Soal Aksi Bela Tauhid Besok, Rakyat Diingatkan Kesepakatan Muhammadiyah dan NU

Kamis, 1 November 2018 | 21:07 WIB
MS
WP
Penulis: Markus Junianto Sihaloho | Editor: WBP
Pengunjuk rasa mengikuti Aksi Bela Tauhid di depan Gedung Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, 26 Oktober 2018.
Pengunjuk rasa mengikuti Aksi Bela Tauhid di depan Gedung Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, 26 Oktober 2018. (Antara/Henri Silaban)

Jakarta - Wakil Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-KH Ma'ruf Amin, Raja Juli Antoni, meminta agar Aksi Bela Tauhid yang akan digelar Jumat (2/11), untuk menghormati kesepakatan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Antoni mengatakan, NU dan Muhammadiyah adalah dua organisasi kemasyarakatan (ormas) tertua di Indonesia, yang berdiri jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Keduanya sudah memiliki kontribusi luar biasa sejak zaman pergerakan hingga saat ini. "Kami berharap ini diingat, bahwa mainstream umat Islam di Indonesia kan memang NU dan Muhammadiyah," kata Raja Juli Antoni, di Jakarta, Kamis (1/11).

Sebelumnya, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) sepakat untuk menghentikan polemik terkait pembakaran bendera di Garut. Ketua Umum PB NU KH Said Agil Siroj mengatakan pihaknya menyerahkan penyelesaian kasus ke penegak hukum. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, polemik pembakaran bendera tak perlu diperpanjang. Jangan ada kapitalisasi persoalan ini, oleh pihak-pihak mana pun.

Antoni mengatakan, NU dan Muhammadiyah sudah jelas mengingatkan agar jangan sampai ada retakan dan gesekan baru di republik. "Menurut saya apa yang disampaikan oleh NU dan Muhammadiyah ini merupakan pengarah bagi umat yang bisa kita ikuti bersama-sama," kata Antoni.

Pada kesempatan itu, Antoni juga mempertanyakan kemurnian Aksi Bela Tauhid itu. "Jadi apakah benar aksi itu adalah Aksi Bela Tauhid itu murni? Kalau murni, maka tentu tidak akan ada ujaran kebencian, tidak akan ada teriakan menolak atau meminta turun presiden tertentu," kata Antoni.

Dia mengatakan, umat adalah orang yang cerdas untuk menentukan apakah aksi itu sebagai isu membela agama, atau sekedar taktik politik yang khas oleh kelompok tertentu menunggangi isu agama. "Saya kita umat akan membaca yang sebenarnya terjadi di aksi-aksi semacam ini," kata dia.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon