Freeport

Di "underground", kematian begitu dekat

Jumat, 23 September 2011 | 13:23 WIB
B
B
Penulis: BeritaSatu | Editor: B1

Setiap kali keluar dari tambang bawah tanah, darah keluar dari hidung, telinga dan mulut...

Anekdot soal kematian begitu dekat terdengar, saat bertemu beberapa karyawan bawah tanah PT Freeport Indonesia, yang sedang duduk-duduk sepanjang jalan menuju Kuala Kencana melanjutkan aksi mogok mereka. Sejak Kamis (15/9), ribuan pekerja menggelar aksi mogok di cek point 32 di Kuala Kencana, Timika Papua, lokasi kantor PT Freeport Indonesia (FI).

Aksi mogok digerakkan oleh pengurus Unit Kerja-Federasi Serikat Pekerja Kimia, Energi dan Pertambangan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia-PT Freeport Indonesia (PUK-FSP SPSI-PTFI). Aksi ini akan dilakukan sebulan, yaitu 15 September-15 Oktober. Mogok katanya, akan berhenti apabila ada kejelasan soal tuntutan karyawan kepada manajemen terkait kenaikan upah.

"Kematian begitu dekat dengan kami. Kaki kanan kami sudah berada di peti mati. Namun, perusaahan tak memperhatikan upah kami," ujar seorang karyawan kepada SP, yang tak mau menyebutkan namanya.

Karyawan pertambangan bawah tanah (underground) itu biasa dicandakan sebagai 'tikus tanah'. Sebab, mereka mencari dan menggali tambang dan emas di bawah tanah. "Ini semua kembali kepada nurani pihak manajemen untuk mau membicarakan dan menyelesaikan kasus ini," ujarnya. Ia mengaku mendukung aksi ini untuk mengubah nasib seluruh pekerja.

Sejumlah karyawan FI yang bekerja di underground mengaku, setiap kali mereka keluar dari lokasi tambang bawah tanah tersebut, hidung, telinga, dan mulut mereka pasti mengeluarkan darah. "Jumlah sangat banyak," ujar pekerja, yang tak mau disebutkan namanya.

Freeport memang menyediakan obat medis untuk para karyawan underground. Setelah meminum obat tersebut, darah akan berhenti mengalir. "Tapi, yang kami khawatirkan secara jangka panjang, apakah darah yang keluar begitu banyak tersebut, tak berdampak pada kesehatan kami terutama di usia tua nanti," ujarnya.

Tambang bawah tanah Freeport, memang sebagai bagian pekerjaan paling berisiko. Bagian ini, merupakan wilayah hampa udara. Para pekerja harus masuk hingga ribuan meter, melalui terowongan-terowongan bawah tanah, hingga ke pusat-pusat penggalian emas, dengan menggunakan tabung oksigen. "Para pekerja biasanya dua minggu berada di underground, baru kembali ke darat (permukaan, Red)," ujarnya.

Sampai di darat, para pekerja diwajibkan istirahat seminggu, dan minum obat. Setelah itu, harus aktif kembali bekerja seperti biasa.

Sumber SP menyebutkan, tak jarang pekerja underground tersebut meninggal dunia karena tak kuat menahan beban tanpa udara. Sedangkan mereka yang sakit, banyak yang berobat ke luar negeri dengan biaya perusahaan.

Rumors soal tambang bawah tanah yang rawan runtuh pun bukan rahasia lagi. Baru-baru ini, manajemen PT FI di ruang sidang DPRD Mimika, Papua mengakui, lokasi underground itu memang sementara cukup riskan dan berisiko tinggi karena ada air yang terus mengalir di dinding ruang bawah tanah itu. Jadi, harus dilakukan perawatan secara intensif, terutama pembersihan runtuhan tanah dan mengeringkan air.

Pola Lama

Kondisi ini makin mengancam nyawa para pekerja. Di sisi lain, perusahaan masih saja menggunakan konsep penggajian yang lama. "Pola pengupahan dan bonus masih menggunakan metode lama, meskipun sudah 16 kali Perjanjian Kerja Bersama (PKB) diubah hingga kini. Kondisi ini sudah berlangsung 32 tahun," kata

Ketua SPSI FI Sudiro, yang ditemui SP di Timika, disela-sela aksi mogok hari pertama. Dikatakan, konsep itu tidak sesuai lagi dengan kondisi zaman. "Kami ingin ada pembaruan konsep. Ibarat rumah, ini model kuno yang tidak punya bentuk dan pola. Ini yang harus diubah," ujarnya.

Dikatakan, para karyawan menginginkan gaya modern, yang disesuaikan dengan zaman. "Kalaupun tidak bisa, minimal ada konsep gabungan antara klasik dan modern. Kami inginkan ‘rumah’ moderen yang punya masa depan. Kita harus rasional, pembangunan rumah tidak bisa selesai satu hingga dua hari, tapi setidaknya kita punya satu konstruksi," ujarnya.

Jadi, perbaikan upah itu adalah pondasi bangunan, yang dikerjakan dengan transparan. "Kami yakin, ada satu titik temu, yang bukan hanya janji-jansi seperti selama ini, tapi ada bukti nyata," katanya.

Selama aksi demo, para pengurus serikat pekerja, berusaha menyemangati rekan-rekannya. "Kita harus kuat melawan diri kita sendiri dan menyerahkan semua masalah ini kepada Tuhan," ujar Sudiro, yang kemudian mengajak ribuan karyawan berdoa.

Seusai berdoa, mereka bertepuk tangan. Dan Sudiro pun menyemangati mereka. "Persusahaan ini kuat, tapi ada kekuatan yang lebih besar, yaitu Tuhan kita," ujarnya disambut tepuk tangan.

Sebelum Sudiro berorasi, pengurus lain SPSI Freeport Indonesia Juli Parorongan juga Virgo Solossa melakukan hal yang sama. "Jangan meyerah, kita satu untuk semua dan semua untuk satu. Bila ada isu-isu miring silahkan tanya langsung kepada kami. Tak perlu mendengar isu-isu murahan di luar," ujarnya.

Ditegaskannya, dirinya yakin dan percaya dengan campur tangan Tuhan semua bisa selesai. Aksi mogok karyawan Ini di dukung Wakil Direktur Aliansi Demokrasi Papua, Yusman Conoros. Kepada SP di Sekertariat ALDP, Padangbulan, Abepura, Yusman mengatakan, sebagai perusahaan kelas dunia, seharusnya Freeport malu kepada masyarakat Indonesia dan dunia. "Karyawan adalah aset yang berharga, harusnya mereka dapat menuntaskan kasus ini secepat mungkin dan jangan berlarut-larut," ujarnya.

Dikatakan, tak ada yang tidak bisa diselesaikan, kalau perusahaan berniat menyelesaikannya. Ia juga menyayangkan campur tangan aparat kepolisian dalam aksi itu. "Pihak aparat tak bisa memaksakan pekerja untuk segera bekerja, sebab itu tugasnya manajemen. Ini bukan tugas polisi," katanya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon