ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Mahfud: Kecemasan Publik terhadap Berita Hoax Capai 83%

Selasa, 8 Februari 2022 | 11:35 WIB
SL
SL
Penulis: Surya Lesmana | Editor: LES
Menko Polhukam Mahfud MD
Menko Polhukam Mahfud MD (Istimewa)

Kendari, Beritasatu.com - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD mengungkapkan, survei terbaru Edelman Trust Barometer, yang baru saja diluncurkan pada bulan Januari tahun 2022 menempatkan Indonesia di peringkat kedua dalam hal kepercayaan terhadap media. Meski demikian, berdasarkan survei tersebut publik Indonesia memiliki kecemasan yang tinggi terhadap fake news atau hoax yang mencapai 83%.

"Indonesia juga menduduki posisi kedua, dan hanya kalah dari Spanyol dalam hal tingkat kecemasan terhadap hoax atau fake news (berita bohong). Kecemasan publik terhadap hoax di negara kita mencapai 83 persen," ujar Mahfud di Konvensi Media Massa peringatan Hari Pers Nasional 2022 di Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/2/2022).

Mahfud mengatakan, kepercayaan terhadap media di Indonesia naik satu persen dari tahun 2021 mencapai 73%. Sementara sebagian besar negara yang disurvei justru mengalami penurunan. "Karena itu, saya ucapkan selamat kepada Bapak Ibu dan Saudara semua atas pengakuan publik yang membanggakan ini".

Baca Juga: Pakar Komunikasi Soroti Marak Hoax dan Fitnah terhadap Menteri

ADVERTISEMENT

"Namun demikian, kecemasan publik terhadap hoax di negara kita mencapai 83 persen. Sebuah angka yang seakan memberikan pengakuan atas keprihatinan kita selama ini pada fenomena merebaknya hoax dalam beberapa tahun terakhir. hoax selama ini telah menjadi perhatian utama kita, baik pemerintah, masyarakat, dan para insan media untuk mengatasinya secara bersama-sama".

Menurut Mahfud, media nassa sebagaimana sebagaimana kita tahu adalah entitas yang bekerja dengan proses yang berjenjang dari lapangan ke ruang redaksi, memiliki standard etik dan kualitas yang terjaga, mensyaratkan verifikasi sehingga akurasinya terpenuhi, dan karena itu sudah seharusnya menjadi sumber utama publik dalam mendapatkan berita dan informasi terpercaya.

"Sementara pada sisi lain, media sosial yang sejatinya diharapkan menjadi wadah untuk berbagi, menjadi media yang memungkinan diantara warga berinteraksi secara positif, pada kenyataannya telah menjadi ruang besar warga yang kerap mengabaikan etika publik, bahkan tak jarang menjadi wadah penyebaran secara luas hoax, fake news, dan berbagai konten disinformasi".

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon