Survei LSI: Publik Semakin Khawatir Aksi Terorisme

Selasa, 31 Juli 2018 | 15:08 WIB
YS
YD
Penulis: Yuliantino Situmorang | Editor: YUD
paparan hasil survei LSI Denny JA tentang
paparan hasil survei LSI Denny JA tentang "Isu Terorisme dan Harapan Publik" di Jakarta, Selasa 31 Juli 2018. (BeritaSatu Photo/Yuliantino Situmorang)

Jakarta - Masyarakat Indonesia semakin khawatir dengan aksi terorisme. Hal itu karena aksi terorisme sudah berada dalam titik nadir.

"Terjadi evolusi terorisme yang baru. Dulu secara soliter, atau sendiri-sendiri, sekarang mulai melibatkan keluarga yakni istri, dan anak," ujar Ardian Sopa, peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA dalam paparan hasil survei "Isu Teroris dan Harapan Publik" di Jakarta, Selasa (31/7).

Survei ini dilakukan 28 Juni sampai 5 Juli 2018 melalui wawancara tatap muka menggunakan kuesioner. Survei lewat metode multistage random sampling dengan 1.200 responden di 34 provinsi dan margin of error sebesar plus minus 2,9 %.
Survei dilengkapi penelitian kualitatif melalui analisis media, FGD, dan wawancara pendalaman.

Ardian menjelaskan, hasil survei menunjukkan sebesar 82% publik berharap munculnya civil society yang powerful untuk menanggulangi isu terorisme. Publik yang menyatakan biasa saja 9,3% terhadap aksi terorisme.

"Nyaris tidak ada yang menyatakan semakin tidak khawatir," tambah dia.

Ia menambahkan, mayoritas pemilih partai politik khawatir dengan aksi terorisme. Kekhawatiran tertinggi ada di partai Perindo sebesar 94,1%, lalu PDIP 88,5%, Dan PPP sebesar 88,4%.

Ardian menambahkan, survei juga mengungkap bahwa publik ingin wacana-wacana yang dapat memecah belah bangsa karena isu agama, sebisa mungkin dihindari.

Mayoritas publik merasa khawatir terjadinya pembelahan masyarakat atas isu agama seperti kasus Pilkada DKI Jakarta 2017 yang akan terulang pada pilpres 2019. Sebanyak 64,2% masyarakat merasa khawatir, 15,8% tidak khawatir, sisanya tidak tahu atau tidak menjawab.

Ditambahkan, survei juga menyoal tentang lembaga pemerintahan mana yang paling dipercayai publik. Ternyata, kata Ardian, ada tiga teratas lembaga pemerintah yang dipercayai publik yaitu, TNI, KPK, dan Polisi. TNI di angka 90,4%, KPK di angka 89%, dan Polisi 87,8%.

"Dengan legitimasi sekuat itu, Polri dipercaya publik mampu menumpas terorisme hingga ke akarnya, akar sosial, ekonomi, dan ideologisnya," ujar Ardian.

Menurut Sopa, dari survei itu terlihat, publik berharap penumpasan terorisme hanya titik awal saja bagi terjaganya ruang publik Indonesia yang damai dan menjaga keberagaman.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon