HM Aksa Mahmud

Harus Ada Modal Nekat

Selasa, 2 April 2013 | 15:05 WIB
AM
AB
Penulis: Abdul Muslim | Editor: AB
Aksa Mahmud
Aksa Mahmud (JG Photo)

Bekerja keras dan menjaga kepercayaan. Itulah prinsip yang selalu dipegang teguh HM Aksa Mahmud dalam menjalani hidup dan mengembangkan bisnisnya. Berkat prinsip itu pula, perusahaan yang didirikannya, Grup Bosowa, terus tumbuh, membesar, dan menggurita.

"Bisnis itu yang terpenting kepercayaan. Tapi kemauan juga harus keras. Kita tidak boleh menakut-nakuti diri. Artinya, kalau lebih banyak berhitung, tidak akan berhasil. Harus ada modal nekatnya," kata Aksa Mahmud di sela-sela acara ulang tahun ke-40 Bosowa di Makassar, baru-baru ini.

Bosowa kini memiliki 10 lini bisnis dan sekitar 40 anak perusahaan. Lini bisnis Bosowa terdiri atas sektor otomotif, semen, logistik dan transportasi, pertambangan, properti, jasa keuangan, infrastruktur, energi, media, dan multibisnis.

Karena kerja keras dan kemampuannya menjaga kepercayaan, Aksa Mahmud yang dilahirkan dari keluarga petani kini menjadi orang terkaya di kawasan timur Indonesia. Majalah Forbes awal tahun ini bahkan menempatkan pria kelahiran Barru, Sulawesi Selatan (Sulsel), 16 Juli 1945, itu pada urutan ke-34 orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan sekitar US$ 820 juta.

Belajar dari pengalaman hidup yang penuh perjuangan dan banyaknya bisnis orang kaya di Sulawesi Selatan yang bangkrut setelah ditangani generasi kedua, suami Hj Ramlah dan ipar mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla ini sukses menyerahkan tongkat estafet bisnis Grup Bosowa kepada anak-anaknya. Saat ini Bosowa dipimpin anak sulungnya, Erwin Aksa. Generasi pengganti ketiga juga mulai disiapkan.

Dari sekian banyak pesan, ada satu yang paling diwanti-wanti Aksa Mahmud kepada generasi penerusnya. "Pesan saya kepada anak-anak, jaga kekompakan keluarga. Persaudaraan harus menjadi yang tertinggi dibanding nilai-nilai yang lain," ujarnya. Berikut hasil wawancaranya.

Grup Bosowa telah ditangani penuh oleh anak-anak Anda. Sepertinya Anda sangat matang menyiapkan generasi pengganti?
Ya, harus begitu. Waktu saya menjadi ketua umum Hipmi Sulsel, ada 22 pengusaha yang menguasai semua sektor ekonomi di Sulsel. Itu masing-masing di daerah selatan, timur, dan lainnya. Kenapa semua perusahaan ini hanya seumur dirinya, kecuali perusahaan Pak Hadji Kalla. Sepeninggal mereka, saya cari istri dan anaknya. Kenapa perusahaannya tidak berlanjut dan apa yang sebenarnya terjadi.

Kalau keluarga Hadji Kalla itu karena Pak Hadjinya. Dia siapkan itu anak-anaknya. Kalau di keluarga Pak Hadji Kalla itu, pertama, anak harus sekolah. Kedua, anak tidak boleh berpakaian mewah, harus sama dengan pakaian teman sekolahnya, enggak boleh bermerek dan setingkat di atas teman-teman bermainnya. Saya ingat persis seperti itu. Nah, cuma itu yang selamat, dari 22 orang pengusaha.

Jadi, seingat saya, (kejatuhan 22 pengusaha Sulsel, Red) itu karena tidak disiapkan generasi penggantinya. Salah satunya, yang saya beli hotelnya, Shayla (di Makassar, Red). Waktu saya ketua Hipmi, bahkan anaknya saya jadikan bendahara. Ternyata tidak jadi juga.

Berarti menyiapkan generasi pengganti memang sangat berat?
Kesimpulan saya, generasi pengganti harus disiapkan. Saya ambil dari pengalaman hidup saya sendiri saja. Saya waktu kecil menderita. Kenapa akal saya banyak, ini akibat penderitaan. Saya ambil kesimpulan, akal itu bisa terbuka kalau kita susah.

Akhirnya, anak-anak saya didik dan bikin percobaan juga. Dari lima anak saya, empat saya coba setamat SMP harus tinggalkan rumah, harus kos, dan tidak saya kasih kendaraan.

Erwin Aksa (anak pertama) sekolah di Bandung SMA-nya. Naik angkot ke SMA 5. Sadikin (anak kedua) begitu juga. Melinda (anak ketiga) masuk pesantren di Bogor, kemudian saya pindahkan ke Singapura. Subhan (anak kelima) di pesantren di Sukabumi. Satu anak saya lagi (Atira anak keempat) tinggal di rumah, manja benar, untung dapat suami.

Itu buat percobaan. Jadi, akhirnya, saya lihat, yang penuh kesusahan waktu sekolah, potensinya bisa keluar. Kalau terbiasa susah, setiap permasalahan yang dihadapi pasti berusaha diselesaikan. Ini yang saya coba. Ini tidak ada di buku karena saya tidak baca buku.

Itu cara Anda melatih dan menggembleng mereka agar bertanggung jawab?
Naik kelas III SMA, Erwin saya baru kasih mobil. Tidak motor karena rawan kecelakaan. Dikasih mobil, saya ingin menghindari kuper (kurang pergaulan, Red) dia, biar Erwin gaul dan punya teman.

Kalau berangkat ke Bandung, saya kasih uang pas. Erwin dulu itu kalau ke Bandung sekian sebulan. Harus ada pertanggungjawaban. Kalau belum ada pertanggungjawaban masuk dari hasil ujian, itu saya tidak kirim uang berikutnya. Semua saya kasih begitu.

Jumlah uang saku untuk anak Anda seperti orang kebanyakan atau lebih besar?
Oh enggak, pas bujetnya. Sadikin itu jualan koran di Brisbane (waktu kuliah di Australia), bawa koran tiap pagi, ada 30-50 lembar. Erwin di Amerika, juga jualan koran. Pokoknya bujet sekian, tak ada kompromi. Dan harus saya kirimkan berikutnya kalau ada pertanggungjawaban hasil ujian. Saya kirim per semester.

Anda juga mengajarkan kekompakan kepada anak-anak?
Ya, kekompakan itu persyaratan mutlak. Karena begini, risikonya perusahaan keluarga kalau pecah, bisa karena istri, suami, dan lainnya. Kontrak saya dengan Erwin ketika menyerahkan pimpinan Bosowa adalah kami boleh habis uang, tapi jangan pecah persaudaraan. Uang kau bisa cari, tapi sekali kau pecah dengan saudara, susah kau temukan kembali.

Persaudaraan itu harus yang tertinggi dari nilai-nilai yang lain. Kalau kau retak, biar saya kasih gunung Bosowa, itu akan habis karena akan rebutan.

Yang kedua, itu saya bilang, kontraknya harus membesarkan Bosowa. Karena, saya sendiri bisa bangun jalan tol, pabrik semen, kalian berlima, ya harusnya menjadi lima kali lipat minimum dari apa yang saya serahkan. Pada 2006, Erwin sudah masuk (CEO Bosowa).

Bagaimana pembagian tugas keluarga di perusahaan?
Finansial dan otomotif itu difokuskan ke Sadikin. Pengembangan transportasi ke Subhan. Melinda, karena perempuan, biar bisa sambil mengurus anak ditugasi untuk kegiatan sosial (di Bosowa Foundation, Red).

Yang manja tadi (Atira) disuruh pegang dana keluarga. Dana keluarga ini disisihkan dari keuntungan perusahaan untuk menambah terus dana keluarga. Tidak boleh ada yang bertarung. Ini ada anaknya yang sekolah mahal dan jomplang. Tujuannya untuk menghindari kecemburuan seperti itu. Atira yang pegang dana keluarga ini background-nya accounting, kuliah di San Fransisco. Sempat saya kasih kerja di CT (Chaerul Tanjung, Red), tiga tahun di Bank Mega.

Anda punya rencana menjadikan Bosowa sebagai perusahaan publik?
Kami memang perusahaan keluarga. Tapi seperti saya bilang, saya minta Erwin mengembangkan perusahaan ini menjadi perusahaan keluarga yang berbasis profesional.

Kemudian pertanyaan mengenai go public, saya masih ngerem masuk di situ. Karena kalau sudah go public, sangat gampang mencari uang cash dengan menjaminkan saham. Pada saat jatuh tempo, jika dia tidak mampu menebus, lewat itu perusahaan. Karena itu, saya lebih cenderung perusahaan ini dipertahankan seperti ini saja dulu. Kalau go public, high risk.

Tapi, memang ada yang go public untuk sejumlah perusahaan, seperti Nusantara Infrastruktur yang mengelola jalan tol, Bank Kesawan. Semua perusahaan join.

Banyak perusahaan ketika krisis moneter dan krisis finansial berjatuhan. Bagaimana perusahaan Anda bisa bertahan?
Robby Johan, dirut Bank Mandiri ketika itu, 2-3 kali memanggil saya untuk dimasukkan ke Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Saya selalu jawab, saya belum menyerah. Orang kan kalau dimasukkan ke situ sudah menyerah.

Karena saya tidak mau masuk BPPN, kemudian keluar kebijakan pemerintah, utang tidak dipotong, tapi dijadwal ulang, dari lima tahun diundur jadi 10 tahun. Itu saya bisa bernapas. Begitu ekonomi pulih langsung membaik, langsung bisa menyelesaikan kewajiban.

Apakah bisnis yang Anda jalani selalu menyangkut hajat hidup orang banyak?
Enggak. Itu karena saya berasumsi sederhana, tingkatan semen hampir sama dengan nasi, beras. Orang kalau makan nasi karena mau hidup. Orang mau pakai semen karena mau ada perubahan. Tidak mungkin ada perubahan tanpa semen. Karena itu, semen juga disebut konsumsi per kapita seperti beras.

Anda dulu belajar bisnis semen di mana dan dari siapa?
Sederhana saja sebenarnya. Saya dulu mengerjakan bendungan pengairan. Saat saya mau ngecor dam, semen hilang. Pas seminggu muncul lagi, naik harganya menjadi mahal, marah benar saya. Saya bilang ke distributornya, pokoknya saya mau buat pabrik semen. Nekat saja.

Akhirnya kalau ada seminar, saya mulai ikut. Rachid Hamdani itu, orang Swiss, saya ketemunya di seminar di Singapura. Dia membawakan makalahnya ABB Swiss, dia GM-yang ditempatkan di Bangkok. Ketika menyampaikan topik industri semen ASEAN dia bawakan makalah.

Anda berbisnis sejak umur berapa?
Saya waktu sekolah SR (sekolah rakyat, Red) jualan permen, ada juga kue tradisional. Kalau bulan puasa, saya jual es batu, itu saya potong-potong, separuh untuk buka puasa. Kemudian, saya beli kurma 1 kg, terus kurma saya tusuk-tusuk, satu tusuk lima biji. Saya jual waktu tarawih.

Anda mengikuti jejak orangtua juga?
Bapak saya petani. Tapi bapak saya juga kalau selesai bertani suka membawa sapi ke Kota Makassar. Sudah ada usaha juga, cari untung juga kan. Kalau panen, bawa beras 1 truk. Tapi tidak ada PT-nya, kalau lagi musim aja jualannya.

Anda juga berbisnis mobil. Bagaimana ceritanya?
Saya jual mobil Datsun. Petunjuk juga dari Tuhan, Pak Sumar ke sini orangnya kaya, kebetulan ketemu saya, dia bilang mau cari dealer di sini, ya saya terima. Tapi yang saya sangat belajar jual Datsun melalui Indokaya (Indonesia Kaya Raya). Datsun dipegang saya, Toyota dipegang Pak Kalla. Kemudian setelah bangkrut Indokaya, sempat berhenti kan saya.

Kemudian, ada dealer Mitsubishi di sini, tapi dia (pemilik dealer) jual DO (delivery order) di Jakarta, mobilnya enggak sampai sini (Makassar, Red). Akhirnya, perwakilan Mitsubishi cari dealer. Masuklah saya, saya di-banyakin jatah kiriman Mitsubishi, pemilik dealer yang lain dikurangi. Akhirnya, Manado juga begitu. Akhirnya, saya juga beli dealer di Palu, Ambon, dan NTT.

Apa kiat Anda hingga bisa mencapai kesuksesan dari usaha yang kecil menjadi besar?
Kalau prinsip saya itu adalah bekerja keras. Slogan ini memang sudah umum. Tapi, dengan bekerja keras itu, harus juga didasari kepercayaan. Bisnis itu yang paling terpenting itu kepercayaan. Tapi kemauan harus keras. Kita tidak boleh menakut-nakuti diri. Artinya lebih banyak berhitung, ah itu tidak akan berhasil. Harus ada modal nekatnya.

Anda tidak pernah terkendala modal?
Saya selalu bilang, kalau ada kepercayaan, modal itu akan datang sendiri ke kamu. Itu yang saya selalu tanamkan ke mitra bisnis dan dia (Erwin, Red). Kalau saya mendengar kau tidak punya uang, saya tidak sedih. Tapi saya sedih kalau saya dengar orang tidak percaya kau, kau mengakali orang. Karena itu adalah pintu berakhirnya kita di dunia bisnis.

Apa saja gebrakan bisnis Anda?
Sebenarnya, saya tidak pernah merasa perusahaan ini besar. Saya melihat selalu ada kekurangan dan kebutuhan, sehingga terus-menerus ada kekurangan serta selalu bertarung terus. Karena itu, kami terus membangun karena merasa ada kekurangan. Saya merasa kadang tahu wartawan yang menghitung aset saya.Sekarang, secara keseluruhan sudah diaudit sama Erwin. Itu sudah benar.

Berapa nilai aset Bosowa dan apa tanggapan Anda terhadap hasil pemeringkatan majalah Forbes bahwa kekayaan Anda mencapai US$ 820 juta?
Ya mungkin saja apa yang dibilang orang. Kalau dibilang US$ 820 juta, ya US$ 820 juta. He..he..he..he.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon