Tradisi 'Manuk Janur' Banjar yang Sarat Makna dan Hampir TerlupakanSumber: IniJabar.com
inijabar.com, Banjar- Di setiap helaran seni Hari Jadi Kota Banjar, ada satu sosok yang selalu mencuri perhatian. Sayapnya terkembang, tubuhnya menjulang, dan kilau janur yang dianyam rapi memantulkan cahaya matahari sore. Itulah Manuk Janur sebuah karya tradisi yang bukan sekadar hiasan parade, melainkan simbol kebijaksanaan, keteladanan, dan filosofi hidup masyarakat Banjar.
Bagi warga Kecamatan Banjar, Manuk Janur bukan sekadar replika burung. Ia dikenal sebagai representasi Burung Dadali atau Garuda—lambang keagungan dan kekuatan. Bedanya, burung ini tidak terbuat dari logam atau kayu, melainkan dari janur, daun muda pohon kelapa yang lentur dan mudah dibentuk. Dari tangan-tangan terampil para perajin desa, helai demi helai janur disulam menjadi mahakarya yang hidup dalam gerak tari dan irama musik tradisional.
Tradisi ini diyakini telah tumbuh sejak lama, berakar dari kebiasaan masyarakat Sunda yang akrab dengan pohon kelapa sebagai “pohon kehidupan”. Dari akar hingga daun, semua bagian pohon kelapa memiliki manfaat. Filosofi inilah yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk Manuk Janur—sebuah pengingat bahwa manusia pun harus memberi manfaat bagi sesama.
Tradisi 'Manuk Janur' Banjar yang Sarat Makna dan Hampir Terlupakan
BERITA LAINNYA
BERITA TERKINI
1
Jet AS Rontok di Iran, Ini Daftar Peristiwa yang Memalukan Amerika




