GP Ansor: Amien Rais Harusnya Jadi Teladan Anak Muda Berpolitik
Sabtu, 2 Mei 2026 | 22:38 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) menyayangkan pernyataan mantan Ketua MPR Amien Rais terkait Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya yang dinilai cenderung menyerang ranah pribadi dan berpotensi memicu perpecahan.
Ketua Umum GP Ansor Addin Jauharudin menegaskan, sebagai tokoh reformasi dengan rekam jejak panjang dalam demokrasi Indonesia, Amien Rais seharusnya dapat menjadi teladan dalam menjaga etika berpolitik, khususnya bagi generasi muda di ruang publik.
“GP Ansor menghormati hak setiap warga negara untuk menyampaikan kritik. Kritik yang keras sekalipun adalah bagian dari demokrasi. Namun, kritik tersebut harus tetap berada dalam koridor etika dan tidak menyerang pribadi, apalagi dengan tudingan yang mengarah kepada fitnah,” ujar Addin dalam keterangannya, Sabtu (2/5/2026).
Ia menilai pola komunikasi politik yang mengarah pada serangan personal berpotensi menurunkan kualitas demokrasi serta menciptakan preseden buruk bagi generasi muda dalam memahami praktik politik yang sehat.
“Ketika kritik berubah menjadi serangan personal tanpa dasar yang jelas, hal itu berpotensi bermuara pada fitnah. Ini bukan hanya merugikan individu yang disasar, tetapi juga merusak ruang publik yang seharusnya menjadi tempat pertukaran gagasan, bukan arena saling menjatuhkan,” lanjutnya.
GP Ansor juga berpandangan figur publik memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kualitas diskursus politik, terutama di tengah kondisi sosial yang membutuhkan ketenangan dan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.
Menurut Addin, pernyataan yang dilontarkan Amien Rais bukan kali pertama terjadi dan dikhawatirkan dapat menjadi contoh kurang baik bagi kalangan muda.
“Generasi muda melihat dan meniru. Jika tokoh-tokoh bangsa justru mempertontonkan pola komunikasi yang menyerang personal, maka ini menjadi contoh yang tidak terpuji dalam praktik demokrasi kita,” tegasnya.
Sebagai organisasi kepemudaan, GP Ansor mengajak seluruh elemen bangsa, terutama para tokoh publik, untuk mengedepankan kritik yang konstruktif, berbasis data, serta menjunjung tinggi etika dan nilai-nilai keadaban dalam berpolitik.
“Demokrasi yang sehat membutuhkan kritik, tetapi juga membutuhkan tanggung jawab. Mari kita jaga bersama ruang publik agar tetap beradab, rasional, dan bebas dari fitnah,” pungkas Addin.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




