ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Mengenal Jembatan Otista Bogor, yang Kini Dirancang untuk Kereta Cepat

Minggu, 7 Mei 2023 | 09:11 WIB
HY
WP
Penulis: Heru Yustanto | Editor: WDP
Sejumlah kendaraan melewati Jembatan Otista Bogor, 7 April 2016. Jembatan tersebut terancam roboh akibat beban kendaraan satu arah.
Sejumlah kendaraan melewati Jembatan Otista Bogor, 7 April 2016. Jembatan tersebut terancam roboh akibat beban kendaraan satu arah. (Suara Pembaruan/Ignatius Janjam)

Bogor, Beritasatu.com - Penutupan jalan untuk dilakukan revitalisasi Jembatan Otista Bogor kini harus dibayar mahal dengan kemacetan di berbagai titik.

Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto meminta warga Bogor merasakan pahitnya kemacetan saat ini, demi perkembangan transportasi di masa mendatang.

Pasalnya, jembatan yang dibangun mulai tahun 1920 ini nantinya dibangun ulang dengan kekuatan bisa dilalui kereta cepat atau trem.

ADVERTISEMENT

Jembatan Otista yang awalnya hanya sebuah pematang untuk melintasi Sungai Ciliwung di lingkaran Istana Bogor, saat itu bernama Jembatan Treug Weg yang merupakan sarana untuk pengembangan ekonomi di kawasan seputar Istana Bogor.

Pembukaan jalur Otista ini benar-benar membuat geliat ekonomi di Bogor moncer, kawasan pusat perdagangan Surya Kencana berhasil menjadi magnet ekonomi di wilayah Jabotabek. Bahkan di Pasar Bogor dahulu sempat menjadi pusat distribusi dan penjualan ikan asin yang menguasai pasaran Jabotabek dan nasional.

Terlebih lagi saat Indonesia merdeka, dimana Istana Bogor juga menjadi lokasi Presiden Soekarno tinggal. Kawasan Surya Kencana semakin meningkat sehingga beban lalulintas di jembatan Otista juga terus meningkat.

"Jembatan ini kemudian dilakukan pelebaran sekitar tahun 1970 an,menjadi selebar 5,5 meter," lanjut Bima.

Memasuki era tahun 2000an, jembatan Otista kini tak lagi hanya penghubung masuk ke kawasan bisnis Surya Kencana, namun juga menjadi salah satu jantung transportasi di Kota Bogor. Jembatan ini tak saja melayani lalu-lalang warga yang akan berbisnis di Surya Kencana, namun juga menjadi jalur penghubung ke seluruh Kota Bogor.

Tahun 2016 lalu Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto memberlakukan kebijakan Sistem Satu Arah (SSA) di Istana dan Kebun Raya Bogor, sehingga jembatan Otista benar benar menjadi jantung menentu lancarnya lalulintas di Kota Hujan ini.

Sayangnya jembatan Otista hanya memiliki penampang sempit, lebarnya hanya sekitar 5,5 meter sehingga menjadi kawasan bottle neck karena ruas jalan Otista sudah dilebarkan menjadi kisaran 10 meter, belum ditambah dengan trotoar dan taman.

Tantangan lain, perkembangan transportasi menuntut adanya jalur kereta cepat atau trem di wilayah Bogor yang nantinya akan tersambung dengan LRT Jabotabek.

"Jembatan ini dirancang agar bisa dilalui oleh trem nantinya," lanjut Bima.

Bima mengajak warga Bogor untuk bersusah terlebih dahulu dengan kemacetan sebagai dampak penutupan jalan Otista, demi perkembangan transportasi di masa depan.

Sementara itu Kepala Dinas PUPR Kota Bogor Rena Da Frina mengungkapkan memang saat ini pihaknya tidak membangun jembatan untuk trem tersebut. Namun jembatan Otista dirancang akan memiliki tempat jika suatu saat trem dibangun melintasi jembatan Otista.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon