Suara Swing Voters Bergantung Tiga Debat Tersisa

Senin, 4 Maret 2019 | 10:33 WIB
RW
YD
Penulis: Robertus Wardi | Editor: YUD
Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) dan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kanan) berjabat tangan seusai mengikuti debat capres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu 17 Februari 2019.
Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) dan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kanan) berjabat tangan seusai mengikuti debat capres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu 17 Februari 2019. (SP/Joanito De Saojoao/SP/Joanito De Saojoao)

Jakarta, Beritasatu.com - Peneliti dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Adjie Alfaraby mengemukakan‎ umumnya para pemilih yang belum menentukan pilihan (undecided voters) adalah pemilih yang lebih menimbang aspek program, posisi Calon Presiden (Capres) terhadap sebuah isu, dibanding aspek personal dalam menentukan pilihannya. Mayoritas pemilih yang undecided voters adalah pemilih muslim di perkotaan, berpendidikan tinggi, dan sikap keagamaan yang moderat.

"Pemilih ini tidak terpengaruh lagi dengan citra personal masing-masing calon, karena umumnya mereka kritis terhadap kedua capres," kata Adjie di Jakarta, Senin (4/3).

Ia menjelaskan para pemilih ini juga tidak terlalu terpengaruh dengan isu identitas. Mereka masih menjaga jarak dengan petahana, karena evaluasi mereka terhadap kinerja petahana selama 5 tahun. Termasuk janji kampanye yang belum terlaksana. Namun mereka juga masih belum beralih ke penantang, karena sejauh ini penantang belum meyakinkan mereka bahwa ada alternatif rencana kebijakan yang lebih baik. Jika penantang gagal memberikan harapan dan proposal kebijakan yang lebih baik, mereka masih bisa kembali memilih petahana.

"Suara undecided ini akan sangat tergantung pada performa kedua kandidat menjelang hari H. termasuk performa di tiga debat selanjutnya. Mereka yang masih soft supporter masing-masing kandidat, memang masih berpotensi meninggalkan kandidat yang dipilih sekarang untuk memilih kandidat lainnya atau bahkan tidak memilih," jelas Adjie.

Dia menyebut salah satu faktor yang biasanya berpengaruh adalah jika ada blunder fatal yang dilakukan oleh kandidat yang dipilih saat ini. Blunder ini termasuk blunder personal atau blunder terhadap sebuah rencana kebijakan.

Bisa juga pengaruh faktor lainnya, misalnya jika kandidat lawan melakukan atau menampilkan sesuatu yang spektakuler dan tidak bisa diberikan oleh kandidat yang saat ini dipilihnya.

"Berita-berita bohong ataupun fitnah hanya berpengaruh ke pemilih militan masing-masing. Atau biasa disebut sebagai echo chamber. Jadi bergaung di kamar masing-masing. Fitnah terhadap Jokowi, akan makin menguatkan dukungan pemilih militan Jokowi dan sebaliknya menguatkan dukungan pemilih militan Prabowo," tutur Adjie.

Dia menambahkan‎ di sisa waktu 40 hari menjelang pencoblosan, kunci kemenangan kandidat adalah kampanye door to door. Terutama door to door mengajak pemilih masing-masing kandidat untuk nantinya datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Di Amerika seringkali disebut sebagai Get Out The Vote (mengajak pemilih datang ke TPS). "Inilah kunci kemenangan nanti. Siapa kandidat yang lebih mampu mengajak pemilihnya datang ke TPS dan meminimalisir pemilihnya untuk tidak golput, kandidat tersebut lebih punya potensi menang yang lebih besar," tutup Adjie.

Di tempat terpisah, peneliti dari lembaga survei Poltracking Indonesia Agung Baskoro mengemukakan untuk meraih simpati undecided voters, para capres harus lebih tajam dalam menjelaskan program yang diusung. Karena berbagai program yang ditawarkan sebagai basis utama undecided voters untuk memilih.

"Program-program yang disampaikan, idealnya didukung hal konkret atau inovasi kebijakan sehingga mereka bisa membayangkan apa yang bisa terealisasi setelah capres terpilih," jelas Agung.

Menurutnya, ‎karena strong voters masing-masing kubu sudah mengkristal, yang telah dimulai sejak pilpres 2014, kampanye udara dan dan darat tetap memberi pengaruh walaupun besarannya perlu diukur lewat survei kredibel. Begitu juga dengan dampak dari kampanye hitam yang dilakukan.

"Yang jelas, swing voters/undecided voters biasanya pemilih rasional, yang lebih mengedepankan substansi ketimbang hal-hal yang sifatnya teknis. Bila kampanye yang dilakukan kurang simpatik, justru akan menjadi bumerang bagi kubu capres manapun. Karena, pemilih akan bertanya-tanya dan meragukan kualitas serta integritas capres yg bersangkutan," tutup Agung.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon