Indocement Ekspansi Kapasitas Produksi Hingga 30 Juta Ton Pada 2018
Jumat, 8 Agustus 2014 | 16:32 WIB
Jakarta -Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Christian Kartawijaya mengatakan pihaknya optimis permintaan domestik ke depan semakin positif menyusul rencana pembangunan infrastruktur dan properti oleh pemerintahan baru. Untuk itu pihaknya melakukan sejumlah ekspansi produksi demi mengantisipasi lonjakan permintaan domestik.
"Meski infrastruktur tidak terlalu banyak memakai semen, tapi akan memicu efek bola salju konsumsi domestik, terutama setelah dibukanya jalan, airport, terminal, properti dan akhirnya tumbuh perekonomian masyarakat sekitar, saat itu semen bisa tumbuh bahkan dua kali lipat, apalagi ada pasar bebas ASEAN tahun depan, " paparnya dalam acara hala bi halal di Jakarta, Jumat (8/8).
Perusahaan telah menyelesaikan unit semen di Citeurup dengan kapasitas produksi 1,9 juta ton per tahun. Perusahaan juga tengah membangun pabrik semen (brownfield plant 14) dengan kapasitas produksi 4,4 juta ton per tahun yang diperkirakan selesai pada kuartal IV-2014. Selain itu, perusahaan berencana memulai persiapan konstruksi dua pabrik semen (green field) berkapasitas 2,5 juta ton pertahun di Jawa Tengah dan Sumatera Utara pada tahun 2015 yang diperkirakan selesai pada 2018.
"Green field ini benar-benar proyek baru dengan investasi US$ 250-300 per ton, sementara investasi di Citeureup sebesar US$ 120-125 per ton. Pabrik baru tersebut akan menambah kapasitas produksi existing sebesar 18 juta ton menjadi 25-30 juta ton, " tambahnya.
Sebelumnya perusahaan mencatatkan peningkatan laba bersih semester I-2014 menjadi Rp 2,51 triliun atau naik 2,4 persen dari periode yang sama tahun 2013 sebesar Rp 2,42 triliun.
Laba tersebut paling banyak disumbang dari penjualan domestik sebesar 8,97 juta ton pada semester I-2014 atau naik 3 persen dari tahun sebelumnya pada periode yang sama sebesar 8,73 juta ton.
Perusahaan juga mengalami kenaikan bunga sebanyak Rp 13,5 triliun dari kenaikan harga jual sebesar 3,5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Namun imbasnya market share perusahaan menurun menjadi 30,5 persen dari semester I-2013 sebesar 30,9 persen.
"Ke depan kita akan me-maintain market share kita di level 30,5 hingga 31,5 persen. Depresiasi rupiah, kenaikan tarif listrik dan pembatasan subsidi BBM masih akan mempengaruhi market share ke depan, " tambahnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




