Sudah 22 Negara Batasi Ekspor Pangan demi Jaga Cadangan Dalam Negeri
Jumat, 29 September 2023 | 17:17 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan, 22 negara di dunia sudah membatasi ekspor pangan untuk menjaga cadangan pangan di negara masing-masing.
Jokowi menyebut, pembatasan ekspor pangan memperparah pasokan rantai pangan global yang sebelumnya sudah terganggu akibat ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina.
Presiden Jokowi mengungkapkan, jumlah negara yang membatasi ekspor pangan telah bertambah, dari yang sebelumnya tercatat hanya 19 negara di dunia pada beberapa minggu lalu, kini terdapat 22 negara yang sudah tidak lagi mengekspor bahan pangan. Jokowi menyebut salah satu pangan yang tidak lagi diekspor adalah beras.
"Tadi pagi saya baca bukan lagi 19, tetapi 22 negara saat ini sudah tidak mau mengekspor bahan pangannya termasuk di dalamnya adalah beras. Ada Uganda, Rusia, India, Bangladesh, Pakistan, dan Myanmar terakhir, juga akan masuk lagi tidak mengekspor bahan pangannya," ungkap Jokowi dalam pembukaan rakernas PDI Perjuangan di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada Jumat (29/9/2023).
Selain beras, salah satu bahan pangan yang rantai pasokannya terganggu, adalah gandum. Jokowi mengungkapkan mengungkapkan 207 juta ton gandum yang semestinya dapat diekspor ke negara-negara lain, saat ini tertahan di Russia dan Ukraina akibat ketegangan geopolitik antara kedua negara tersebut.
"Presiden Zelensky menyampaikan pada saya ada stok 77 juta ton berhenti di Ukraina karena perang. Begitu saya masuk ke Rusia, saya bertemu Presiden Putin beliau juga cerita di Rusia ada 130 juta ton gandum yang berhenti tidak bisa diekspor karena keamanan laut," jelas Jokowi.
Akibat terdapat 207 juta ton gandum yang tidak bisa diekspor, Jokowi menyebut sudah terjadi kekurangan gandum di beberapa belahan dunia, di antaranya di beberapa negara di Asia, Afrika, dan Eropa.
Jokowi mengatakan, di negara-negara tersebut harga gandum meroket sehingga membuat beberapa orang memilih untuk tidak mengonsumsi roti saat sarapan.
"Harga yang naik secara drastis dan bahkan kemarin saya membaca di sebuah berita, di satu negara maju di Eropa, anak-anak sekolah banyak yang sudah tidak sarapan pagi. Yang biasanya sarapan pagi, sekarang ini sudah tidak sarapan pagi karena kekurangan bahan pangan, karena mahalnya bahan pangan," jelas Jokowi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




