Fogging Tak Lagi Ampuh Berantas Virus Dengue

Rabu, 17 Februari 2016 | 16:38 WIB
SA
IC
Penulis: Siti Arpiah | Editor: CAH
Ilustrasi
Ilustrasi (Antara/Rahmad)

Jakarta - Ahli Parasitologi Universitas Indonesia, Saleha Sungkar menyatakan fogging tidak boleh lagi digunakan secara rutin untuk pemberantasan nyamuk aedes aegypti yang membawa virus dengue dan virus zika.

"Fogging itu hanya memberikan rasa keamanan palsu, sebab yang disemprot sebenarnya adalah nyamuk culex atau nyamuk yang biasanya ada di selokan, nyamuk aedes tetap ada," ujar Saleha di Jakarta kepada pers, Rabu (17/2).

Menurutnya, fogging hanya cocok untuk kondisi ketika sedang ada wabah (epidemic situation). "Selain harganya mahal, fogging tidak menimbulkan resistensi, dan mencemari lingkungan," katanya.

Ia menganjurkan, saat ini cara yang tepat untuk memberantas nyamuk aedes aegypti adalah dengan melakukan kembali 3M (Mengubur, Menguras, dan Menutup).

Saleha menjelaskan, dalam mengubur, barang-barang bekas seperti ban harus dipotong dan dilubangi supaya tidak dapat menampung air.

Kemudian menguras, dinding bak harus disikat juga agar telur nyamuk tidak kembali menetas. Sebab, telur bersifat lengket dan tahan kekeringan sampai 6 bulan. "Jadi, kalo kita hanya mengganti airnya, maka telur itu akan menetas," ujarnya.

Sementara menutup, harus ditutup dengan rapat dan tidak ada celah.

Selain 3M, masih banyak cara lainnya, ujar Saleha. Misalnya, dengan menanam tanaman yang tidak menampung air seperti pandan dan talas.

Kemudian perlu adanya Integrated vector management. Artinya, pejabat dan departemen selain Kemenkes harus bersatu memberantas vektor (nyamuk aedes aegypti), paparnya.

"Semua pencegahan tersebut belum pernah dilakukan dengan baik di Indonesia sehingga demam berdarah terus menjadi wabah dan sekarang kita kedatangan virus baru, zika," tutup Saleha

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon