Kematian Ibu Melahirkan di Mimika Masih Tinggi
Sabtu, 4 Februari 2012 | 15:55 WIB
Setiap tahunnya hampir 90-an ibu melahirkan dan bayinya meninggal dunia.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Erens Meokbun di Timika, Papua mengatakan, masih tingginya angka kematian ibu melahirkan dan bayi di Mimika yang setiap tahunnya mencapai hampir 90-an orang disebabkan karena beberapa faktor.
Faktor utamanya, lanjut Erens, kurangnya pengawasan dari petugas medis saat ibu sedang mengandung dan tidak ada pertolongan saat ibu melahirkan.
Untuk mengurangi risiko kematian ibu melahirkan dan bayi, Dinkes setempat berencana merekrut lebih banyak lagi tenaga bidan untuk ditempatkan pada setiap Puskesmas dan Puskesmas Pembantu (Pustu), terutama di pedalaman dan pesisir yang jauh dari pusat layananan kesehatan.
Menurut Erens, Mimika masih membutuhkan sekitar 100 orang bidan yang akan ditempatkan di Puskemas dan Pustu di daerah pedalaman dan pesisir.
Saat ini jumlah bidan yang bertugas di Pemkab Mimika baru sekitar 150 orang.
Sebagian besar tenaga bidan tersebut bekerja di sejumlah Puskesmas yang ada di Kota Timika dan sekitarnya. Sedangkan di Puskesmas dan Pustu pedalaman, hampir tidak memiliki tenaga bidan.
"Kami sudah mengusulkan alokasi anggaran untuk merekrut bidan-bidan yang nanti akan kami tempatkan di pedalaman. Namun semua itu sangat tergantung pada ketersediaan anggaran yang ada," jelasnya.
Kasus kematian ibu melahirkan pernah menimpa salah seorang guru kontrak Pemprov Papua yang ditempatkan di Potowayburu, ibu kota Distrik Mimika Barat Jauh tahun 2009.
Guru kontrak yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut, meninggal dunia saat melahirkan bayinya di salah satu rumah penduduk di Potowayburu akibat perdarahan.
Warga sudah berupaya membawa yang bersangkutan ke Puskesmas Potowayburu, namun karena petugas kesehatan tidak satupun berada di Puskesmas Potowayburu saat itu sehingga nyawa korban tidak tertolong.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Erens Meokbun di Timika, Papua mengatakan, masih tingginya angka kematian ibu melahirkan dan bayi di Mimika yang setiap tahunnya mencapai hampir 90-an orang disebabkan karena beberapa faktor.
Faktor utamanya, lanjut Erens, kurangnya pengawasan dari petugas medis saat ibu sedang mengandung dan tidak ada pertolongan saat ibu melahirkan.
Untuk mengurangi risiko kematian ibu melahirkan dan bayi, Dinkes setempat berencana merekrut lebih banyak lagi tenaga bidan untuk ditempatkan pada setiap Puskesmas dan Puskesmas Pembantu (Pustu), terutama di pedalaman dan pesisir yang jauh dari pusat layananan kesehatan.
Menurut Erens, Mimika masih membutuhkan sekitar 100 orang bidan yang akan ditempatkan di Puskemas dan Pustu di daerah pedalaman dan pesisir.
Saat ini jumlah bidan yang bertugas di Pemkab Mimika baru sekitar 150 orang.
Sebagian besar tenaga bidan tersebut bekerja di sejumlah Puskesmas yang ada di Kota Timika dan sekitarnya. Sedangkan di Puskesmas dan Pustu pedalaman, hampir tidak memiliki tenaga bidan.
"Kami sudah mengusulkan alokasi anggaran untuk merekrut bidan-bidan yang nanti akan kami tempatkan di pedalaman. Namun semua itu sangat tergantung pada ketersediaan anggaran yang ada," jelasnya.
Kasus kematian ibu melahirkan pernah menimpa salah seorang guru kontrak Pemprov Papua yang ditempatkan di Potowayburu, ibu kota Distrik Mimika Barat Jauh tahun 2009.
Guru kontrak yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut, meninggal dunia saat melahirkan bayinya di salah satu rumah penduduk di Potowayburu akibat perdarahan.
Warga sudah berupaya membawa yang bersangkutan ke Puskesmas Potowayburu, namun karena petugas kesehatan tidak satupun berada di Puskesmas Potowayburu saat itu sehingga nyawa korban tidak tertolong.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




