Ini Penjelasan Nakhoda Kapal yang Tenggelam di Surabaya

Kamis, 19 November 2015 | 08:29 WIB
AS
JS
Penulis: Aries Sudiono | Editor: JAS
Penumpang bergelantungan di dinding kapal untuk menyelamatkan diri saat kapal KM Wihan Sejahtera tenggelam di Teluk Lamong, Surabaya, Jawa Timur, 17 November 2015.
Penumpang bergelantungan di dinding kapal untuk menyelamatkan diri saat kapal KM Wihan Sejahtera tenggelam di Teluk Lamong, Surabaya, Jawa Timur, 17 November 2015. (Antara/Polair Polda Jatim)

Surabaya - Nakhoda KM Wihan Sejahtera, Asep Hartono, memberikan penjelasan tentang saat-saat menjelang kapal yang dibawanya tenggelam, Senin (16/11) lalu, di Teluk Lamong, Jawa Timur. Asep mengaku berinisiatif mengubah haluan yang seharusnya ada di kiri namun ke arah kanan bangkai KM Tanto Hari, karena ketika menghubungi Kepanduan melalui radio komunikasi channel 12 dan 14 tidak ada respons.

Pengalihan arah pelayaran itu ia lakukan karena di jalur kiri bangkai KM Tanto Hari, ada kapal suplai yang sedang melakukan aktivitas yang tidak diketahui. Ia menduga kapal suplai itu sedang melakukan penyelaman.

"Hanya beberapa menit saja kami mengambil jalur kanan bangkai KM Tanto Hari yang tenggelam 31 Januari 2014 itu, terasa ada tiga kali getaran yang cukup keras, badan kapal lalu miring ke kanan sekitar lima derajat," ujar Asep Hartono ketika menjawab pertanyaan rombongan anggota Komisi V DPR RI yang bertandang ke Terminal Gapura Surya Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Rabu (18/11) kemarin.

Asep mengaku tidak tahu persis penyebab tiga kali getaran keras yang terjadi, namun tiba-tiba badan kapalnya miring. "Pihak Kesyahbandaran memang merekomendasikan melalui jalur sebelah kiri bangkai KM Tanto Hari yang berarti itu lebih dekat ke terminal (bongkar muat) di Teluk Lamong. Tetapi sekali lagi, karena di tempat itu ada kapal suplai, saya  terpaksa mengalihkan jalur pelayaran setelah pihaknya tidak mendapat respons dari Kepanduan," akunya sambil membenarkan, keberadaan bangkai KM Tanto Hari itu diberi tanda buoy.

"Saya memang memerintahkan markonis ( orang yg melayani telekomunikasi di kapal) menghubungi kepanduan di channel 12 dan 14, tetapi tidak ada respons. Makanya saya kemudian melakukan usaha lain yakni meniup suling panjang, tetapi usaha itu tetap tidak ada respons atau jawaban dari Kepanduan," ujar Asep.

Setelah itu, kata Asep, barulah dia mengambil inisiatif untuk mengubah haluan dan berlayar ke arah kanan bangkai KM Tanto Hari. Asep membenarkan, ada dua kapal pandu (tunda) yang sebelumnya bertugas membimbing kapalnya keluar dari pelabuhan Tanjung Perak Surabaya pukul 08.46 WIB.

"Kapal kami kemudian melaju pelan meninggalkan Dermaga Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya menuju tujuan, Lauhan Bajo, Ende, Nusa Tenggara Barat," ujar Asep Hartono. Tidak terlalu lama setelah melaju di kanan bangkai KM Tanto Hari itulah musibah datang.

Asep merasakan setidaknya tiga kali kapal mengalami getaran keras dan hanya sekitar 2-3 detik kemudian, KM Wihan Sejahtera yang berbobot mati 9.786,65 ton itu miring ke kanan 5 derajat. Berdasarkan manifes kapal buatan tahun 1995 ini membawa 153 orang penumpang dan 25 awak buah kapal (ABK) 

"Saya memang memerintahkan kepala kamar mesin (KKM) untuk mematikan mesin agar kapal tidak langsung tenggelam. Baru pada 9.30 WIB kapal kami tenggelam," ujar Asep mengakhiri keterangannya. Asep memasrahkan penyelidikan penyebab kecelakaan laut KM Wihan Sejahtera kepada Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang diketuai Capten Aldrin Dalimunte.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon