Nyamuk Pembawa DBD Makin Resisten terhadap Fogging

Sabtu, 26 Januari 2019 | 17:10 WIB
VS
FB
Penulis: Vento Saudale | Editor: FMB
Prajurit TNI melakukan pengasapan (fogging) untuk mencegah mewabahnya nyamuk malaria dan demam berdarah di lokasi pengungsian korban gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Sabtu, 1 September 2018.
Prajurit TNI melakukan pengasapan (fogging) untuk mencegah mewabahnya nyamuk malaria dan demam berdarah di lokasi pengungsian korban gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Sabtu, 1 September 2018. (Istimewa/Asni Ovier)

Bogor – Salah satu cara membunuh nyamuk aedes aegypti sebagai penyebab demam berdarah (DBD) yakni melakukan pengasapan atau fogging. Padahal berdasarkan penelitian yang dilakukan Institut Pertanian Bogor (IPB), pengasapan bukanlah jawaban untuk penyebaran kasus DBD.

Hal itu disampaikan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor yang telah melakukan survei bersama IPB di wilayah Kota Bogor. Kadinkes Kota Bogor, Rubaeah memaparkan, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) malahan dinilai sebagai solusi mengantisipasi penyebaran DBD.

"Berdasarkan penelitian dari IPB ada beberapa wilayah di Kota Bogor yang sudah di-fogging (pengasapan), namun tak mempan juga untuk membunuh nyamuk aedes aegypti yang menyebabkan DBD," jelasnya, Jumat (25/1).

Dia memaparkan, di wilayah kelurahan di Kota Bogor ternyata nyamuknya sudah resisten terhadap obat antinyamuk yang ada. Artinya, lanjut dia, yang menyebabkan kenapa DBD selalu ada di wilayah Kota Bogor karena fogging bukan untuk mencegah DBD.

"Yang paling ampuh adalah PSN dengan 3M (Menguras, Menutup dan Mengubur) plus. Plusnya yaitu menggunakan obat antinyamuk setiap pagi sebelum kerja, memelihara ikan untuk membasmi jentiknya," terangnya.

Kenapa Kota Bogor selalu endemis. Pertama terkait perilaku, lingkungan yang kurang bersih dan sehat. Kedua resisten nyamuk terhadap obat-obat fogging karena banyaknya fogging yang berkeliaran bebas dan tidak sesuai dengan aturan. Hal ini yang selalu terjadi setiap saat karena banyaknya permintaan fogging.

"Semua Puskesmas di Kota Bogor sudah mempunyai alat pemeriksaan DBD secara cepat. Kami mohon dengan sangat kerja samanya tolong kalau ada fogger-fogger liar laporkan ke Dinkes. Kami akan memantau insektisida nya jenis apa dan takaran berapa supaya tidak terjadi resistensi nyamuk terhadap virus DBD," tuturnya.

Serentak
Dinas Kesehatan Kota Bogor mencatat kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) sepanjang Januari 2019 mengalami peningkatan dibanding periode yang sama tahun lalu. Tercatat, hingga 21 Januari 2019 telah terjadi 93 kasus DBD, sedangkan Januari 2018 hanya 41 kasus.

Melihat data itu, Wali Kota Bogor Bima Arya langsung memerintah OPD terkait untuk segera berkoordinasi membuat gerakan untuk mengantisipasi DBD. Bima tidak ingin kasus DBD di Kota Bogor grafiknya naik.

"Cara efektif mencegah DBD hanya dengan gerakan PSN yang dilakukan secara serentak di seluruh wilayah. Dijadwalkan PSN serentak akan dilaksanakan pada akhir pekan ini dengan melibatkan semua aparatur wilayah dan SKPD," ungkap Bima.

Dia menyebutkan, PSN tidak bisa hanya dilakukan sekali karena perkembangan jentik menjadi nyamuk dewasa hanya satu minggu. Jadi PSN harus dilakukan setiap minggu secara rutin, berkesinambungan dan serentak. Tidak bisa juga dilakukan wilayah per wilayah karena nyamuk akan terbang ke wilayah lain.

Pihaknya akan melakukan PSN serentak di bulan Januari, Februari dan Maret dengan dukungan dari Wali Kota Bogor agar PSN dilakukan di semua wilayah.

Dinkes Kota Bogor juga meminta Dinas Pendidikan (Disdik) untuk mengimbau pihak sekolah agar melakukan PSN secara serentak. Dia juga mengingatkan jika ada anggota keluarga yang mengalami panas tinggi kemudian diobati panasnya tidak segera turun maka disarankan dibawa ke sarana kesehatan terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut apakah demam berdarah atau bukan.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon