolah energi,” ujarnya. 

Sebaliknya, pada wanita, polanya justru tampak berlawanan. Alih-alih menipis, otot bokong pada wanita yang berisiko diabetes cenderung menonjol ke luar secara tidak wajar. Benjolan ini disebabkan oleh infiltrasi lemak atau penumpukan lemak di antara serat-serat otot, sebuah kondisi yang sering disebut sebagai "hipertrofi lemak".

Lantas, mengapa otot bokong begitu berpengaruh terhadap risiko diabetes? Sebagai otot terbesar di tubuh manusia, gluteus maximus berfungsi sebagai "mesin metabolisme" utama. Otot ini memainkan peran besar dalam kemampuan tubuh untuk menyerap dan menggunakan glukosa (gula darah) sebagai bahan bakar energi.

Ketika seseorang bertambah tua atau kurang bergerak, massa otot akan berkurang dan digantikan oleh lemak. Kondisi ini memicu resistensi insulin, yaitu saat sel-sel tubuh berhenti merespons insulin dengan efektif. Akibatnya, kadar gula darah meningkat dan akhirnya berkembang menjadi penyakit diabetes tipe 2 yang kronis.

Para ahli menekankan bahwa menjaga kekuatan otot bokong adalah investasi kesehatan jangka panjang. Otot yang kencang dan terlatih bertindak sebagai pelindung terhadap disfungsi metabolik. Dengan kata lain, semakin aktif dan kuat otot gluteus Anda, semakin baik kemampuan tubuh Anda dalam mengendalikan kadar gula darah secara alami.

Kabar baiknya, risiko ini dapat ditekan dengan langkah-langkah sederhana. Mengurangi waktu duduk terlalu lama, menjaga berat badan ideal, dan rutin melakukan latihan kekuatan untuk area bokong dan kaki adalah kunci utama. Melalui temuan ini, masyarakat diingatkan bahwa bentuk tubuh bukan hanya soal estetika, melainkan cerminan dari kekuatan mesin metabolisme di dalam diri kita.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Jangan Sepelekan Obesitas karena Bisa Picu Diabetes hingga Kanker

Jangan Sepelekan Obesitas karena Bisa Picu Diabetes hingga Kanker

LIFESTYLE
Diabetes Tipe 2 Bisa Sembuh Tanpa Obat, Ini Kuncinya

Diabetes Tipe 2 Bisa Sembuh Tanpa Obat, Ini Kuncinya

LIFESTYLE
Kopi Hitam Dinilai Bantu Turunkan Risiko Komplikasi Diabetes Tipe 2

Kopi Hitam Dinilai Bantu Turunkan Risiko Komplikasi Diabetes Tipe 2

LIFESTYLE
Cahaya Alami Terbukti Perbaiki Metabolisme Penderita Diabetes

Cahaya Alami Terbukti Perbaiki Metabolisme Penderita Diabetes

LIFESTYLE
48.815 Warga Tangerang Idap Diabetes, 60 Orang Meninggal pada 2025

48.815 Warga Tangerang Idap Diabetes, 60 Orang Meninggal pada 2025

BANTEN
Skrining Digital AI Ditargetkan Bantu Deteksi Retinopati Diabetik

Skrining Digital AI Ditargetkan Bantu Deteksi Retinopati Diabetik

LIFESTYLE

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon