KPU Diminta Tak Lagi Berikan Kisi-Kisi dalam Debat Capres

Senin, 21 Januari 2019 | 12:00 WIB
RW
JS
Penulis: Robertus Wardi | Editor: JAS
Pengamat politik Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago
Pengamat politik Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago

Jakarta - Pengamat Politik Sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Reseach and Consulting Pangi Syarwi Chaniago meminta KPU agar tidak mengulangi kejadian debat perdana tanggal 17 Januari lalu yang memberikan kisi-kisi pertanyaan kepada para pasangan calon (paslon). KPU harus membuat debat yang spontan, tanpa kisi-kisi, dan obyektif.

‎"Debat Calon Presiden (Capres) putaran pertama adalah tontonan paling memalukan.‎ KPU sepertinya tidak punya malu dan beban moral memberikan tontonan yang tidak mendidik padahal hajatan ini memakan biaya yang tidak sedikit," kata Pangi di Jakarta, Senin (21/1).

Ia menilai ‎KPU lupa bahwa mereka adalah penyelenggara pemilu yang tidak melulu melayani dan mengakomodasi kepentingan peserta pemilu, kontestan. KPU harus mampu mengagregasi atau artikulasi kehendak publik sebagai pemilih yang punya hak untuk mendapatkan informasi yang cukup komprehensif melalui debat yang berkualitas.

Di sisi lain, KPU tidak selayaknya merendahkan diri di hadapan tim sukses yang terkesan sangat protektif terhadap jagoannya masing-masing. Sikap akomodasi pada akhirnya membuat KPU berpotensi melanggar aturan pemilu dengan mereduksi debat sebagai salah satu model kampanye.

Dia meminta KPU fokus saja pada teknis pemilu seperti kesiapan logistik dan penyelenggaraan pemilu sampai ke tingkat TPS. Untuk debat publik serahkan saja kepada ahlinya.

Banyak pihak dan lembaga kredibel yang bisa diajak kerja sama. Misalnya kampus, lembaga penyiaran publik (televisi dan radio), NGO bahkan organisasi mahasiswa-pun sanggup melaksanakan debat publik.

"Kita ingin debat pilpres kedua berselancar dengan narasi dan pikiran yang genuine. Publik harus tahu kedalaman isi kepala paslon 01 (Jokowi-Maruf Amin) dan 02 (Prabowo Subianto-Sandiaga Uno). Maka harus mampu menelanjangi isi kepala masing-masing paslon," jelas Pangi.

Dia berharap pada debat-debat berikutnya,‎ tidak ada lagi kisi-kisi dan hentikan bawa contekan atau tablet. Singkirkan meja podium debat dan tidak perlu diatur waktu pakai menit untuk berbicara. Biar saja mengalir dengan orasi menurut jalan pikiran liar Paslon.

"Host/moderator cukup membuka. Panelis langsung bertanya dengan pertanyaan yang punya daya kejut. Biarkan masing-masing Paslon berpetualang dengan otak dan pikirannya sendiri. Silakan saling memotong dan menyanggah, sehingga suasana menjadi hidup serta cair karena adanya interaksi antarkandidat," imbuhnya.

"Suporter enggak perlu hadir. Biarkan masing-masing Paslon adu narasi dan imaginasi, karena kita tidak sedang menilai jumlah tepuk tangan dan yel-yel yang paling ramai tetapi rakyat ingin tahu program Paslon," tutup Pangi.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon