Mabes Polri: Penembakan di Papua Bisa Terjadi Lagi

Senin, 9 April 2012 | 15:44 WIB
FA
B
Penulis: Farouk Arnaz/ Arsito | Editor: B1
Kadiv Humas Mabes Polri Saud Usman Nasution
Kadiv Humas Mabes Polri Saud Usman Nasution (Antara)
"Jangan bayangkan sama dengan di sini (Jakarta). Mau 10 kali menembak pun, tak akan bisa (dicegah)," ujar Kabid Humas Polri.

Markas Besar Kepolisian RI (Mabes Polri) mengakui bahwa pihaknya kesulitan untuk mencegah, apalagi mengungkap serangkaian kasus penembakan fatal di Papua. Itu karena banyaknya rintangan yang dihadapi polisi di provinsi ujung timur Indonesia tersebut.

Lebih jauh, pihak Mabes Polri menyebut, penembakan pesawat seperti yang terjadi pada Minggu (8/4), di Kabupaten Puncak Jaya, diperkirakan bisa saja terulang kembali sewaktu-waktu.

"Iya. Bisa saja terjadi lagi. Ini benar-benar sulit (dicegah dan diungkap). Kapolres jika meminta tambahan pasukan, dia bisa minta Kapolda Papua. Jika Kapolda minta tambah ke kita, maka kita akan berikan, berapapun yang mereka butuhkan. Tapi ini benar-benar sulit," kata Kepala Divisi (Kadiv) Humas Polri, Irjen Saud Usman Nasution, di Mabes Polri, Senin (9/4).

Jenderal bintang dua itu pun mengatakan bahwa kondisi di Papua, termasuk bandaranya, tidak sama dengan keadaan di Pulau Jawa, apalagi Jakarta yang serba lengkap. "Ini penerbangan perintis. Serba minim. Seadanya. Tak ada CCTV dan tower untuk memantau. Jangan bayangkan (sama) dengan di sini (Jakarta). Mau 10 kali menembak pun, tak akan bisa (dicegah)," lanjut Saud.

Kondisi yang serba terbatas, kata Saud lagi, membuat polisi kesulitan untuk mencari saksi dan mengumpulkan bukti. Hingga kini, ia menyebut bahwa polisi juga belum berhasil menemukan proyektil yang digunakan pelaku saat menembak, kecuali memprediksi bahwa penembak berada sekitar 50 meter dari pesawat. Akibatnya, penyelidikan pun macet dan pelaku diprediksi masih akan terus menjalankan aksinya.

Seperti marak diberitakan sebelumnya, pelaku tak dikenal menembak pesawat perintis jenis Twin Otter yang dioperasikan PT Trigana Air. Akibatnya, seorang penumpang, Lerion Kogoya, wartawan Papua Pos, tewas setelah lehernya tertembus peluru. Selain satu korban tewas, penembakan ini juga melukai empat orang, masing-masing yakni kapten pilot Beby Astek (40), kopilot Willy Resubun (30), serta dua penumpang bernama Yanti (30) dan P Korwa (4).

Pesawat naas tersebut ketika itu dilaporkan terbang dari Nabire menuju Mulia. Pesawat dengan nomor registrasi PK-YRF itu ditembaki saat hendak mendarat di Bandara Mulia. Tembakan membuat pilot tidak dapat mendaratkan pesawat dengan sempurna, sehingga menabrak gudang di pinggir bandara. Akibat penembakan itu, proses distribusi barang ke Puncak Jaya dan kegiatan kemanusiaan yang selama ini mengandalkan jalur udara jadi terganggu.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon