ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Dampak Super El Nino 2026, Akankah Picu Krisis Pangan?

Rabu, 13 Mei 2026 | 16:21 WIB
WS
TE
Penulis: Wasti Marentha Sihombing | Editor: TCE
Ilustrasi kekeringan dampak El Nino.
Ilustrasi kekeringan dampak El Nino. (Freepik.com/Jcomp)

Jakarta, Beritasatu.com - Sejumlah lembaga iklim internasional mulai memperingatkan potensi munculnya Super El Nino pada 2026 dengan kenaikan suhu permukaan Samudra Pasifik lebih dari 1,5 derajat celcius di atas rata-rata normal.

Fenomena ini tidak hanya berdampak pada perubahan cuaca global, tetapi juga berpotensi memicu krisis pangan, gangguan energi, migrasi besar-besaran, hingga ketidakstabilan politik di berbagai negara.

Dalam situasi global yang sudah dibebani konflik geopolitik, inflasi, dan ketimpangan ekonomi, ancaman Super El Nino dinilai bisa menjadi tekanan tambahan yang memperburuk kondisi dunia.

Perubahan iklim kini tidak lagi dipandang sekadar isu lingkungan. Dalam beberapa tahun terakhir, iklim mulai menjadi faktor strategis yang ikut memengaruhi stabilitas negara dan arah geopolitik internasional.

ADVERTISEMENT

Super El Nino 2026 Jadi Ancaman Stabilitas Negara

Fenomena El Nino sebenarnya bukan hal baru. Namun, kekuatan El Nino 2026-2027 diprediksi jauh lebih besar dibanding siklus biasa. Dampaknya diperkirakan terasa di banyak wilayah dunia, mulai dari kekeringan ekstrem, gagal panen, kebakaran hutan, hingga krisis air bersih.

Masalahnya, bencana iklim tidak terjadi di negara-negara yang benar-benar siap. Banyak wilayah dunia saat ini sudah berada dalam tekanan ekonomi dan sosial yang berat. Ketika cuaca ekstrem datang, negara dengan sistem pemerintahan lemah dan infrastruktur buruk akan menghadapi risiko paling besar.

Berdasarkan Inform Risk Index, kerentanan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh besarnya bencana, tetapi juga kemampuan pemerintah dalam melakukan mitigasi, menyediakan layanan publik, serta menjaga stabilitas sosial.

Wilayah seperti Sahel, Tanduk Afrika, hingga Afrika Tengah menjadi kawasan yang paling rentan karena harus menghadapi kombinasi kekeringan, konflik, kemiskinan, dan lemahnya kapasitas negara secara bersamaan.

Dalam kondisi seperti itu, perubahan iklim dapat menjadi pemicu runtuhnya stabilitas politik dan memperbesar potensi konflik sosial.

Krisis Pangan Bisa Jadi Pemicu Gejolak Politik

Salah satu dampak terbesar Super El Nino adalah ancaman terhadap ketahanan pangan global. Saat ini, sekitar 266 juta orang di 59 negara tercatat mengalami kerawanan pangan akut.

Cuaca ekstrem berpotensi merusak produksi pertanian di banyak wilayah dunia. Pada saat bersamaan, sektor pertanian modern sangat bergantung pada energi dan pupuk berbasis gas alam serta mineral penting seperti nitrogen dan fosfat.

Ketika harga energi naik dan distribusi logistik terganggu, harga pupuk ikut melonjak dan produksi pangan menjadi semakin mahal. Situasi ini bisa memperburuk inflasi pangan global.

Afrika bagian selatan menjadi salah satu contoh wilayah yang sangat rentan. Pada El Nino 2015-2016, kawasan tersebut mengalami kekeringan terburuk dalam 35 tahun. Jika pola serupa kembali terjadi pada 2026 dalam skala lebih besar, ancaman kelaparan massal bisa meningkat drastis.

Dalam sejarah modern, lonjakan harga pangan sering menjadi pemicu demonstrasi besar hingga pergantian pemerintahan. Oleh karena itu, krisis iklim kini mulai dipandang sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas politik nasional.

Perubahan Iklim Mulai Menggeser Pusat Kekuatan Dunia

Perubahan iklim juga mulai mengubah peta kekuatan global. Jika sebelumnya geopolitik dunia sangat bergantung pada minyak dan energi fosil, kini persaingan mulai bergeser ke penguasaan mineral kritis atau critical raw materials (CRM) yang dibutuhkan untuk transisi energi hijau.

Namun, kekayaan sumber daya alam saja tidak lagi cukup. Negara yang tidak mampu melindungi infrastruktur, menjaga pasokan pangan, dan mempertahankan stabilitas sosial saat bencana terjadi akan kehilangan pengaruh dalam sistem internasional.

Sebaliknya, negara yang mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan iklim diperkirakan akan menjadi pusat kekuatan baru di masa depan. Geografi kekuasaan dunia perlahan mulai mengikuti geografi adaptasi iklim.

Negara yang memiliki sistem energi tahan krisis, cadangan pangan kuat, serta kemampuan mitigasi bencana yang baik akan lebih stabil dibanding negara yang masih rapuh secara ekonomi maupun politik.

Iklim Kini Jadi Ujian Global

Dalam banyak kasus, bencana iklim tidak secara langsung menyebabkan perang. Namun, perubahan iklim bertindak sebagai stress test yang memperlihatkan kelemahan institusi negara.

Ketika kekeringan, banjir, atau kebakaran besar terjadi, masalah lama seperti ketimpangan sosial, korupsi, dan lemahnya tata kelola menjadi semakin terlihat.

Indonesia pernah mengalami contoh nyata pada krisis El Nino 1997-1998. Saat itu, kekeringan dan kebakaran hutan terjadi bersamaan dengan krisis finansial Asia dan meningkatnya tekanan politik terhadap pemerintah.

Kombinasi tekanan ekonomi dan lingkungan tersebut ikut mempercepat perubahan politik nasional pada akhir 1990-an. Situasi serupa dikhawatirkan bisa terjadi di beberapa kawasan lain pada masa depan, terutama di Mediterania Timur yang mengalami kenaikan suhu jauh lebih cepat dibanding rata-rata global.

Kondisi itu berpotensi memicu migrasi besar menuju Eropa serta meningkatkan ketegangan sosial dan politik regional. Fenomena Super El Nino 2026 menunjukkan perubahan iklim kini telah berkembang menjadi isu geopolitik global. Dampaknya tidak hanya menyentuh sektor lingkungan, tetapi juga ekonomi, pangan, energi, hingga keamanan internasional.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon