Ramadan: Jalan Pulang yang SunyiSumber: Porostimur.com
Oleh: Ady Amar, Kolumnis
Ramadan sering datang seperti cahaya yang jatuh perlahan di lantai kamar, tanpa suara. Tidak ada yang berubah secara tiba-tiba, tetapi udara terasa berbeda. Di sela kesibukan yang panjang, ada ruang kecil yang terbuka—ruang yang mengajak kita duduk sebentar, menarik napas, lalu bertanya pelan: sudah sejauh apa langkah kita dari rumah?
Ramadan bukan bulan yang gaduh. Ia tidak memerlukan panggilan yang riuh, sebab ia tumbuh dan bekerja dalam kesunyian hati: pada sahur yang temaram, pada azan yang menembus senja, pada doa-doa yang dilafalkan tanpa suara. Di situlah ia bergerak—perlahan, nyaris tak terasa—mengikis kerasnya hati, seperti air yang setia menetes di batu.
BACA SELENGKAPNYA
Ramadan: Jalan Pulang yang Sunyi
Bagikan
BERITA LAINNYA
BERITA TERKINI
2982005
2982004
2982002
2982001
2981999
2981998
2981970
2981997
2981996
2981933
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
1
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




