Aprina Dwi Pancari

Belajar Disiplin dari Renang dan Aerobik

Jumat, 14 Maret 2014 | 13:56 WIB
G
AB
Penulis: GUS | Editor: AB
Aprina Dwi Pancari, Corporate Communication PT Electronic City Indonesia Tbk
Aprina Dwi Pancari, Corporate Communication PT Electronic City Indonesia Tbk

Kata "disiplin" secara etimologis berasal dari bahasa Latin, discipulus, memiliki arti murid atau pembelajar. Seseorang menjadi berdisiplin tidak datang begitu saja, tetapi diraih dalam sebuah proses belajar yang berkesinambungan. Dalam proses belajar itu, seseorang menempatkan diri menjadi pembelajar.

"Kata kunci untuk seorang pembelajar adalah rasa ingin tahu dan terus mencoba hingga sukses. Pada renang dan aerobik, saya belajar tentang disiplin. Kita tidak bisa berenang serampangan kalau tidak ingin tenggelam. Juga, kita tidak bisa senam sesuka hati kalau tidak mau otot terkilir dan patah tulang," ujar Corporate Communication PT Electronic City Indonesia Tbk Aprina Dwi Pancari di Jakarta, baru-baru ini.

Na, demikian dia biasa disapa, lahir di Bandung, Jawa Barat pada 27 April 1981. Perempuan Sunda ini selalu mengalokasikan waktu khusus untuk berenang dan aerobik setiap akhir pekan. Dia biasa menjalani hobinya itu sendiri ataupun dengan teman-temannya.

Sejak kecil, Na memang sudah suka berolahraga. Dia bisa melakoni banyak jenis olahraga. Namun kemudian, renang dan aerobik terasa lebih nyaman dan praktis untuk situasi dan kesibukannya yang kini bekerja di salah satu korporasi penjualan alat-alat elektronik tersebut.

Dia menjelaskan, setiap orang bisa belajar disiplin diri dan disiplin waktu dari berenang dan aerobik. Sebab, seseorang harus membagi waktu antara kesibukan dan hobinya. Seseorang juga harus bersiap diri untuk menguras tenaga dan pikiran dalam berhobi.

Selain itu, lulusan fakultas pertanian Universitas Padjadjaran Bandung ini menyukai dunia masak-memasak. Kesukaannya memasak menurun secara genetika, karena sang ayah, ibu, serta keluarga besarnya menyukai kegiatan memasak. Dia mengaku selalu ingin memasak dengan bahan dan bumbu terbaik. Jika masakannya dinilai tidak enak, dia akan terus mencoba hingga hasil olahannya menjadi memuaskan.

"Saya selalu suka melihat orang sibuk di dapur. Sejak kecil, tempat favorit keluarga kami adalah dapur," ujarnya.

Menurut Na, saat berenang dan aerobik, dia belajar disiplin untuk diri sendiri, tetapi pada masak-memasak sebaliknya. Ada kepuasan tersendiri kalau hasil masakan dinikmati oleh orang-orang tercinta, seperti suami dan para kerabat. Ada dimensi sosial yang penuh sentuhan kasih dan pengabdian dalam memasak serta menyajikan hidangan.

Harmonis
Ada pertemuan yang harmonis antara renang dan aerobik dengan memasak. Manusia selalu mempunyai sisi dan kebutuhan untuk me time dan social time. Ada rasa bahagia yang penuh jika bisa membahagiakan orang lain. Hal itu hanya bisa dilakukan dan dipersembahkan oleh pribadi yang sudah berbahagia dalam dirinya sendiri.

"Hal lainnya, kalau dalam memasak dan makan kita mengkhawatirkan obesitas, tetapi dalam berolahraga kita ingin bentuk badan dan kesehatan terjaga," tuturnya.

Sementara itu, dalam kehidupannya, Na mengantongi filosofi sederhana, namun mendalam, yakni ikutilah nasihat orangtua!. Terdengar kuno dan kolot, namun itulah inti dari semua kebaikan hidup anak manusia. Orang Latin mempunyai peribahasa amare parentes prima natura lex (mencintai orangtua adalah hukum alam yang mendasar).

"Saya selalu berguru pada orangtua. Untung dan bersyukur, orangtua saya terbuka, memberi kebebasan, dan mempercayakan tanggung jawab pada anak-anaknya," ujarnya.

Jika nanti memiliki anak, dia ingin menjadi sahabat bagi perjalanan hidup anak-anaknya. Na dan suami berkomitmen untuk mendidik anak-anak secara baik dan penuh kasih sayang, sebagaimana mereka mendapatkan balutan cinta kasih dari orangtua mereka.

Nyaman Bekerja
Na mengaku nyaman dengan pekerjaannya saat ini di Electronic City karena sesuai dengan kemampuannya. Atmosfer pekerjaan di perusahaan yang sudah terdaftar di Bursa Efek Indonesia itu membuatnya betah. Apalagi, dia memiliki teman-teman kerja yang solid dan suasana kekeluargaan yang sangat terasa di kantor.

"Di tengah Jakarta yang terkesan masyarakatnya egoistis dan kapitalistis, kami di kantor selalu menunjukkan bahwa semangat kekeluargaan dan cinta kasih tetap merupakan nilai universal yang diterima dan membahagiakan semua orang," jelasnya.

Dalam hati, dia pun kadang terus berharap, Indonesia dan Jakarta yang beraneka ragam ini menjadi sebuah home (rumah) yang baik untuk semua orang. Home itu hanya tercapai apabila setiap orang ingin menunjukkan yang terbaik dari masing-masing pilihan dan pengabdian hidupnya.

"Nah untuk menjadi yang terbaik, orang harus disiplin. Salah satu pembelajaran disiplin adalah melalui renang dan aerobik. Pada gilirannya, ketika yang terbaik hadir, kita merasakan hidup sebagai sebuah pesta yang layak dirayakan dalam sebuah perjamuan penuh makna," imbuhnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon