Sejarah dan Kronologi Perang Tabuk, Kemenangan Tanpa Pertumpahan Darah
Selasa, 4 April 2023 | 03:13 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Bulan Rajab menjadi salah satu bulan yang dimuliakan oleh umat Islam, selain terdapat peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Bulan ini juga menuliskan sejarah perang Tabuk. Simak ulasan sejarah dan kronologi perang Tabuk di bawah ini.
Perang Tabuk merupakan perang kedua kaum muslimin melawan kekaisaran Byzantium atau yang dikenal dengan wilayah Romawi Timur. Perang terakhir Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ini, berlangsung pada bulan Rajab tahun 9 Hijriah atau 630 Masehi.
Mengutip NU Online, dalam kalender Masehi perang ini diperkirakan berlangsung antara bulan September hingga Oktober 630 M. Tabuk sendiri merupakan nama tempat yang terletak antara Wadil Qura dan Syam, sebelah barat laut kota Madinah.
Lantas apa yang mendasari perang Tabuk dan bagaimana sejarahnya?
Sejarah Perang Tabuk
Perang Tabuk terjadi sebagai pembalasan kekaisaran Byzantium atas kekalahannya atas Islam pada perang Mu’tah pada 6 Hijriah silam. Dimana pihak Romawi ingin mendominasi wilayah utara dari Jazirah Arab.
Tak hanya ingin mendominasi, gangguan stabilitas politik di sebelah utara Arab oleh kekaisaran Byzantium juga menjadi salah satu hal yang mendasari terjadinya perang.
Oleh karena itu, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam beserta kaum muslimin memutuskan untuk melakukan perang Tabuk dengan tujuan meruntuhkan dominasi kekaisaran Romawi tersebut.
Dengan itu, kaum muslimin dapat lebih mudah untuk melakukan aktivitas dakwah dan ekonomi di kawasan tersebut. Perang ini juga disebut sebagai Ghazwah Al-Usrah yang artinya peang kesulitan dan kesempitan.
Pasalnya, perang ini terjadi ketika cuaca sangat panas dan musim paceklik. Akibatnya, para kaum muslimin yang terlibat perang harus menyembelih unta yang dikerahkan untuk perang demi keperluan makan dan minum.
Kisah tersebut tertulis dalam surah Al Quran surah At-Taubah ayat 117, sebagai berikut.
لَّقَد تَّابَ ٱللَّهُ عَلَى ٱلنَّبِىِّ وَٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ فِى سَاعَةِ ٱلْعُسْرَةِ مِنۢ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِّنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُۥ بِهِمْ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Artinya: Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.
Kronologi Perang Tabuk
Perang Tabuk berawal ketika kemenangan kaum muslimin terhadap penaklukan kota Makkah (fatḫu makkah). Meski berhasil, namun kekuatan besar kekaisaran Romawi masih menjadi ancaman.
Konflik antara kaum muslimin dengan Romawi sudah dimulai ketika terbunuhnya duta Rasulullah, Al-Harits bin Umair. Kemudian terjadi perang Mu’tah, dimana sejumlah kabilah Arab mulai bergabung dengan umat Islam.
Merasa terinvasi, kekaisaran Romawi mulai mengatur strategi untuk meruntuhkan kaum muslimin. Hal itu pun didengar dan mulai meresahkan kaum Madinah, tak lama informasi tersebut dibenarkan ketika serombongan orang dari Syam ke Madinah.
Mereka berjualan minyak sambil menginfokan bahwa kaisar Romawi, Heraklius sudah menyiapkan pasukan dengan 40.000 prajurit. Lalu, Rasulullah segera mengambil keputusan dengan pertimbangan militer yang matang.
Karena tidak ingin menunggu Romawi menjarah kekuasaan Muslim di Madinah, Rasulullah SAW berkerah keluar dari Madinah. Mendengar seruan tersebut, para sahabat Nabi menyumbangkan hartanya untuk keperluan perang.
Seperti Utsman bin Affan menyumbang 900 ekor unta dan 100 ekor kuda, belum termasuk dengan uang, Abu Bakar menyerahkan semua hartanya senilai 4000 dirham dan Abdurrahman bin Auf dengan 200 uqiyah peraknya.
Dengan persiapan matang, membawa 30.000 prajurit pasukan Muslim bergerak ke arah utara menuju Tabuk. Sementara itu, kepemimpinan Madinah dipegang oleh Ali bin Abi Thalib untuk sementara.
Sesampainya di Tabuk, Nabi Muhammad SAW memerintahkan Khalid bin Walid dan pasukannya untuk memantau pergerakan Byzantium di benteng depan. Namun, hal pasukan muslimin tak kunjung melihat tanda-tanda dari pasukan Romawi tersebut hingga 20 hari.
Tak hanya diam menunggu, Rasulullah SAW memanfaatkan momentum tersebut secara diplomatis. Beliau menjalin kerjasama dengan kaum Yahudi, Nasrani dan Badui yang ada di sekitar wilayah Tabuk.
Hal tersebut membawakan hasil, penduduk Tabuk sepakat untuk menjalin kerja sama. Mereka bersedia membayar pajak keamanan (jizyah) sebagai terima kasih atas keamanan di wilayah Tabuk.
Pasukan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan pengaruhnya secara diplomatis dan akhirnya perang Tabuk berakhir dengan kemenangan tanpa pertumpahan darah.
Lama Perang Tabuk
Perang Tabuk terjadi pada bulan Rajab 9 Hijriah dan berakhir di bulan Ramadan pada tahun yang sama. Perang yang tidak menimbulkan kontak fisik apapun ini berlangsung selama 50 hari.
Adapun pembagiannya adalah 20 hari Muslim berdiam di Tabuk dan 30 hari sisanya untuk menempuh perjalanan pulang pergi dari Madinah ke Tabuk.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




