Perlu Strategi Tepat Antisipasi Dampak El Nino
Jumat, 7 Juli 2023 | 23:29 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Strategi dan kejelian seluruh lapisan masyarakat tanah air dalam mengelola dampak El Nino yang diperkirakan akan mencapai puncaknya pada Agustus dan September 2023 dinilai sangat penting. Hal ini mengingat dampak El Nino akan mengancam ketahanan pangan di Indonesia.
Hal ini dikatakan Utusan Khusus Presiden (UKP) Muhamad Mardiono saat menyampaikan keynote speech pada Focus Group Discussion (FGD) strategi di Novotel Bogor Golf Resort and Convention Center Bogor, Kamis (7/7/2023).
"Kita menghadapi ancaman kekeringan akibat El Nino yang dapat mempengaruhi produksi pangan nasional. Kita memang perlu mengantisipasi kekeringan panjang dan ekstrem ini dengan strategi yang baik," ujar Mardiono.
Jika tidak diantisipasi dan diwadahi dengan strategi yang baik, maka kekeringan akan berubah menjadi bencana bahkan menimbulkan efek samping lain seperti gagal panen, krisis air minum dan kebakaran hutan yang secara langsung berdampak pada keberlangsungan ketahanan pangan. Antara tahun 1990 dan 2020, El Niño dikatakan telah menurunkan produksi beras di Indonesia sebesar 1 hingga 5 juta ton.
Beberapa penelitian juga menunjukkan hal yang sama, antara lain penurunan produksi beras di Banten dari tahun 2002 hingga 2015 akibat fenomena El Niño. Tahun ini, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat realisasi produksi beras masing-masing 2,8 juta ton dan 5 juta ton pada Februari dan Maret 2023, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya masing-masing 3,6 juta ton dan 5 juta ton.
"El Nino dan La Nina sebenarnya sudah menjadi fenomena umum, dan BMKG juga memprediksi Indonesia akan mengalami puncak paling ekstrim pada Agustus 2023. Sektor pertanian langsung dan nyata," ujarnya.
Selain itu, Mardiono menegaskan, otoritas yang berwenang harus memberikan perhatian khusus terhadap perlindungan petani yang gagal panen karena kondisi iklim yang ekstrim, kerugian ekonomi yang serius, dan kebakaran hutan dan lahan. Ini memiliki implikasi kesehatan yang serius, menakutkan.
Berdasarkan pengalaman di masa lalu, kabut asap yang menyelimuti kota-kota bahkan sampai ke negara tetangga membuat banyak orang pindah ke rumah dengan udara yang lebih sehat.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




