Mewaspadai Penyakit akibat Gigitan Nyamuk
Rabu, 1 Juni 2016 | 16:24 WIB
Jakarta - Merebaknya berbagai penyakit berbahaya disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti seperti virus Zika dan Demam Berdarah Dengue (DBD) membuat masyarakat Indonesia kian waspada dan meningkatkan perhatiannya terhadap upaya perlindungan maksimal bagi keluarga.
Berdasar artikel yang dikeluarkan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) menyebutkan, Indonesia merupakan negara kedua dengan angka kejadian DBD tertinggi di dunia setelah Brasil.
Pihak Kementerian Kesehatan (Kemkes) mencatat, jumlah penderita DBD di Indonesia pada Januari-Februari 2016 sebanyak 13.219 orang dengan jumlah kematian mencapai 137 orang. Khusus untuk kota Jakarta, pada Januari-Maret 2016 terdapat 4.936 kasus DBD, dan merupakan peningkatan terburuk dalam lima tahun terakhir.
Dokter spesialis Anak dari RS Pusat Pertamina dan Brawijaya Women & Children Hospital, dr Margaretha Kom
SpA menjelaskan, penyakit DBD dan virus zika yang merebak di Indonesia disebarkan oleh nyamuk Aedes Aegypti.
"Gejala yang dialami penderita hampir sama yaitu, bintik merah pada kulit, sakit kepala dan nyeri sendi, serta demam. Namun, penderita DBD biasanya juga ditandai oleh penurunan trombosit, mimisan, hingga mual dan muntah akibat terjadinya pendarahan di perut," kata dr Margaretha dalam siaran persnya, Rabu (1/6).
Sementara pada penderita virus Zika, lanjut dia, muncul mata kemerahan. Walaupun belum ditemukan kasus kematian akibat virus zika, yang membuatnya berbahaya adalah virus ini dapat ditularkan dari ibu hamil kepada bayinya selama kehamilan atau sekitar saat kelahiran. Infeksi pada janin atau bayi bisa menyebabkan mikrosefali atau kepala yang kecil.
"Hingga kini belum ada obat atau vaksin yang dapat mengobati penyakit DBD maupun virus Zika," papar dia.
Menurut dr Margaretha, jenis pengobatan yang dapat dilakukan hanya bersifat suportif, yaitu istirahat yang cukup, perbanyak minum untuk mencegah dehidrasi, mengonsumsi obat untuk mengurangi demam, serta makan makanan yang bergizi. Selain itu, usaha pencegahan melalui 3M (mengubur, menguras, menutup) perlu terus dilakukan untuk memberantas sarang
nyamuk. Solusi lainnya untuk melindungi buah hati dari gigitan nyamuk adalah dengan mengoleskan produk anti nyamuk.
"Namun, sebaiknya hindari produk lotion anti nyamuk yang mengandung bahan kimia untuk anak usia dibawah 6 tahun karena dapat iritasi kulit," kata dr Margaretha.
Senior Brand Development Manager My Baby, Dahlia Yolanda, menyatakan, sudah sejak lama para ibu khawatir bahaya penyakit DBD terhadap buah hati mereka.
Hasil survey yang dilakukan terhadap 1.200 ibu berusia 20-45 tahun di seluruh Indonesia selama bulan Mei 2016, terbukti bahwa 8 dari 10 ibu di Indonesia mengaku bahwa penyakit DBD merupakan dampak yang paling dikhawatirkan dari gigitan nyamuk.
"Berdasarkan hal tersebut, kami memberikan solusi yang efektif dan aman untuk mengatasi kekhawatiran ibu dengan menghadirkan My Baby Minyak Telon Plus. Dengan memiliki dua manfaat sekaligus, produk ini mampu menghangatkan dan efektif melindungi bayi dari gigitan nyamuk selama 6 jam dan telah diuji oleh Institut Pertanian Bogor," kata Yolanda.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




