Partai Modern Tak Bergantung Tokoh

Kamis, 24 Januari 2019 | 22:54 WIB
RW
WM
Penulis: Robertus Wardi | Editor: WM
Presiden kelima RI Megawati Sukarnoputri (kedua kiri) berfoto bersama Presiden Joko Widodo (kiri) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (kedua kanan) saat perayaan ulang tahunnya di Jakarta, Rabu 23 Januari 2019. Peringatan HUT ke-72 Megawati diisi dengan pertunjukan budaya serta peluncuran buku The Brave Lady - Megawati dalam catatan Kabinet Gotong Royong.
Presiden kelima RI Megawati Sukarnoputri (kedua kiri) berfoto bersama Presiden Joko Widodo (kiri) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (kedua kanan) saat perayaan ulang tahunnya di Jakarta, Rabu 23 Januari 2019. Peringatan HUT ke-72 Megawati diisi dengan pertunjukan budaya serta peluncuran buku The Brave Lady - Megawati dalam catatan Kabinet Gotong Royong. (Suara Pembaruan/Joanito De Saojoao.)

Jakarta - Pengamat politik, yang juga Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago‎ mengemukakan, ‎partai modern tidak bergantung pada figur tokoh sentral. Kondisi partai politik (parpol) di Indonesia saat ini, masih jauh dari harapan menjadi partai modern. Hal itu karena partai papan atas dan partai level tengah masih membutuhkan tokoh pemersatu dan sentral.

"Kita lihat di Nasdem ada Surya Paloh, Gerindra ada Prabowo, PAN ada Amin Rais, Demokrat ada SBY, kemudian PDIP ada Megawati Soekarnoputri," kata Pangi, di Jakarta, Kamis (24/1) malam.
‎‎

Ia berpandangan, publik tidak mungkin berharap pada aktor-aktor politik untuk menjalankan demokrasi secara substantif. Pasalnya mereka sendiri tidak mampu menjalankan demokrasi secara murni dalam organisasi atau partainya.

"Institusionalisasi (pelembagaan partai) sangat rendah. Padahal sisi itu sangat penting untuk mencerminkan pengelolaan partai yang moderen yang taat asas dan tunduk pada mekanisme internal yang sudah menjadi kesepakatan dan konsensus partai," tuturnya.

Dia berharap dinamika internal yang demokratis dalam sebuah partai perlu dijaga dan dirawat. Berjalannya proses demokrasi di internal partai politik (intraparty-democracy) menjadi salah satu indikator iklim demokratis di dalam negara.

"Praktik intraparty-democracy yang dijalankan secara serampangan tanpa kontrol yang bijak akan menyeret partai ke dalam konflik yang tidak berkesudahan," tegasnya.

Dia melihat sejauh ini baru Megawati yang cukup demokratis dalam menjalankan roda partai. Megawati berhasil menahkodai PDIP dengan baik. Buktinya, mau mendengar dan menyerap aspirasi suara akar rumput (grasroot) dan suara basis massa wong cilik.
‎"

Megawati sebagai tokoh sentral cukup mumpuni mempraktikkan intraparty-democracy.‎ Megawati cukup menikmati perbedaan dan dinamika di internal partai. Namun kalau keputusan sudah diambil maka harus tunduk pada aturan dan keputusan partai," katanya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon