Link Net Siapkan Buyback Saham Rp 1,3 Triliun

Selasa, 16 Januari 2018 | 11:49 WIB
DK
AB
Penulis: Devie Kania | Editor: AB
Jajaran direksi dan komisaris PT Link Net Tbk pada acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dan Paparan Publik (Public Expose) Tahunan 2018.
Jajaran direksi dan komisaris PT Link Net Tbk pada acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dan Paparan Publik (Public Expose) Tahunan 2018. (Istimewa)

Jakarta - PT Link Net Tbk (LINK) mendapat restu dari pemegang saham untuk membeli kembali (buyback) saham setara 7,1 persen dari total modal disetor (paid up capital), dengan harga maksimum rata-rata pembelian Rp 6.000 per unit. Emiten telekomunikasi itu akan menyiapkan dana pembelian maksimal Rp 1,3 triliun.

Direktur Utama dan Chief Executive Officer (CEO) Link Net Irwan Djaja menyatakan pihaknya akan merealisasikan buyback saham secara bertahap selama 18 bulan ke depan. Sedangkan dana emiten yang akan digunakan untuk mengeksekusi aksi korporasi tersebut, antara lain berasal dari dana kas internal.

"Kami menilai harga saham Link Net tengah undervalued. Namun mengenai rencana buyback saham, perseroan akan berupaya mengeksekusi dengan prudent," ujar Irwan di Jakarta, Senin (15/1).

Rencana buyback saham tersebut telah disetujui oleh Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Link Net Tbk (First Media) yang berlangsung pada Senin (15/1). Rapat yang diselenggarakan di Hotel Aryaduta Jakarta itu dihadiri jajaran manajemen PT Link Net Tbk.

Secara terpisah, Direktur Link Net Timotius Max Sulaiman mengatakan, sampai akhir Desember lalu, perseroan masih memiliki kas internal sekitar Rp 500 miliar. Sedangkan berdasarkan data penutupan perdagangan saham yang dipublikasi Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham emiten berkode LINK itu sebesar Rp 5.425 per unit.

"Link Net memiliki sisa fasilitas pembiayaan dari perbankan dan perusahaan multifinance, yang dapat digunakan jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Standby facility loan kami ada sekitar Rp 200 miliar dan yang dari perusahaan multifinance berkisar US$ 11 juta," ujarnya.

Kinerja Tumbuh Baik
Timotius menegaskan, pihaknya akan mengkaji pendanaan yang terbaik untuk merealisasikan rencana buyback saham maupun untuk kebutuhan ekspansi. "Tahun lalu kami menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar Rp 1 triliun, dan penyerapannya berkisar 90 persen. Untuk dana capex tahun 2017, perseroan hanya mengandalkan dana kas internal," katanya.

Perihal kinerja 2017, Irwan mengatakan belum dapat mengungkapkan detail realisasinya. Namun, sebagai gambaran, Link Net berhasil meraih kinerja sesuai target.

Tahun lalu, emiten ini menargetkan pertumbuhan pendapatan 13-15 persen secara year on year (yoy). "Kurang lebih, perseroan berhasil meraih kinerja on the track," ucapnya.

Adapun untuk tahun ini, lanjut Timotius, pihaknya masih berharap dapat membukukan kenaikan kinerja double digit. "Kami upayakan untuk tumbuh di atas 10 persen pada 2018," ujarnya.

Ia mengatakan sejauh ini, Link Net belum dapat memaparkan target kinerja lebih detail pada 2018. "Kami masih memproses beberapa hal, termasuk rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP)," ujarnya.

Sementara itu, jika menilik laporan keuangan perseroan, hingga September 2017, Link Net membukukan kenaikan pendapatan sebesar 16,82 persen dari Rp 2,14 triliun menjadi Rp 2,5 triliun. Laba bersih emiten berkode LINK ini naik 22,31 persen dari Rp 605 miliar menjadi Rp 740 miliar.

2 Juta Home Passed
Irwan menjelaskan lebih lanjut, sepanjang tahun 2017, pihaknya berhasil meraih tambahan 170.000 home passed, sehingga kini mencapai 2 juta home passed. Padahal, sebelumnya, emiten ini memprediksi penambahan home passed hanya sebanyak 150.000 pada 2017.

"Kami cukup senang dengan pencapaian tahun lalu, dan berharap tren positif dapat terus berlanjut. Pasalnya, potensi kenaikan penetrasi di industri kami masih terbuka luas," ujarnya.

Ia mengungkapkan, beberapa potensi kenaikan penetrasi internet ke depan, antara lain didorong penambahan kaum milenial dan kenaikan disposable income. Selain itu, adanya perpindahan masyarakat daerah ke kota yang saat ini berkisar 50 persen dan berpeluang meningkat persentasenya menjadi 64 persen pada 2020.

Adapun sepanjang tahun lalu, Link Net melalui layanan First Media mulai merambah wilayah Medan dan Batam. Sedangkan untuk menjaga kesinambungan pertumbuhan kinerja ke depan, perseroan akan kembali menambah cakupan wilayah baru sebanyak 1-2 tempat.

"Sejauh ini, layanan kami sudah tersedia di 43 kota, yang tentu dapat menjadi backbone pertumbuhan perseroan," tutur Irwan.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon