Ruangan Roboh, Siswa UAS di Lapangan

Jumat, 5 Desember 2014 | 19:46 WIB
VS
IC
Penulis: Vento Saudale | Editor: CAH
Selama sepekan siswa kelas XIII SMP PGRI Ciomas Kabupaten Bogor terpaksa mengerjakan soal Ujian  Akhir Semester (UAS) di lapangan karena ruang kelas roboh dalam bencana puting beliung pada  Oktober 2014.
Selama sepekan siswa kelas XIII SMP PGRI Ciomas Kabupaten Bogor terpaksa mengerjakan soal Ujian Akhir Semester (UAS) di lapangan karena ruang kelas roboh dalam bencana puting beliung pada Oktober 2014. (Suara Pembaruan/Vento Saudale)

Bogor - Siswa kelas XIII SMP PGRI Ciomas Kabupaten Bogor terpaksa mengerjakan soal Ujian Akhir Semester (UAS) di lapangan upacara dalam sepekan ini. Penyebabnya, ruang kelas tempat mereka belajar hancur disapu angin puting beliung pada Oktober lalu dan hingga saat ini belum dilakukan perbaiki.

Kepala SMP PGRI Ciomas, M. Achyar Budiana yang ditemui Jumat (5/12) mengatakan bencana angin puting beliung menyebabkan 4 dari 9 ruang kelas yang ada rusak berat. Tak hanya itu, puting beliung juga menjebol ruangan perpustakaan dan ruang guru.

"Praktis, tinggal 5 ruang kelas yang bisa dipakai. Dua ruangan lain yang masih tersisa digunakan untuk ruang guru dan TU secara bersama-sama," jelas Achyar.

Akibat kejadian itu, kegiatan belajar mengajar 338 siswa SMP tersebut tidak efektif selama dua bulan terakhir. Untuk kegiatan belajar mengajar biasa, biasanya sekolah memberlakukan sistem dua shift. Namun, untuk ujian sistem itu tidak bisa diterapkan. Selain harus mengerjakan UAS di luar, dalam satu kelas pun harus diisi sedikitnya 60 siswa.

Pembina Kesiswaan Mama Rukmana mengatakan terpaksa merobohkan bangunan kelas yang terkena angin puting beliung karena membahayakan siswa. Sejumlah orangtua siswa yang prihatin pun ikut membantu dengan mendatangkan rangka atap baja ringan. "Kami belum mulai bangun. Baru kami simpan dulu bajanya," tutur Mama.

Dikemudian hari, penerimaan bantuan sukarela, malah membuat masalah baru karena oleh sejumlah orang, sekolah dinilai melanggar aturan sehingga terancam tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah yang bersumber pada Dana Alokasi Khusus (DAK).

"Pengajuan DAK sudah dilakukan sejak 2013 lalu. Bukan karena gedung yang rusak. Tapi, selalu disuruh nanti-nanti. Pas November lalu baru dikasih tahu kalau SMP PGRI dapat DAK," ujar Mama.

Hanya saja, ada kabar yang menyebutkan bantuan itu urung diberikan karena sekolah sudah membangun bangunan yang rusak. "Kami sudah lapor ke Disdik. Tapi katanya nanti mau dilihat. Nyatanya sampai sekarang enggak ada yang ke sini," tambah Mama.

Mama berharap, ada kejelasan soal bantuan dari pemerintah. Sebab, ditargetkan Januari perbaikan sekolah sudah rampung. Alasannya, siswa kelas IX sudah mulai ujian pada Januari. Sekolah sendiri membutuhkan tujuh kelas untuk kebutuhan Ujian Nasional. Sekolah tidak bisa menumpang ujian saat ini karena hampir seluruh sekolah di sekitarnya penuh.

Sementara itu, salah seorang siswa, Fadiyah mengaku tidak konsentrasi belajar di luar. "Panas dan banyak gangguan. Ada yang datang, konsentrasi hilang," ujarnya. Dia berharap sekolahnya bisa segera diperbaiki sehingga tidak perlu ujian di lapangan bendera.

Humas Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor Roni Sukmaya mengatakan belum mendapat informasi mengenai siswa SMP yang mengerjakan UAS di lapangan bendera. Namun demikian, Roni menilai sekolah swasta bisa saja swadaya memperbaiki gedung sekolah karena masih memungut uang gedung. "Pemerintah bis bantu, tapi prioritas kita masih sekolah negeri. Sebab, sekolah negeri yang rusak dan perlu perbaikan juga banyak," tutur Roni.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon