Langit Cerah di Laut Nusantara

Selasa, 4 April 2017 | 07:11 WIB
HM
B
Penulis: Hasan Zein Mahmud | Editor: B1
Hasan Zein Mahmud, Tim Ekselensi Learning Center, Pengajar pada Kwik Kian Gie School of Business (Sumber: blj.co.id)
Hasan Zein Mahmud, Tim Ekselensi Learning Center, Pengajar pada Kwik Kian Gie School of Business (Sumber: blj.co.id)

Saya tersengat oleh seringnya mendengar pernyataan bahwa ekonomi Indonesia masa depan terletak di laut. Walau sangat awam dalam bidang maritim, pernyataan itu tetap menggugah. Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah pulau paling banyak di dunia.

Lebih dari 2/3 luas Indonesia terdiri atas lautan, terentang sepanjang 5.000 km dari barat ke timur. Indonesia merupakan salah satu negara dengan warisan bio diversity paling kaya di dunia. Laut menjanjikan banyak sekali potensi ekonomi, mulai dari perikanan, mineral, pariwisata, dan transportasi.

Berangkat dari pemahaman awal itu, saya mencoba menjelajah kemungkinan peluang investasi di perusahaan-perusahaan yang ada hubungannya dengan laut. Penjelajahan kali ini saya fokuskan pada industri perkapalan, khususnya perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang pelayaran (shipping).

"Indonesia is heavily dependent on maritime transport for international as well as for domestic trade especially because of her archipelagic nature. In this vein, maritime shipping provides essential links between different parts of the country." (HG.org)

Pada kajian awal, saya mengidentifikasikan lima perusahaan terbuka yang bergerak di lini bisnis yang serupa. PT Samudera Indonesia Tbk (IDX: SMDR) dengan bisnis utama dalam bidang pelayaran, transportasi dan logistik. Lalu PT Wintermar Offshore Marine Tbk (IDX: WINS) dengan bisnis utama bidang kepemilikan dan manajemen kapal.

Ada pula PT Pelayaran Tempuran Emas Tbk (IDX: TMAS) dengan bisnis utama bidang pelayanan pengiriman barang dalam peti kemas. Lalu, PT Buana Listya Tama Tbk (IDX: BULL) dan PT Soechi Lines Tbk (IDX: SOCI). Dua yang disebut belakangan bergerak dalam bidang penyewaan kapal tanker, khususnya untuk pengangkutan bahan bakar minyak (BBM).

Kemudian, saya memutuskan untuk memilih SOCI. Sebagai investor saham, saya berpendapat saham SOCI cukup prospektif untuk dipilih. Berikut beberapa argumentasi fundamental. Pertama, distribusi BBM dan LPG antarpulau tidak bisa melepaskan diri dari transportasi laut. SOCI memiliki kondisi yang menunjang untuk menangkap peluang itu.

Grup perusahaan memiliki pengalaman panjang dalam bidang ini. Pertamina merupakan salah satu konsumen utama (sekitar 50% pendapatan SOCI berasal dari kontrak dengan Pertamina). Pada akhir 2016, lebih dari 90% kapal SOCI telah dikontrak, dengan masa kontrak rata-rata lebih dari 4 tahun, dan dengan nilai kontrak lebih dari USD 200 juta.

Stabilnya harga BBM dengan kecenderungan naik, akan menstabilkan dan meningkatkan pula pendapatan perusahaan dari bisnis pelayaran. Konsumsi BBM dalam negeri yang meningkat double digit setiap tahun merupakan pasar yang makin membesar bagi perusahaan. Kerja sama Pertamina– Aremco pada proyek refinari BBM di Cilacap juga akan membuka peluang baru bagi perusahaan.

Kedua, barrier to entry industry ini cukup tinggi, karena selain padat modal, juga membangun pengalaman dan jaringan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. SOCI memiliki 38 kapal, terentang dari very large crude carrier (VLCC) sampai tanker sedang dan kapal untuk tujuan umum. Total armada perusahaan mencapai 1,57 juta DWT.

Untuk menunjukkan keyakinannya terhadap peluang bisnis pelayaran, SOCI telah melakukan pembelian 3 kapal baru selama Desember 2016 dan Januari 2017.

Ketiga, cabotage principle. Dalam Undang Undang Kelautan (No. 17 Tahun 2008) ditetapkan bahwa pelayaran antarpulau di Indonesia harus menggunakan kapal berbendera Indonesia. Pasal 8 UU tersebut mengatur "(1) Kegiatan angkutan laut dalam negeri dilakukan oleh perusahaan angkutan laut nasional dengan menggunakan kapal berbendera Indonesia serta diawaki oleh Awak Kapal berkewarganegaraan Indonesia. (2) Kapal asing dilarang mengangkut penumpang dan atau barang antarpulau atau antarpelabuhan di wilayah perairan Indonesia".

Keempat, pemerintahan Jokowi memberikan prioritas yang tinggi terhadap pengembangan kelautan, termasuk pelayaran. Selama dua tahun terakhir, tidak kurang dari 90 pelabuhan di Indonesia telan dibangun dan atau diperluas kapasitasnya. Di Pulau Sumatera saja, tidak kurang 30 pelabuhan akan dibangun dan dikembangkan kapasitasnya.

Program tersebut akan membuat transportasi laut semakin lancar, menurunkan dwelling time dan menurunkan biaya logistik. Kelima, perusahaan juga mengembangkan divisi galangan. Walaupun saat ini lebih dari 80% pendapatan perusahaan bersumber dari kegiatan pelayaran, saya memperkirakan beberapa tahun ke depan bisnis galangan akan menjadi cash cow bagi perusahaan. Pemerintah bertekad untuk membuat 609 kapal baru dengan nilai investasi Rp 57,2 triliun sampai tahun 2019.

Sementara itu, ada sekitar 16.000 kapal lokal yang beroperasi di laut Indonesia saat ini. Sebuah peluang pasar yang luar biasa besar. Untuk menyongsong peluang tersebut, perusahaan telah membangun galangan di lokasi yang cukup strategis, yang akan menjadi galangan kapal terbesar di Indonesia dengan luas lahan 200 HA dan memiliki garis pantai 1,3 km.

Sekarang mari kita lihat unjuk kerja kuantitatif perusahaan. Didirikan pada tahun 2010, perusahaan memulai operasi komersialnya pada tahun 2012. Melakukan IPO pada akhir 2014 dengan menawarkan 2,6 miliar saham, nominal Rp 100 pada harga Rp 550. Sejak tercatat di bursa, harga saham perusahaan praktis selalu berada di bawah harga IPO.

Dari laporan keuangan tahun 2016 yang saya unduh dari web BEI, berikut beberapa informasi yang relevan: Memiliki 13 entitas anak yang bergerak di bidang pelayaran domestik/internasional, galangan kapal dan investasi.

Kapitalisasi pasar (saat tulisan ini diketik) sekitar Rp 2,3 triliun. Ekuitas US$ 290 juta Price Earning Ratio 4,2x, termurah di sektor perkapalan Price to Book Value 0,6x Return on Equity 15,9% EV/EBITDA 7,2x Debt Equity Ratio 0,76x

Pada Jumat 31 Maret 2017 perusahaan mengumumkan laporan keuangan tahun buku 2016. Beberapa angka penting menunjukkan penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pendapatan turun 8,14% menjadi US$ 130,29 juta. Laba bersih anjlok 48,18% menjadi US$ 21,2 juta. Namun pada hari pengumuman penurun kinerja keuangan tersebut, saham SOCI ditutup naik 18%. Tampaknya investor bersikap positif terhadap prospek perusahaan pada masa yang akan datang.

Hasan Zein Mahmud, Investor Saham



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon