Yusuf Nugroho, Gerakan Mimika Sehat

Minggu, 5 Februari 2012 | 12:53 WIB
NP
B
Penulis: Novy Lumanauw/ Pudjatari | Editor: B1
Yusuf Nugroho dan Nico, salah satu kader kesehatan yang dibentuknya di Kabupaten Mimika, Papua
Yusuf Nugroho dan Nico, salah satu kader kesehatan yang dibentuknya di Kabupaten Mimika, Papua (Ririn Indriani/Beritasatu)
Di pedalaman Mimika, Papua, Yusuf dan kader-kader kesehatan yang dibentuknya berjuang untuk menekan angka kematian ibu dan bayi.

Kasus kematian ibu dan bayi di Papua Barat masih tinggi. Menurut data Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK), pada tahun 2009 tercatat 39 kasus ibu meninggal saat dan setelah melahirkan. Sedangkan tahun 2010, meningkat menjadi 59 orang.

Penyebab utama dari tingginya angka kematian tersebut, kata Yusuf Nugroho, Kepala Biro Kesehatan LPMAK,  adalah perdarahan, infeksi, dan keracunan kehamilan.

Menurutnya, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab tingginya angka kematian tersebut seperti persalinan tanpa dibantu bidan atau dokter, sering terlambatnya pasien dirujuk ke puskesmas dalam kondisi darurat, karena daerahnya terpencih dan sulit diakses alat transportasi. Dan masih rendahnya status gizi masyarakat di daerah tersebut.

Beranjak dari kondisi itulah Yusuf dan timnya di LPMAK tergerak untuk membuat program yang disebut MIMIKA Sehat.

Program ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat pedalaman Mimika sekaligus menekan angka kematian ibu dan bayi.

Cara yang dilakukan untuk melakukan program tersebut di antaranya, memberi edukasi dan penyuluhan tentang perbaikan gizi masyarakat dan pemberdayaan posyandu.

Selain itu masyarakat juga diberikan pengetahuan untuk mengenali tanda-tanda bahaya persalinan. 

Pengetahuan ini sangat penting diberikan agar warga Mimika, kata Yusuf, mengetahui apa yang harus dilakukannya sebelum ke puskesmas atau rumah sakit, bila ada ibu yang mengalami gangguan kesehatan selama masa kehamilannya.

“Apalagi kondisi alam dan lingkungan Mimika yang sulit dijangkau dan tak mudah diprediksi membuat petugas kesehatan tak jarang kesulitan mengevakuasi pasien yang harus segera dibawa ke puskesmas atau rumah sakit," jelas Yusuf kepada beritasatu.com.

Ia menceritakan, pernah beberapa kali petugas kesehatan akan mengevakuasi pasien yang berada di pegunungan dengan menggunakan helikopter, tapi cuaca tiba-tiba memburuk sehingga upaya evakuasi pun terpaksa ditunda.

Selama ditunda inilah petugas kesehatan dan warga sekitar harus melakukan pertolongan atau penanganan awal demi menyelamatkan nyawa sang pasien dengan fasilitas terbatas.

Kondisi inilah yang menjadi alasan mengapa warga harus diberi pengetahuan dan keterampilan khusus melakukan penanganan awal untuk meminimalisasi risiko fatal yang dialami pasien.

Agar program kesehatan tersebut bisa diwujudkan dengan baik, Yusuf dan timnya dari LPMAK membentuk kader-kader kesehatan yang diambil dari warga setempat di masing-masing desa.

Kader-kader inilah yang menggerakkan posyandu untuk menerapkan Program Persiapan dan Penanggulangan Komplikasi (P4K). Program ini dilakukan sebagai upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi.

“Kegiatan utamanya adalah pemetaan dan pencatatan ibu hamil, pendanaan, donor darah, serta transportasi,” imbuh Yusuf.

Para petugas, lanjutnya, akan mencatat siapa saja yang kehamilannya perlu diwaspadai. Tak hanya itu, para kader juga mendata golongan darah dan calon pendonor yang akan mendonorkan darahnya jika dibutuhkan. 

Selain itu edukasi dan perbaikan gizi masyarakat, serta pemberdayaan posyandu. "Program utama kami pada dasarnya adalah meningkatkan pemahaman masyarakat agar terjadi perubahan perilaku," kata Yusuf.

Melalui posyandu, anak-anak dan ibu hamil juga diberikan makanan tambahan untuk meningkatkan status gizi mereka.

Namun Yusuf mengakui pemberian makanan tambahan yang dilakukan belum memaksimalkan potensi pangan lokal.

"Selama ini kami baru memberikan susu atau bubur kacang hijau. Jika sudah tidak ada bantuan, masyarakat tentu bingung harus membeli di mana," imbuhnya.

Sejak program ini dijalankan pada tahun 2009 hingga sekarang, telah mengalami kemajuan atau pencapaian yang signifikan di Mimika.

Yusuf menjelaskan, beberapa kemajuan yang dialami misalnya, penurunan angka anemia sedang dan berat yang dialami perempuan, dari 72 persen menjadi 34 persen.

Sementara pada balita dibawah usia dua tahun, angka anemia juga menurun dari 85,8 persen menjadi 63 persen.

Masyarakat Mimika sendiri, kini sudah mengetahui pentingnya pemeriksaan kehamilan sedikitnya 4 kali, serta tanda-tanda kegawatan kehamilan yang perlu dibawa ke puskesmas sebelum dirujuk ke rumah sakit.

“Melihat kemajuan ini, tentu saja kami sangat senang. Hasil yang mulai dirasakan ini membuat kami semakin bersemangat untuk terus berjuang untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Mimika,” jelasnya bersemangat.

Apalagi, lanjut Yusuf,  kini pemahaman masyarakat untuk berperilaku hidup sehat semakin baik dan menunjukkan peningkatan yang berarti.

Masih Minim Tenaga Medis
Hanya saja masih ada kendala utama yang dihadapinya yaitu, akses masyarakat terhadap layanan kesehatan masih sangat rendah. Ini terjadi karena beberapa hal seperti, geografi dan minimnya alat transportasi.

“Masyarakat yang berada di dataran tinggi memerlukan helikopter untuk mencapai rumah sakit terdekat, padahal pemerintah tidak menyediakannya,” cerita Yusuf.

Untuk itu LPMAK yang pendanaannya didukung penuh oleh program CSR PT Freeport Indonesia, menyediakan helikopter untuk kebutuhan tersebut.

Sebenarnya upaya penurunan angka kematian ibu dan bayi di Mimika, kata Yusuf, bisa dicapai bila didukung oleh adanya jumlah dokter dan tenaga medis yang memadai. Karenanya kerja sama dengan pemerintah sangat penting dilakukan.

Pendapat serupa dikemukakan pula oleh Nico Tsolme (59), salah seorang mantri di Kampung Aram Soiki, Mimika.

Hingga kini puskesmas yang ada di daerahnya, kata dia, hanya diisi oleh dokter PTT dan mantri.

Masih terbatasnya jumlah tenaga medis inilah yang membuat layanan kesehatan belum maksimal, salah satunya program imunisasi yang belum bisa dijalankan dengan baik karena sangat minimnya jumlah tenaga kesehatan.

Meski demikian Nico dan kader kesehatan lainnya terus berupaya semaksimal mungkin untuk menekan angka kematian ibu dan anak.

"Masyarakat terus diberi penyuluhan tentang pencegahan HIV, pentingnya imunisasi, dan perilaku hidup sehat untuk mencegah infeksi," tambahnya.

Meski belum mencapai hasil yang maksimal, Yusuf dan tim tak menyangka kalau pengabdiannya di pedalaman Mimika membuatnya berhasil meraih prestasi sebagai runner up dalam kategori organisasi nirlaba di bidang kesehatan ibu dan anak, MDGs Awards 2011 yang diselenggarakan di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (31/1).

Sebelumnya program MIMIKA Sehat juga berhasil menyabet penghargaan CSR Award untuk PT Freeport Indonesia sebagai penyandang dana, dan meraih emas dalam Gelar Karya Pemberdayaan Masyarakat.

Semoga saja kelak kerja keras mereka yang tulus dan penuh pengorbanan itu akan membuahkan hasil yang lebih baik.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon