Rencana Sodetan Ciliwung-Cisadane Terus Dimatangkan

Kamis, 23 Januari 2014 | 01:49 WIB
SH
B
Penulis: Siprianus Edi Hardum | Editor: B1
Petugas Bendungan Pintu air Sepuluh sungai Cisadane sedang memantau ketinggian debit air, Tangerang, Banten, Selasa (21/1). Pemkot Tangerang dan Pemkab Tangerang beserta masyarakat menolak terkait rencana pembuatan sodetan Ciliwung yang diusulkan oleh Gubernur DKI dan Jabar.
Petugas Bendungan Pintu air Sepuluh sungai Cisadane sedang memantau ketinggian debit air, Tangerang, Banten, Selasa (21/1). Pemkot Tangerang dan Pemkab Tangerang beserta masyarakat menolak terkait rencana pembuatan sodetan Ciliwung yang diusulkan oleh Gubernur DKI dan Jabar. (Antara/ Aditya)

Jakarta - Kepala Wilayah Sungai Besar Ciliwung-Cisadane di Kementerian Pekerjaan Umum (PU), T Iskandar, menjelaskan mengenai rencana pembangunan sodetan Ciliwung-Cisadane. Antara lain dipaparkan bahwa jalur proyek sodetan Ciliwung-Cisadane dimulai dari Kelurahan Ranggamekar, Katulampa, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, sampai ke Kelurahan Sukasari, Cisadane, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, Banten.

"Nantinya akan dibangun deep tunnel, terowongan dengan panjang kira-kira 1 kilometer, dalam 8 meter, dan lebar 2 meter," kata Iskandar, Rabu (22/1), sambil menambahkan bahwa desain sodetan dibuat pada 2007 dan sampai saat ini belum ada perubahan.

Berdasarkan kajian sementara Balai Besar Ciliwung-Cisadane, jika Ciliwung dan Cisadane disodet, debit Ciliwung-Katulampa akan berubah dari 780 meter kubik per detik menjadi 490 meter kubik per detik. Sedangkan debit Cisadane-Empang meningkat dari 810 meter kubik per detik menjadi 970 meter kubik per detik.

Menurut Iskandar pula, pihak Tangerang tidak perlu khawatir, karena di sodetan itu akan ada pintu air. Kalau Sungai Ciliwung kelebihan debitnya dan kebetulan Cisadane debitnya kurang, maka air bisa dialirkan ke Cisadane. Begitu juga sebaliknya.

"Dan banjir itu tidak mungkin datang bersamaan di Sungai Ciliwung dan Cisadane," tandasnya.

Menteri PU, Djoko Kirmanto sendiri mengakui, hingga saat ini masih ada penolakan dari Bupati dan Walikota Tangerang selaku pimpinan daerah di mana Kali Cisadane berlokasi. Menurutnya, dia dapat memahami alasan penolakan tersebut.

"Warga Tangerang menganggap, jika Kali Cisadane dialiri air sodetan Kali Ciliwung, maka akan berakibat banjir di Tangerang. Namun demikian, saya mendengar alasan-alasan mereka sangat logis. Jadi, perlu kita pertimbangkan baik-baik," ujar Djoko.

Solusi teknis yang bisa dilakukan menghadapi ketakutan warga Tangerang tersebut, menurut Djoko pula, salah satunya adalah dengan pembuatan pintu air. Dengan adanya pintu air menurutnya, maka pengalihan debit air hanya akan dilakukan bila kondisi air di Kali Cisadane minim.

Walau demikian, Djoko pun mengaku telah meminta Direktur Jenderal Sumber Daya Air (Dirjen SDA) untuk terus berkomunikasi dengan Bupati, Walikota dan warga Tangerang, untuk menyelesaikan masalah ini. Dirinya sendiri pun menurutnya akan turun langsung untuk berdiskusi dengan mereka, untuk mencari solusinya.

Sementara itu, Dirjen SDA, Mohammad Hasan menambahkan, sambil terus berupaya melakukan konstruksi sodetan Ciliwung-Cisadane, pihaknya akan mulai menormalisasi Kali Cisadane khususnya di bagian hilir. Harapannya, dengan normalisasi, kapasitas air yang mengalir di dalamnya akan bertambah.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon