KMP Dinilai Jadi Koalisi Emosional Antara Elite Politik

Senin, 7 September 2015 | 08:05 WIB
YP
B
Penulis: Yustinus Patris Paat | Editor: B1
Para petinggi Koalisi Merah Putih (KMP) Amien Rais (kiri), Prabowo Subianto (tengah), Aburizal Bakrie (kedua kanan) dan Djan Faridz (kanan) meninggalkan rutan Guntur usai menjenguk mantan Menteri Agama Suryadharma Ali di Jakarta, 4 Juni 2015
Para petinggi Koalisi Merah Putih (KMP) Amien Rais (kiri), Prabowo Subianto (tengah), Aburizal Bakrie (kedua kanan) dan Djan Faridz (kanan) meninggalkan rutan Guntur usai menjenguk mantan Menteri Agama Suryadharma Ali di Jakarta, 4 Juni 2015 (Antara/Sigid Kurniawan)

Jakarta - Direktur Eksekutif Populi Center Nico Harjanto menilai bergabungnya Partai Amanat Nasional (PAN) menjadi partai koalisi pendukung pemerintah membuat Koalisi Merah Putih (KMP) hanya menjadi koalisi emosional antara elite-elite politik.

"KMP hanya menjadi koalisi emosional antara elite seperti Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie, Djan Faridz, Anies Matta dan elite KMP lain, selain PAN yang sudah menyatakan diri mendukung pemerintah," ujar Nico saat dihubungi SP, Senin (7/9).

Sebelumnya, PAN telah menyatakan diri sebagai partai pendukung pemerintah. Meskipun Ketua Umum PAN Zulfikli Hasan menyatakan tidak keluar dari KMP, namun PAN tetap mendukung pemerintah jika ada perbedaan sikap dan pandangan dengan KMP.

Nico menilai, KMP tidak mempunyai kekuatan secara politik lagi. Bahkan, dia beranggapan, KMP tidak relevan lagi karena tokoh pengikatnya sudah tidak muncul lagi.

"Kita tahu KMP lahir saat Pilpres 2014 dengan tokoh pengikatnya Prabowo dan Hatta Rajasa. Sementara Hatta Rajasa sekarang sudah tidak kelihatan lagi," ujarnya.

Selain itu, katanya, KMP maupun KIH tidak relevan lagi karena ternyata kedua koalisi ini tidak bisa berpengaruh sampai di Pilkada serentak 2015.

Nico memprediksikan bahwa perpindahan dukungan PAN ke pemerintahan juga dapat mempengaruhi partai lain di KMP berpindah. Menurutnya, yang tersisa di KMP nantinya adalah Gerindra dan PKS.

"Golkar dan PPP sekarang lagi mengalami dualisme kepemimpinan. Kemungkinan besar kedua partai ini bisa berubah jika Golkar dipimpin oleh Agung Laksono dan PPP dipimpin oleh Romahurmuziy," kata Nico.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon