Era Gus Dur, "Reshuffle" Dapat Terjadi Setiap Waktu

Jumat, 10 Juli 2015 | 15:07 WIB
CP
B
Penulis: Carlos KY Paath | Editor: B1
Ketua Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI) Ratna Sarumpaet (tengah), Politikus Permadi (kanan) dan Sekjen MKRI Adhie Massardi (kiri) memberikan penjelasan terkait aksi pada tanggal 25 Maret 2013 di Jakarta.
Ketua Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI) Ratna Sarumpaet (tengah), Politikus Permadi (kanan) dan Sekjen MKRI Adhie Massardi (kiri) memberikan penjelasan terkait aksi pada tanggal 25 Maret 2013 di Jakarta. (Antara/Zabur Karuru)

Jakarta – Pada era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), reshuffle atau perombakan kabinet dapat terjadi setiap waktu. Apalagi, jika terdapat menteri yang terindikasi korupsi.

Demikian dikemukakan,mantan Juru Bicara Gus Dur Adhie Massardi, Jumat (10/7).

"Gus Dur tidak pernah membuat 'musim reshuffle'. Begitu menteri tidak bisa jalankan fungsinya, atau terindikasi korupsi, bisa langsung diganti," katanya.

"Jadi seperti dalam pertandingan sepakbola, begitu pemain tidak tampil dalam performa baik, manajer atau pelatih bisa lekas menariknya ke luar lapangan. Sebab kalau tidak dilakukan, bisa merusak sistem permainan seluruh tim," ujarnya.

Koordinator Gerakan Indonesia bersih tersebut menyatakan, reshuffle yang dilakukan tiba-tiba dalam era Gus Dur memang menimbulkan goncangan politik.

"Tapi hal itu terjadi hanya karena kita tidak terbiasa. Kita masih dibayang-bayangi kabinet versi Pak Harto (Presiden kedua Soeharto) yang selalu bertahan 5 tahun, kecuali ada hal luar biasa," ujarnya.

"Pak Harto bisa stabil karena ada komando yang kuat, dan cara memilih menterinya atau prosesnya sangat panjang," ucapnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon