El Nino Ancam Pertanian Sigi dan Buol, Jagung dan Cabai Gagal Panen
Jumat, 1 Mei 2026 | 16:09 WIB
Buol, Beritasatu.com - Fenomena El Nino memicu gagal panen di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah. Kekeringan ekstrem membuat tanaman jagung dan cabai rusak sebelum masa panen, sementara sawah tadah hujan mengalami retakan akibat minimnya pasokan air.
Sejumlah wilayah seperti Kecamatan Momunu, Bokat, hingga Biau dilaporkan menjadi daerah terdampak paling parah. Kondisi ini memperburuk situasi petani yang bergantung pada curah hujan untuk menjaga produktivitas lahan.
Anggota DPRD Buol dari Fraksi PDI Perjuangan Arista menilai kondisi tersebut bukan situasi biasa dan membutuhkan respons cepat dari pemerintah daerah.
“Ini dampak nyata El Nino yang belum kita antisipasi bersama,” kata Arista kepada wartawan, Jumat (1/5/2026).
Selain merusak tanaman, Arista menyebut, debit air sumur warga menurun drastis. Hal ini berpotensi memicu tekanan ekonomi bagi rumah tangga petani dan pelaku usaha kecil.
Ia mendesak pemerintah kabupaten (Pemkab) Buol segera mengambil langkah konkret, seperti normalisasi jaringan irigasi, penyediaan pompa air darurat, serta penyaluran benih dan pupuk tahan kekeringan.
Sementara itu, di Kabupaten Sigi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mulai mengingatkan potensi dampak lanjutan El Nino. Ancaman tersebut mencakup sektor pertanian, irigasi, hingga meningkatnya risiko kebakaran lahan.
Kepala BPBD Sigi, Henri Kusuma Rombe mengatakan, tanda-tanda cuaca panas ekstrem mulai terlihat di sejumlah wilayah. Ia mengamati kondisi tersebut saat melintas dari Desa Maku menuju Bora dan Maranata.
“Jangan-jangan itu tanda-tanda El Nino,” ujarnya.
Henri menegaskan kondisi ini perlu diantisipasi secara serius, mengingat mayoritas masyarakat Sigi bergantung pada sektor pertanian. BPBD juga telah berkoordinasi dengan aparat kepolisian untuk mencegah potensi kebakaran dan kabut asap selama musim kemarau.
Ia juga meminta DPRD Sigi mendorong pemeliharaan jaringan irigasi dan sistem penyediaan air minum (SPAM) agar tetap berfungsi optimal. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus mendukung ekonomi masyarakat.
Selain itu, Henri menyoroti infrastruktur pertanian yang belum sepenuhnya pulih pascabencana 2018, termasuk jaringan irigasi dan Bendungan Gumbasa yang menjadi penopang utama sektor pertanian.
Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah tanggap darurat guna meminimalkan dampak El Nino serta menjaga ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi masyarakat di Sulawesi Tengah.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




