Semen Indonesia Berniat Akuisisi Lagi Perusahaan Semen di Vietnam

Sabtu, 17 Mei 2014 | 06:53 WIB
PD
AB
Penulis: Primus Dorimulu | Editor: AB
Direktur Utama Semen Indonesia Dwi Soetjipto memberikan presentasi kepada para pemred Indonesia di Hanoi, Jumat (16/5).
Direktur Utama Semen Indonesia Dwi Soetjipto memberikan presentasi kepada para pemred Indonesia di Hanoi, Jumat (16/5). (BeritaSatu.com/Primus Dorimulu)

Hanoi- PT Semen Indonesia Tbk berencana mengakuisisi lagi perusahaan semen di Vietnam sebagai upaya menjadi market leader di ASEAN. Seiring pembangunan pesat di bidang konstruksi, properti, dan infrastruktur transportasi di berbagai negara ASEAN, pasar semen akan terus mengalami kekurangan jika kegiatan ekspansi produksi melambat.

"Kami sudah satu setengah tahun di Vietnam dan prospek usaha di sini bagus. Sesuai dengan rencana, kami tengah menjajaki kemungkinan untuk mengakuisisi lagi sejumlah pabrik semen di sini," kata Dirut PT Semen Indonesia Tbk, Dwi Soetjipto dalam presentasinya kepada para pemimpin redaksi media massa Indonesia di Hanoi, Vietnam, Jumat (16/5).

Pada Sabtu (17/5), para pemimpin redaksi akan meninjau langsung lokasi pabrik yang diakuisisi Semen Indonesia awal tahun lalu dengan nilai sekitar Rp 1,5 triliun, yakni Thang Long Cement yang terletak di Provinsi Quang Ninh.

Semen Indonesia juga berencana membangun satu pabrik semen setiap tahun di Indonesia untuk terus memperkuat posisi sebagai market leader. Saat ini, pangsa pasar Semen Indonesia sekitar 45 persen. Dari kapasitas produksi semen nasional sebesar 68 juta ton, produksi semen tahun ini sekitar 64 juta ton, sedang konsumsi nasional diperkirakan 62 juta ton.

Dengan pertumbuhan pembangunan konstruksi, properti, dan infrastruktur transportasi di Indonesia yang cukup pesat, konsumsi semen acap melonjak melampaui produksi. Itu sebabnya, perusahaan semen harus selalu meningkatkan kapasitas produksi, baik dengan memperluas pabrik yang sudah ada maupun dengan membangun pabrik baru. Semen Indonesia kini tengah membangun pabrik baru di Rembang, Jawa Tengah dan Indarung VI di Padang.

Kapasitas pabrik Semen Indonesia saat ini sekitar 31,8 juta ton per tahun, termasuk 2,5 juta ton di Vietnam. Dalam tiga tahun ke depan, kata Dwi, perseroan menargetkan peningkatan kapasitas 10,5 juta ton menjadi 42 juta ton. "Kami berusaha mencapai pertumbuhan 10 persen atau di atas pertumbuhan nasional 6 persen," ujarnya.

Prospek Vietnam
Vietnam diincar sebagai salah satu basis produksi Semen Indonesia di era ASEAN Economy Community atau Masyarakat Ekonomi ASEAN yang dimulai akhir 2015. Vietnam dan Thailand, demikian Dwi, adalah dua negara ASEAN yang saat ini kelebihan pasokan semen, masing-masing 20 juta ton dan 15 juta ton. Sedangkan Singapura, Myanmar, Brunei, Kamboja, dan Laos selalu defisit, sehingga mengandalkan semen impor. Defisit semen di Singapura dan Myanmar masing-masing 5 juta ton per tahun.

"Kami memilih Vietnam karena bahan baku semennya banyak dan berada di dekat pabrik, infrastruktur menunjang, energi juga dekat lokasi pabrik. Vietnam cukup strategis untuk mendukung pemasaran semen ke berbagai negara. Kami malah memasok kebutuhan semen untuk Bangladesh," ungkap Dwi.

Di setiap sak semen buatan pabrik Thang Long tertulis Semen Indonesia Group.

Seperti diakui Dubes Indonesia untuk Vietnam, Mayervas terdapat puluhan perusahaan semen yang sudah mengantongi izin dari pemerintah.

"Lisensi itu hanya sampai akhir 2016. Jika hingga tahun itu belum juga dibangun pabriknya, izin pabrik semen akan dicabut pemerintah. Kami berusaha untuk mengakuisisi perusahaan semen itu sebelum jatuh tempo," kata Dwi.

Salah satu perusahaan semen milik pemerintah Vietnam yang diincar Semen Indonesia adalah Halong Cement. Dwi mengatakan, ia berminat mengakusisi perusahaan semen ini karena pabriknya di bagian utara Vietnam dan teknologinya dari Jerman.

Kapasitas pabrik semen di Vietnam, kata Managing Director VP Bank Securities Barry David Weisblatt, mencapai 70 juta ton pada 2013, sedang permintaan 46,1 juta ton. "Banyak perusahaan yang tidak bisa ekspor, sehingga pabrik semen hanya beroperasi 50-60 persen kapasitas terpasang," kata Barry.

Di dalam negeri Vietnam terjadi ketidakseimbangan pasokan dan permintaan. Pasokan semen di bagian utara sebesar 66 persen dari total pasokan, sedang permintaan di kawasan utara hanya 42 persen. Sementara di bagian selatan dan tengah, pasokan hanya 12 persen dan 22 persen, sedang permintaan masing-masing 36 persen dan 22 persen.

Vietnam Cement Industry Corporation (Vicem) tercatat sebagai market leader semen di Vietnam dengan total kapasitas produksi 36,9 juta. Raksasa semen ini memiliki 11 anak perusahaan, di antaranya Ha Ten 1 berkapasitas 7,3 juta ton per tahun.

Kesiapan Dana
Rencana ekspansi Semen Indonesia cukup didukung oleh laba ditahan yang dimiliki perusahaan. Dwi mengatakan, pada akhir tahun 2013, laba ditahan peseroan sebesar Rp 4,2 triliun dan pada akhir kuartal pertama 2014 telah meningkat mencapai Rp 4,9 triliun.

Dengan dukungan dana sebesar ini dan EBITDA yang bagus, demikian Dwi, perseroan berniat untuk terus berekspansi. Dengan kondisi finansial yang bagus, Semen Indonesia diperkenankan meminjam dari bank hingga dua kali EBITDA. Tapi, pihaknya hanya bersedia mengambil cukup hingga 1,6 dari EBITDA.

Dengan EBITDA sebesar US$ 900 juta, kata Dwi, Semen Indonesia diperkenankan bank meminjam hingga US$ 1,4 miliar atau sekitar Rp 15 triliun. Pihak bank sudah bisa menghitung, dengan tambahan dana tunai sekitar Rp 3-4 triliun setahun yang disisihkan dari laba, Semen Indonesia sangat mampu membayar utang.

Biaya pembangunan pabrik semen di lokasi pabrik lama, kata Dwi, sekitar US$ 120 juta per ton kapasitas, sedang di lokasi baru US$ 180-200 juta per ton kapasitas. Dengan asumsi satu pabrik berkapasitas 3 juta ton per tahun, biaya pembangunan per pabrik sekitar US$ 400 juta atau Rp 5 triliun.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon